Saat Hidup Menumpang di Rumah Kematian, La Ode Pulangkan! Abdul Latief ke Pangkuan Kehidupan

- Penulis

Jumat, 17 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BREBES,GarudaXpose.com//-Di antara nisan-nisan yang membisu dan tanah yang menyimpan rahasia ajal, sebuah gubuk reyot berdiri melawan waktu. Kayunya lapuk, dindingnya dari anyaman bambu yang menganga, dan atapnya setia meneteskan hujan ke dalam. Di sanalah Abdul Latief, warga Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Brebes, menyandarkan sisa hidupnya.

Langitnya adalah seng berkarat yang bocor. Lantainya adalah tanah pemakaman umum yang lembab oleh embun dan air mata. Tetangganya adalah keheningan para penghuni makam, yang tak pernah mengeluh, tak pernah mengusir, hanya setia menemani sepi.

Bertahun-tahun Abdul Latief hidup dalam pelukan ironi: ia yang masih bernyawa justru berteduh di rumah kematian. Ia makan di antara gundukan tanah, tidur di samping batu nisan, dan terjaga oleh suara jangkrik yang menggantikan obrolan manusia. Ketika hujan turun, ia tak punya pilihan selain meringkuk, membiarkan air menitik di keningnya seperti wudhu yang tak pernah diminta. Kemiskinan telah mengusirnya dari perkampungan yang hidup, dan melemparnya ke perkampungan yang mati.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia bukan tak mau pergi. Tapi ke mana kaki harus melangkah jika tak ada tanah sejengkal pun yang bisa disebut rumah? Ia bukan tak mau bicara. Tapi kepada siapa suara harus dititipkan jika semua telinga sibuk dengan urusannya sendiri?

Kabar getir itu akhirnya merobek sunyi dan mengetuk pintu negara. Begitu jerit senyap Abdul Latief merebak ke ruang publik, La Ode Vindar Aris Nugroho, AP., M.Si, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Dinperwaskim) Kabupaten Brebes, bergerak tanpa jeda.

“Negara tidak boleh absen di hadapan derita rakyatnya. Jika rakyat sampai berteduh di makam, itu tamparan bagi kita semua,” tegas La Ode, Jumat 17 April 2026. Kalimatnya singkat, namun menghunjam seperti palu di atas landasan.

Tanpa menunggu esok, tanpa rapat bertele-tele, ia bersama Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) menyusuri jalan tanah yang becek menuju pemakaman umum Desa Limbangan. Langkah mereka bukan sekadar kunjungan dinas. Ini ziarah kemanusiaan. Ini napak tilas untuk memastikan bahwa sila kelima Pancasila tak sekadar jadi hiasan dinding di ruang rapat.

Di lokasi, mata mereka menatap langsung potret ketimpangan yang telanjang. Gubuk itu tak layak disebut rumah. Lebih pantas disebut sisa-sisa harapan yang dipaku seadanya. Dindingnya tak sanggup menahan angin, lantainya menyerap dingin tanah kubur, dan perabotnya hanya tikar lusuh serta panci hitam legam. Satu-satunya barang yang tampak baru adalah sarung yang ia jemur di atas batu nisan. Itu pun pemberian orang yang lewat.

TFL mencatat setiap luka bangunan: struktur rapuh yang bisa ambruk kapan saja, sanitasi nihil, akses air bersih tiada, dan kerentanan terhadap penyakit yang mengintai dari tanah lembab. “Ini bukan sekadar rumah tak layak huni. Ini alarm darurat kemanusiaan,” ujar La Ode, suaranya tajam menembus sunyi pemakaman. “Ini soal martabat manusia yang hidup berdampingan dengan kematian, karena negara terlalu lama datang.”

Abdul Latief sendiri menyambut kedatangan rombongan Dinperwaskim dengan senyum yang getir. Tangannya gemetar saat bersalaman, bukan karena tua, tapi karena tak percaya bahwa masih ada yang peduli. “Saya cuma ingin kalau mati, jangan di sini, Pak. Kasihan yang ziarah, nanti dikira saya nungguin mereka,” ucapnya lirih. Kalimat itu, lebih dari data mana pun, meruntuhkan pertahanan hati siapa saja yang mendengarnya.

