BREBES, JATIBARANG,GarudaXpose.com– Pukul 19.30, saat toko-toko di Komplek Pasar Jatibarang mulai menutup pintu, satu titik di depan Pengadean justru menyala paling terang. Kepulan asap sate menari di bawah lampu warung tenda, berpadu dengan aroma arang dan bumbu kacang yang khas. Di situlah “Sate Ayam Kampung Pak Giri” berdiri, puluhan tahun tak berpindah, tak berubah rasa.
Warung ini lahir dari tangan Samsuri,Dulu hanya gerobak kayu, didorong tiap sore, menantang hujan dan debu pantura. Kini, di usia senja, Samsuri mulai menyerahkan kipas dan penjepit sate ke tangan Nok Ayu, lulusan SMK yang memilih Melayani Pelagan yang mampir di warung sate ayam kampung.
5 EKOR SAAT SEPI, 15 EKOR SAAT REZEKI DATANG
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jualan itu kayak napas, ada naik ada turun,” kata Samsuri, tangannya tak berhenti membolak-balik 20 tusuk sate,Rabu (24/6/2026). “Ramai bisa habis 10 sampai 15 ekor ayam kampung sehari. Sepi, 5 sampai 6 ekor. Yang penting ayamnya kampung asli.”
Bagi Samsuri, ayam kampung bukan pilihan, tapi harga mati. “Ayam negeri cepet hancur, rasa hambar. Ayam kampung, gurihnya sampai ke sumsum. Lidah pelanggan kami nggak bisa dibohongi.”
Pendampingnya juga tak main-main: sop ayam dan balungan. Kuah bening tapi rempahnya nendang sampai ke dahi. Dagingnya empuk, lepas sendiri dari tulang. Paket “wajib” di sini: seporsi sate 10 tusuk, semangkuk sop balungan, teh poci panas. Setelah itu, obrolan bisa sampai lupa bayar,
Asap tipis membingkai wajah Nok Ayu. Jilbabnya rapi, tangannya cekatan mengoles bumbu. Gadis yang baru beberapa bulan lalu wisuda SMK itu menolak tawaran kerja di pabrik dan minimarket.
Tapi Nok Ayu bukan sekadar pengganti. Ia hafal siapa yang langganan sate tanpa gajih, siapa yang selalu minta kuah sop tambah jeruk, siapa sopir ekspedisi yang mampir tiap Kamis malam. “Warung ini jadi kerasa muda lagi sejak ada Neng Ayu,” kata Alip,
Ibunya hanya bisa tersenyum bangga. “Anaknya hidungnya mancung, tapi yang lebih mancung itu hatinya. Telaten ngelayani orang,” bisiknya. Kalimat itu yang bikin Pak Alip, pelanggan setia, selalu mengulang godaannya.
Pak Alip, guru dari Brebes, datang dengan mobilnya . “Saya kenal warung ini sejak rambut saya belum ada putihnya. Puluhan tahun. Tiap dari selatan, wajib mampir. Kalau kelewat, tidur nggak nyenyak,” katanya.
Ia jadi saksi tiga zaman: dilayani Samsuri, sekarang Ayu. “Dulu saya bilang ke ibunya, ‘Bu, Ibu cantik kayak artis India’. Ibunya jawab sambil nyengir, ‘Anak saya yang mancung’. Lha bener, Neng Ayu memang manis. Tapi yang bikin betah itu ramahnya, bukan cuma cantiknya.”
Bagi Pak Alip, warung ini adalah “bengkel hati”. “Otak ruwet, badan capek, masuk sini pesan sop balungan, lihat anaknya senyum, denger Pak Samsuri cerita, semua beres. Ini bukan warung, ini obat.”
Selepas Isya, warung Pak Giri berubah jadi panggung. Truk-truk besar parkir berderet, lampu seinnya kelap-kelip. Pedagang pasar menutup lapak dengan semangkuk sop. Rombongan keluarga habis kondangan masih pakai batik. Anak muda nongkrong irit: satu porsi sate berdua, tapi tawanya paling kencang.
Di meja kayu yang sudah hitam oleh waktu, tak ada pangkat. Yang ada hanya rasa. “Kami jualan kepercayaan,” ujar Samsuri pelan. “Kalau rasa kami jaga, rezeki yang jagain kami.”
WARISAN YANG TAK TERTULIS DI AKTA
Samsuri sadar, ia tak bisa selamanya di depan panggangan. Tangannya mulai gemetar kalau malam makin dingin. Tapi ia tenang. Di tangannya Ayu, resep bumbu kacang tak diubah seujung kuku pun. Arang tetap dari kayu jati tua. Ayam tetap dari peternak kampung Jatibarang.
“Warisan saya bukan warung ini,” katanya sambil menatap bara. “Warisan saya itu pelanggan yang percaya. Ayu sudah pegang kuncinya.”
Malam kian larut. Ayu masih mengipas. Pak Alip masih mengaduk kuah sopnya. Sopir truk masih datang, pesan sate, lalu duduk menunggu dengan sabar.
Di depan Pengadean Jatibarang, obor itu menyala terus. Bukan karena arangnya besar, tapi karena ada tangan muda yang tak malu meneruskan bara. Dan selama senyum Ayu masih ada di balik panggangan, pertanyaan di kepala orang akan tetap sama: “Apa sih rahasianya, kok bikin orang rela antre?”
Jawabannya mungkin bukan di bumbu. Tapi di kejujuran, di ketulusan, dan di keberanian seorang lulusan SMK yang bilang: “Ijazah saya untuk Bapak.”
Pungkasnya, Sate Pak Giri bukan sekadar kuliner. Ia adalah cerita tentang Jatibarang, tentang Brebes, tentang Indonesia kecil yang bertahan karena rasa dan percaya.***
(Agus)









