Garudaxpose.com | Kabupaten Tangerang – Di tengah berbagai program bantuan sosial dan pembangunan yang digembar-gemborkan pemerintah daerah, kondisi mengenaskan justru masih dialami warga rentan. Salah satunya Nenek Ucum, lansia yang hidup sebatang kara di Kampung Pos RT 005/003, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja.
Rumah yang ditempatinya jauh dari kata layak huni. Bangunan rapuh, nyaris roboh, dan membahayakan keselamatan penghuninya setiap saat. Ironisnya, kondisi ini bukan hal baru namun hingga kini belum juga ada tindakan nyata.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, pemerintah desa sebenarnya telah mengetahui kondisi tersebut. Bahkan, menurut pengakuan Nenek Ucum, aparat Desa Sentul sudah dua kali datang meninjau langsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Katanya habis Lebaran mau dibangun. Tapi sampai sekarang belum ada apa-apa,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa janji yang sudah disampaikan langsung kepada warga justru tak kunjung direalisasikan?
Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Sentul menyatakan bahwa rumah Nenek Ucum telah masuk dalam daftar program renovasi tahun ini bersama 23 unit lainnya.
Namun, tidak ada kejelasan kapan realisasi akan dilakukan, sementara kondisi rumah terus memburuk dari hari ke hari.
Situasi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara perencanaan di atas kertas dan pelaksanaan di lapangan.
Lebih jauh, sikap pemerintah kecamatan juga menjadi sorotan. Camat Balaraja tidak memberikan respons sama sekali saat dimintai konfirmasi, meskipun pesan yang dikirim telah terbaca. Sikap diam ini menambah kesan lemahnya kepekaan terhadap kondisi warga yang membutuhkan perhatian mendesak.
Di sisi lain, Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, memberikan respons cepat setelah menerima laporan. Ia menyatakan bahwa informasi tersebut akan segera ditindaklanjuti dan meminta detail lokasi.
Namun demikian, respons tersebut kini menjadi ujian: apakah akan berujung pada tindakan nyata, atau kembali menjadi janji administratif semata?
Kasus Nenek Ucum bukan sekadar cerita kemiskinan, tetapi cerminan persoalan yang lebih luas tentang lambannya birokrasi, kurangnya pengawasan, dan tidak meratanya distribusi bantuan sosial.
Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka program bantuan rumah layak huni hanya akan menjadi angka statistik tanpa dampak nyata bagi mereka yang paling membutuhkan
Hingga berita ini diturunkan, Nenek Ucum masih bertahan di rumah yang sewaktu-waktu bisa roboh, menunggu janji yang tak kunjung pasti.
(Sp)














