BANYUWANGI – Kekecewaan warga Desa Seneporejo dan wilayah terdampak memuncak setelah pihak PTPN diduga tidak menghadiri rapat mediasi yang digelar di SD Negeri 5 Seneporejo. Padahal, pertemuan tersebut dinilai penting untuk mencari solusi atas kerusakan jalan yang selama ini diduga akibat aktivitas armada pengangkut tebu.

Rapat yang dihadiri warga, tokoh masyarakat, serta sejumlah pihak terkait itu justru berlangsung tanpa kehadiran perwakilan PTPN. Kondisi tersebut memicu kemarahan masyarakat yang merasa aspirasi mereka kembali diabaikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam aksi yang berlangsung, warga membentangkan spanduk bertuliskan penutupan jalan khusus armada angkutan tebu sampai tuntutan masyarakat dipenuhi. Mereka menilai kerusakan jalan sudah berlangsung lama, membahayakan pengguna jalan, menimbulkan debu saat kemarau dan licin ketika hujan.
“Kalau memang serius mencari solusi, kenapa tidak hadir? Ini menyangkut kepentingan masyarakat banyak, bukan hanya perusahaan,” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.
Warga juga mempertanyakan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap dampak yang ditimbulkan dari lalu lalang kendaraan bermuatan berat. Menurut mereka, selama ini masyarakat hanya menerima janji tanpa realisasi yang jelas.
Aksi penutupan jalan khusus armada tebu disebut sebagai bentuk protes dan peringatan keras kepada pihak perusahaan maupun pemerintah agar tidak tutup mata terhadap penderitaan warga.
Tak sedikit warga yang menilai ketidakhadiran pihak PTPN dalam rapat tersebut sebagai bentuk tidak menghargai masyarakat. Bahkan muncul anggapan bahwa keluhan warga selama ini dianggap sepele meski kondisi jalan terus rusak dan aktivitas masyarakat terganggu.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan dan bersikap tegas. Warga menegaskan, apabila tuntutan perbaikan jalan dan kejelasan tanggung jawab tidak segera dipenuhi, aksi serupa dengan massa yang lebih besar berpotensi kembali terjadi.











