Oleh: H. Syahrir Nasution, SE., MM. dan Muhammad Taufik Umar Dani Harahap, SH.
Garudaxpose.com l Medan (Sumut)—
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tapanuli Bagian Selatan (TABAGSEL) saat ini berada di persimpangan sejarah yang sangat menentukan. Di satu sisi, kawasan ini dianugerahi kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, mulai dari emas, perak, panas bumi, hingga berbagai potensi mineral strategis lainnya. Namun di sisi lain, kualitas sumber daya manusia yang menjadi fondasi pembangunan jangka panjang masih menghadapi berbagai tantangan.
Pertanyaan mendasarnya sederhana namun sangat penting: apakah kekayaan alam tersebut akan menjadi berkah yang mengangkat kesejahteraan masyarakat, atau justru menjadi ironi sejarah ketika tambang habis dieksploitasi tetapi rakyat tetap tertinggal?
Saat ini terdapat sejumlah perusahaan besar yang beroperasi atau memiliki konsesi di wilayah Mandailing Natal dan sekitarnya. PT Sorikmas Mining memiliki wilayah konsesi sekitar 66.200 hektare.
PT Agincourt Resources mengelola wilayah operasi yang mencakup sebagian Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan dengan luas mencapai sekitar 130 ribu hektare. Selain itu, PT Sorik Marapi Geothermal Power mengembangkan potensi energi panas bumi di kawasan Gunung Sorik Marapi.
Data tersebut menunjukkan bahwa TABAGSEL bukan lagi kawasan pinggiran dalam peta investasi nasional. Sebaliknya, wilayah ini telah menjadi salah satu pusat eksploitasi sumber daya strategis di Sumatera Utara.
Namun, pengalaman banyak negara dan daerah kaya sumber daya alam menunjukkan bahwa kekayaan mineral tidak secara otomatis menghasilkan kemajuan sosial dan ekonomi. Dalam literatur ekonomi pembangunan, fenomena ini dikenal sebagai resource curse atau kutukan sumber daya alam. Banyak daerah memiliki cadangan mineral melimpah, tetapi gagal membangun pendidikan, teknologi, dan industri berbasis pengetahuan.
Ketika cadangan mineral habis, masyarakat setempat tidak memiliki kapasitas ekonomi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan. Yang tersisa hanyalah lubang-lubang tambang, kerusakan lingkungan, serta ketimpangan sosial yang semakin tajam.
Ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz, berulang kali mengingatkan bahwa negara atau daerah yang bergantung pada ekstraksi sumber daya alam harus menginvestasikan keuntungan yang diperoleh ke dalam pendidikan, riset, dan inovasi.
Pendidikan bukan sekadar sektor sosial, melainkan instrumen utama transformasi ekonomi. Negara-negara yang berhasil keluar dari ketergantungan sumber daya alam seperti Norwegia, Finlandia, dan Korea Selatan menjadikan universitas serta pusat riset sebagai pilar pembangunan nasional.
Dalam konteks TABAGSEL, kebutuhan paling mendesak bukan hanya pembangunan jalan raya, jembatan, atau kawasan industri. Yang jauh lebih strategis adalah kehadiran Universitas Sains dan Teknologi Negeri yang mampu mencetak insinyur pertambangan, ahli geologi, pakar lingkungan, spesialis energi terbarukan, ahli metalurgi, ilmuwan data, hingga technopreneur lokal.
Kehadiran universitas negeri berbasis sains dan teknologi akan menjadi mesin produksi pengetahuan yang mampu mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
Dari perspektif politik pembangunan, keberadaan universitas negeri juga memiliki makna yang lebih luas. Ilmuwan politik Samuel P. Huntington menjelaskan bahwa modernisasi tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pembangunan institusi yang kuat. Universitas merupakan salah satu institusi terpenting dalam membangun kapasitas masyarakat, memperkuat budaya demokrasi, dan melahirkan elite intelektual daerah yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Tanpa institusi pendidikan tinggi yang kuat, daerah akan terus bergantung pada tenaga ahli dari luar. Akibatnya, masyarakat lokal hanya menjadi penonton di tengah pemanfaatan kekayaan alam yang berasal dari tanah mereka sendiri.
Ironisnya, hingga saat ini TABAGSEL yang memiliki jumlah penduduk besar dan wilayah geografis yang luas belum memiliki universitas negeri berbasis sains dan teknologi yang secara khusus dirancang untuk menjawab kebutuhan industri masa depan. Banyak putra-putri terbaik daerah terpaksa merantau ke Medan, Padang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, bahkan ke luar negeri untuk memperoleh pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Sebagian memang kembali, tetapi tidak sedikit yang memilih menetap di daerah lain karena terbatasnya peluang di kampung halaman.
Padahal jika dihitung secara ekonomi, nilai sumber daya mineral yang terkandung di kawasan TABAGSEL mencapai puluhan bahkan ratusan triliun rupiah dalam jangka panjang. Sangat sulit diterima akal sehat apabila daerah yang menghasilkan kekayaan sebesar itu tidak mampu memiliki satu universitas negeri sains dan teknologi yang modern, lengkap dengan laboratorium riset, pusat inovasi mineral dan energi, serta kawasan teknologi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri.
Di sinilah negara perlu hadir dengan visi pembangunan yang melampaui siklus politik lima tahunan.
Lebih jauh lagi, universitas semacam itu dapat menjadi pusat pengembangan teknologi hilirisasi mineral, konservasi lingkungan, energi panas bumi, pertanian modern, kecerdasan buatan, dan ekonomi digital. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak berhenti pada aktivitas penggalian sumber daya alam semata, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri berbasis pengetahuan yang mampu menciptakan nilai tambah berkelanjutan.
Pada hakikatnya, nilai terbesar bukan berasal dari emas yang diangkat dari perut bumi, melainkan dari kecerdasan manusia yang lahir dari ruang-ruang kelas, laboratorium, dan pusat-pusat riset.
Pada akhirnya, perjuangan menghadirkan Universitas Sains dan Teknologi Negeri di TABAGSEL bukan sekadar proyek pendidikan. Ini adalah agenda strategis peradaban. Tambang emas suatu saat akan habis. Cadangan mineral suatu saat akan menurun. Namun ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Jika hari ini negara, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat gagal membangun fondasi pendidikan tinggi yang kuat, sejarah mungkin akan mencatat bahwa ketika emas TABAGSEL diangkut keluar daerah, masa depan anak-anak TABAGSEL justru tertinggal di kampung halamannya sendiri.
Sebaliknya, jika Universitas Sains dan Teknologi Negeri segera diwujudkan, maka kekayaan alam yang tersedia hari ini dapat menjadi modal untuk melahirkan generasi ilmuwan, insinyur, inovator, dan pemimpin masa depan yang akan membawa TABAGSEL menuju kemajuan yang berkelanjutan, mandiri, dan berkeadilan.
Karena sesungguhnya, masa depan TABAGSEL tidak ditentukan oleh seberapa banyak emas yang tersimpan di perut bumi, tetapi oleh seberapa besar investasi yang diberikan kepada kecerdasan manusia yang hidup di atasnya.
(M.SN)