Menurut La Ode, verifikasi di lapangan adalah bab pertama dari sebuah ikhtiar panjang. Bab selanjutnya adalah memastikan Abdul Latief tak lagi sendiri menghadap nasib. “Kami akan mengurai benang kusut birokrasi. Data akan kami sinkronkan dengan DTKS, usulan akan kami kawal ke program BSPS atau skema penanganan khusus kedaruratan,” jelasnya.

Ia tak menjanjikan langit, tapi ia menjanjikan langkah. Mulai dari pendampingan administrasi kependudukan, asesmen teknis lahan relokasi bersama pemerintah desa, hingga koordinasi dengan Baznas daerah untuk intervensi cepat sembari menunggu bantuan permanen turun. “Yang paling mendesak adalah memastikan Pak Latief malam ini bisa tidur tanpa takut atapnya roboh atau hujan merembes ke tikarnya,” tambah salah satu TFL di lokasi sambil mengecek tiang bambu yang sudah miring.

Di Limbangan hari itu, negara hadir bukan dengan retorika, melainkan dengan sepatu yang berlumpur, buku catatan yang terbuka, dan meteran yang mengukur kelayakan. Negara hadir dengan langkah kaki yang menapak tanah kuburan, meninjau gubuk, dan menjemput kembali asa yang nyaris mati.

Kasus Abdul Latief adalah cermin. Ia memantulkan wajah kemiskinan ekstrem yang masih bersemayam di sudut-sudut republik, tersembunyi di balik data dan laporan. Ia juga menjadi ujian: seberapa cepat negara bisa berlari ketika warganya terjatuh, seberapa peka telinga penguasa ketika rakyatnya berbisik dalam sepi.

Sore itu, ketika rombongan Dinperwaskim berpamitan, Abdul Latief berdiri di pintu gubuknya yang tak berdaun pintu. Ia melambaikan tangan ke arah nisan-nisan di sekitarnya, seolah berpamitan kepada tetangga yang selama ini menemaninya. Mungkin ia berharap, itulah lambaian terakhirnya sebagai penghuni pemakaman.

Pungkasnya, gubuk di pusara sunyi itu kini telah dilihat. Dan ketika negara telah melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, dan merasakan dengan hati, maka ia tak boleh lagi memejamkan mata. Sebab setiap hari menunda adalah sehari pula Abdul Latief menitipkan nyawanya di rumah kematian.

Biarlah kuburan kembali sunyi sebagaimana mestinya. Tanpa ada yang hidup menumpang di dalamnya. Karena hidup, betapapun perihnya, harus pulang ke pangkuan kehidupan. Bukan ke pangkuan kematian.red*

(Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jalan Nasional Banyuwangi – Jember, Sepeda Motor Tabrak Truk Tangki di Selatan RS Fatimah
Wondr Kemala Run 2026 Sukses Angkat Sport Tourism Bali
ASN Dituntut Adaptif, Pesan Tegas Wabup Mujiono di Hari Kesadaran Nasional
HUT 242 Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi Meriah, Ipuk Tekankan Pentingnya Toleransi
Semarak Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-92 Gerakan Pemuda Ansor, Pimpinan Cabang Pemuda Ansor Kota Probolinggo
Polemik JDEYO Billiard: Klaim Izin Kantongi Legalitas, Namun Dokumen Fisik Tak Mampu Ditunjukkan
Ketua Umum BAI Se-Indonesia Gelar Pertemuan di Banten, Perkuat Konsolidasi Organisasi Admin
Pelayanan Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor Samsat Lumajang menunjukkan tren positif.

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 10:06 WIB

Jalan Nasional Banyuwangi – Jember, Sepeda Motor Tabrak Truk Tangki di Selatan RS Fatimah

Minggu, 19 April 2026 - 09:59 WIB

Wondr Kemala Run 2026 Sukses Angkat Sport Tourism Bali

Sabtu, 18 April 2026 - 16:42 WIB

ASN Dituntut Adaptif, Pesan Tegas Wabup Mujiono di Hari Kesadaran Nasional

Sabtu, 18 April 2026 - 16:39 WIB

HUT 242 Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi Meriah, Ipuk Tekankan Pentingnya Toleransi

Sabtu, 18 April 2026 - 14:51 WIB

Semarak Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-92 Gerakan Pemuda Ansor, Pimpinan Cabang Pemuda Ansor Kota Probolinggo

Berita Terbaru

Bali

Wondr Kemala Run 2026 Sukses Angkat Sport Tourism Bali

Minggu, 19 Apr 2026 - 09:59 WIB