BLORA,GarudaXpose.com//-Denting timbo seng beradu dengan tembang Jawa pelan memecah pagi di Dukuh Pohgesik, Desa Tawangrejo, Tunjungan, Jum’at Pon,1 Mei 2026.
Hari itu, dukuh kecil di barat Blora kembali menggelar napas leluhur: Tasyakuran Sedekah Bumi atau Gas Deso. Sebuah ritual bersih desa yang diwariskan sejak sebelum listrik masuk kampung, dilestarikan setiap bulan Selo, selepas padi menguning dan lumbung terisi. Tahun ini bertepatan dengan 14 Dzulqaidah 1447 H.
Sumur 10 Meter: Saksi Bisu, Sumber Hidup
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jantung Gas Deso ada di utara dukuh. Sebuah sendang berupa sumur tua berlapis beton, dalamnya 10 meter. Bagi warga Pohgesik, sumur ini bukan sekadar lubang berisi air.Ia adalah puser kampung,tempat pertama bayi dimandikan, tempat terakhir orang tua menaruh harapan.

Yang membuat siapa pun terdiam: airnya bening, dingin seperti es, dan bisa langsung ditenggak tanpa dimasak. “Dari zaman simbah, kami ngombe dari sini. Adem, nyess, weteng ayem,” tutur pasno (kempes) ,55 tahun, sambil menarik timbo seng yang legam oleh waktu. Bagi mereka, air bukan komoditas. Air adalah restu.
Karena itu, doa keselamatan harus dilantunkan tepat di bibir sumur. Sebab di sanalah hidup bermula, di sanalah syukur dikembalikan.
Tumpeng, Ingkung, dan Air Mata Syukur
Pukul 08.00 WIB, dukuh bergerak. Ibu-ibu melangkah pelan menjunjung tenggok berisi tumpeng. Bapak-bapak memanggul ingkung ayam kampung panggang yang kulitnya keemasan. Anak-anak menggandeng tangan simbahnya. Aroma ingkung, kemenyan, dan tanah basah bercampur jadi satu: wangi syukur.
“Tahun ini Gusti marengi.Wereng minggat, tikus nggak ngamuk. Gabah kami wutuh,” ucap Damianto, Modin sekaligus Ketua Panitia, matanya berkaca. “Ini cara kami sujud syukur. Matur nuwun pada Gusti, pada sing mbaurekso desa.”
Tepat pukul 10.00 WIB, sesepuh memulai doa. Bahasa Jawa halus menggema, meminta yang sederhana tapi hakiki: desa aman, warga ayem, sawah ijo, anak putu waras, rezeki kathah. Sebelum azan Jumat, kenduri selesai. Sebab Gas Deso mengajarkan: syukur tak boleh menunda ibadah.
Filosofi yang Diwariskan: Sehat, Seger, Waras
Tiga kata itu yang selalu diulang warga Pohgesik. Sehat badannya, seger pikirannya, waras lakunya. Mereka percaya, kalau desa dibersihkan, hati ikut dibersihkan. Kalau hati bersih, hama pun segan datang.
“Musim kemarin, tetangga desa banyak yang puso. Pohgesik slamet. Kami yakin, ini berkahnya nyawiji lewat Gas Deso,” Damianto menambahkan.
Di Pohgesik, tradisi bukan tontonan. Tradisi adalah cara bertahan hidup.
Kebo Marcoet Gugur: Saat Panggung Jadi Cermin Kampung
Bakda Jumat, dukuh berubah Pohgesik. Layar ketoprak Wahyu Perso Budaya dari Sukorejo digelar. Lakon Kebo Marcoet Gugur dipentaskan. Kisah tentang prajurit yang gugur membela tanahnya, dipilih bukan tanpa alasan.
“Kebo Marcoet itu kita. Kita yang ngopeni sawah, njaga sumur, nguri-uri adat. Kalau bukan kita, siapa lagi?” kata Suparso, pimpinan ketoprak.
Anak-anak lesehan di tanah, simbah-simbah mengunyah kinang, remaja merekam untuk story. Tawa pecah di adegan dagelan, hening saat gong kematian ditabuh. Satu panggung, semua umur, semua rasa. “Setahun pisan kumpul koyo ngene. Ati mongkog,” bisik parti, 50 tahun, sambil menyeka mata.
Yang Bertahan Saat Semua Berubah
Di zaman semua serba cepat, Pohgesik memilih pelan. Di saat banyak kampung malu dengan adatnya, Pohgesik justru ngundang orang untuk datang. Gas Deso adalah bukti: modernisasi tidak harus mencabut akar.
Kepala Desa Tawangrejo,Parjana,S.Pd yang hadir tak bisa menyembunyikan haru. “Ini bukan sekadar acara. Ini sekolah. Sekolah tentang syukur, tentang gotong royong, tentang cinta tanah. Kalau ini punah, kita kehilangan kompas,” ucapnya.
Pungkasan: Doa yang Akan Terus Mengalir
Petang merayap. Gamelan berhenti. kembali jadi tempat anak bermain. Tapi sumur tua 10 meter itu tetap di sana. Airnya tetap dingin, tetap mengalir, tak pernah minta pamrih.
Di Pohgesik, Gas Deso mengajarkan satu hal: manusia boleh menanam, boleh memanen, tapi yang menumbuhkan tetap Gusti Allah. Manusia boleh punya teknologi, tapi yang menjaga tetap doa bersama.
Selama air di sumur itu belum kering, selama tumpeng masih dijunjung, selama ingkung masih dipanggang dengan keikhlasan, maka Pohgesik tidak akan kehilangan arah. Sebab dari bibir sumur tua itulah, doa-doa untuk tanah kelahiran diucapkan. Lirih, tapi tak pernah putus.
Dan selama doa itu ada, kampung ini akan selalu sehat, seger, waras. Selamanya.red**
(Gus/sumber Damianto)










