BREBES,GarudaXpose.com//– Kebaikan hati Kusmiah, juru parkir lansia asal Desa Bojong, Jatibarang, Brebes, berbuah manis. Perempuan sederhana itu akan diberangkatkan umrah oleh Kliwon Alwawan, korban percobaan pencurian Rp3,6 miliar yang ia selamatkan.
Tangis haru pecah saat Kliwon bersama istri mendatangi rumah Kusmiah, Kamis (18/6/26) sore. Pertemuan yang disaksikan Kades Bojong Tasdik itu menjadi momen Kusmiah menerima kabar tak terduga: dirinya diajak ke Tanah Suci.
“Saya orang tidak punya, ini seperti mimpi. Tidak menyangka akan diajak umrah,” ujar Kusmiah sambil menyeka air mata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Masih Trauma, Sempat Hanya Beri Rp100 Ribu
Kliwon mengaku sengaja datang untuk berterima kasih langsung. Ia masih ingat betul detik-detik uang tunainya yang baru diambil dari bank nyaris dibawa kabur komplotan pecah kaca.
“Saat itu saya syok, panik, gemetar. Tidak bisa ngomong apa-apa,” kata Kliwon.
Ia pun meluruskan soal uang Rp100 ribu yang sempat diberikan ke Kusmiah. Menurutnya, saat itu ia masih terpukul sehingga tak sempat berpikir memberi lebih.
“Bukan berarti saya hanya ingin memberi Rp100 ribu. Saya dan keluarga merasa ditolong dengan sangat ikhlas. Bu Kusmiah tidak kenal kami, tapi berani ambil risiko demi membantu orang lain,” tegasnya.
12 Km Sehari demi Nafkahi Keluarga
Di balik kisah heroiknya, hidup Kusmiah jauh dari mewah. Sejak suaminya wafat beberapa tahun lalu, ia harus berjuang sendiri sebagai jukir di Jalan Ahmad Yani Brebes.
Setiap hari ia menempuh 12 km dari rumah ke tempat kerja. Tak jarang berjalan kaki dulu sebelum menumpang kendaraan yang lewat, termasuk ambulans yang melintas di jalur Brebes–Jatibarang. Meski usia senja, ia tetap bekerja menjaga parkir dan berjualan minuman demi menafkahi anak dan kebutuhan harian.
“Saya masih menafkahi anak saya. Makanya saya selalu berharap diberi kesehatan,” ucapnya.
Kebaikan Dibalas Kebaikan
Kliwon menuturkan, sehari setelah kejadian ia langsung meminta sang adik mencari alamat Kusmiah. Ia bertekad menemui perempuan yang tanpa pamrih berteriak meminta pertolongan warga saat melihat aksi kejahatan.
Bagi Kusmiah, keberaniannya waktu itu bukan karena mengharap imbalan. Ia hanya tak tega melihat orang lain jadi korban. Namun siapa sangka, teriakan itu justru mengubah jalan hidupnya.
Dari apresiasi kepolisian, dukungan masyarakat, hingga rencana umrah dari korban yang diselamatkannya. Di rumah sederhananya, air mata yang menetes bukan lagi karena sulitnya hidup, melainkan syukur.
Setelah puluhan tahun bekerja dalam keterbatasan, Kusmiah kini memendam harapan baru: suatu hari dapat berdiri di depan Ka’bah, menyaksikan langsung Baitullah yang selama ini hanya ia lihat di televisi.
“Insyaallah kalau diberi umur panjang dan kesehatan, saya ingin sekali sujud di sana. Terima kasih Pak Kliwon, ini nikmat yang luar biasa,” pungkasnya.***
(Agus)











