Photo Doc Pembokaran Warung Aceh: Agus
BREBES,GarudaXpose.com//–Aksi ratusan warga berakhir dengan perobohan warung yang diduga menjadi lokasi transaksi obat keras Tramadol dan Eximer di Desa Kertabesuki, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.
Ratusan warga melakukan penggerebekan dan merobohkan bangunan semipermanen yang dikenal warga sebagai “Warung Aceh”. Warung tersebut diduga kuat menjadi tempat transaksi obat keras golongan G jenis Tramadol dan Eximer tanpa izin edar resmi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi dilakukan oleh ratusan warga Desa Kertabesuki, Kecamatan Wanasari. Sasaran pembongkaran adalah sebuah warung di kawasan Jalan Lingkar Utara (Jalingkut), sebelah barat Jembatan Pemali. Dugaan warga mengarah pada pemilik warung, namun identitasnya belum diungkap aparat.

Peristiwa terjadi pada Sabtu malam, 30 Mei 2026, sekitar pukul 20.30 WIB. Rekaman video amatir aksi tersebut viral di media sosial pada malam yang sama, salah satunya melalui unggahan akun Instagram @updatebrebes_.
Lokasi kejadian di Jalan Lingkar Utara (Jalingkut), tepatnya di sebelah barat Jembatan Pemali, Desa Kertabesuki, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Warga mengaku kecewa karena laporan terkait dugaan peredaran obat keras di warung tersebut sudah disampaikan berulang kali kepada aparat kepolisian, namun dinilai tidak ada tindakan tegas. Warga menyebut aktivitas transaksi menyasar kalangan remaja sehingga dikhawatirkan merusak moral generasi muda dan memicu keresahan sosial.
Awalnya, puluhan warga mendatangi warung untuk memastikan dugaan tersebut. Setelah cekcok dengan penjaga warung, jumlah massa semakin banyak hingga mencapai ratusan orang. Emosi warga tersulut ketika menemukan sejumlah barang bukti berupa paket obat yang diduga Tramadol dan Eximer.
Dalam video yang beredar, massa tampak bahu-membahu merobohkan dinding dan atap bangunan menggunakan balok kayu, linggis, dan alat seadanya hingga rata dengan tanah. Proses pembongkaran berlangsung sekitar 45 menit dan disaksikan warga sekitar.
“Warung ini sudah dilaporkan beberapa kali, tapi tidak ada tindakan sama sekali dari aparat kepolisian. Karena itu, warga turun tangan sendiri. Ini demi anak-anak kami,” ujar salah satu warga yang ikut aksi, Sabtu malam.
Aksi massa baru berhenti setelah perwakilan pemerintah desa dan tokoh masyarakat datang ke lokasi untuk menenangkan warga. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Puncak Kejadian
Puncak ketegangan terjadi saat massa berhasil masuk ke dalam warung dan menemukan tumpukan obat keras dalam kemasan strip tanpa izin edar. Temuan itu langsung dibakar warga di lokasi sebagai simbol penolakan. Setelahnya, bangunan diratakan. Situasi kembali kondusif menjelang tengah malam setelah warga membubarkan diri dengan tertib atas imbauan tokoh desa.
Aksi tersebut memicu diskusi luas di media sosial. Mayoritas warganet mendukung langkah warga namun menyoroti lambannya penegakan hukum dan bahaya main hakim sendiri. Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian setempat belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan peredaran obat maupun aksi perobohan tersebut.
Kapolsek Wanasari yang dihubungi melalui pesan singkat belum merespons. Sementara Camat Wanasari menyatakan akan segera menggelar pertemuan antara warga, aparat desa, dan kepolisian untuk mencegah konflik susulan.***
(Agus)











