“Murnaeni,SE! Merenda Tanggul: Ketika Semen Menjadi Sajak Kepedulian di Bibir Babakan yang Luka”

- Penulis

Minggu, 12 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BREBES,GarudaXpose.com //-Longsor bukan sekadar tanah yang rebah. Ia adalah tamparan sunyi dari alam, yang menguji nadi kepedulian manusia. Di Dusun Cibogo, Desa Cikeusal Kidul, Kecamatan Ketanggungan, tamparan itu dijawab bukan dengan ratap, melainkan dengan sekop, peluh, dan sak-sak semen yang menjelma harapan.Minggu,12 maret 2026

Mentari belum genap setinggi galah, namun bantaran Sungai Babakan telah berdenyut. Titik yang pernah dikoyak amuk banjir itu kini menjadi kanvas gotong royong. Tak ada genderang upacara, tak ada barisan berseragam. Yang terdengar hanya musik paling jujur: denting sekop beradu batu, desir adukan pasir-semen, dan sahut aba-aba di lereng yang masih berembun basah.

Dari Retak Menjadi RekatLuka di tubuh sungai itu dijahit kembali oleh tangan-tangan yang tak kenal lelah. Ada yang menanggung kayu penahan, ada yang menakar adukan, ada pula yang menyuguhkan kopi pahit dan singkong hangat pengganjal lapar agar semangat tak patah. Semua peran melebur, mengalir ke satu muara tekad: tanggul harus tegak sebelum awan kembali menggugurkan duka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di antara barisan rakyat yang berdebu itu, hadir sebuah langkah yang menjejak tanah, bukan sekadar menjejak kertas. Ibu Murnaeni, SE, anggota DPRD Brebes Dapil IV dari Fraksi Gerindra, mewakili DPC Gerindra Brebes, mengantarkan bukan wacana, melainkan material. Semen. Benda mati yang sore itu juga dihidupkan: diaduk, dituang, dan menjelma dinding penahan.

Srikandi asal Banjarharjo itu tak asing bagi tanah Dapil IV, yang memeluk Banjarharjo dan Ketanggungan. Warga mengenalnya sebagai telinga yang tak tuli, kaki yang tak enggan berlepot lumpur. Hari ini, julukan “merakyat” itu bukan lagi slogan. Ia menjelma nyata: mencatat kebutuhan susulan, memastikan pondasi tak kehausan bahan, sementara telapaknya sendiri tak gentar menyentuh kasarnya sak semen.

Politik yang Turun ke Tanah, Bukan Mengawang di Awan
Ketika tebing rebah oleh banjir, Murnaeni menjawab dengan bahasa paling purba: tindakan. Di atas lembar koran mungkin ia hanya satu paragraf. Tapi di mata warga Cibogo yang tiap hujan berjaga di ambang cemas, semen hari itu adalah selimut paling hangat janji bahwa malam esok bisa dilewati dengan mata terpejam.

Simfoni Cangkul Tanpa Sekat
Kerja bakti mengalir seperti aliran Babakan sendiri: tak peduli warna baju. Pengurus Ranting Desa Cikeusal Kidul berseragam putih mengaduk pasir. Di sampingnya, pengurus PAC Gerindra Banjarharjo berkaus putih Gerindra mengusung batu kali. Struktur boleh beda, tujuan hanya satu: benteng berdiri sebelum langit kembali menitikkan air mata.

Bahkan anak-anak muda ikut mengisi karung, dan dari dapur darurat di tepi sungai, ibu-ibu meracik logistik. Inilah demokrasi paling telanjang: semua tangan sama derajatnya di hadapan sungai yang mengancam.

Ketika Aduan Menjelma Adukan
“Kalau belum menginjak tanahnya, tidur takkan tenang,” begitu warga menirukan ucapan Murnaeni saat survei pertama. Aduan tentang tebing yang rawan itu tak berhenti di meja. Ia turun, menjelma adukan. Dari keluhan menjadi campuran semen, pasir, dan air yang mengeras menjadi keteguhan.

Metafora di Setiap Sak
Bantuan ini tak bisa ditakar dari jumlah sak. Ini tentang negara yang menampakkan wajahnya lewat wakilnya. Tentang partai politik yang membuktikan bahwa ia berakar, bukan melayang. Saat tebing longsor, kepercayaan publik pun ikut terancam longsor. Semen dari Gerindra hari itu sedang merekat dua hal sekaligus: merekat batu dengan pasir, dan merekat wakil dengan yang diwakili.

Perjuangan belum usai. Warga menargetkan titik paling genting rampung pekan ini, agar Babakan tak lagi menelan halaman rumah. Murnaeni mengawal babak berikutnya: bronjong batu, penahan lereng permanen, bila diperlukan. “Yang penting dimulai, jangan menunggu sempurna baru bergerak,” ucapnya lirih, sembari menggeser sak semen ke titik adukan.

Dapil IV Bukan Garis di Peta
Banjarharjo dan Ketanggungan bukan sekadar arsiran pada peta dapil. Bagi Murnaeni, ia adalah beranda rumah yang wajib dijaga. Usai tebing ini tegak, daftar pekerjaan masih panjang: normalisasi titik rawan lain, pemulihan jalan logistik, pendataan keluarga terdampak. Satu demi satu, tak serentak, tapi pasti.

Di tepi tanggul, anak-anak sekolah menonton, sesekali mengoper batu-batu kecil. Bagi mereka, ini pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang tak tertulis di buku: sungai dijaga dengan kerja, bukan dengan pidato. Wakil rakyat ditakar dari bekas semen di telapak tangan, bukan dari ukuran baliho.

Epilog: Luapan yang Menyelamatkan
Masyarakat Dusun Cibogo tak menunggu. Mereka bergerak. Dan ketika wakil rakyat ikut mengangkat batu, maka kata “merakyat” menemukan daging dan darahnya: berdebu, basah oleh keringat, namun tegak bersama.

Sungai Babakan boleh pernah meluap dan merobohkan. Tapi Minggu ini, yang meluap adalah solidaritas. Dari luapan itulah tembok baru tumbuh tembok penahan banjir, sekaligus tembok penahan sikap apatis.

Tanggul ini mungkin belum sempurna. Namun ia sudah berdiri, selapis demi selapis, dari adukan swadaya dan semen kepedulian. Jika politik adalah seni melayani, maka hari ini Ibu Murnaeni, SE dan warga Cibogo baru saja menggelar pameran karya terbaiknya: sebuah tanggul yang dibangun bukan untuk pencitraan, melainkan untuk perlindungan. (red*)

(Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ny. Putri Koster Minta Peran Posyandu Jadi Pusat Pelayanan Masyarakatat
Wujudkan Lingkungan Sehat, CSR PT Mayora Gelar Normalisasi Sungai 1 Km di Desa Gembong
Dua Kali Seminggu Cuci Darah, Nasib Siti Junita Akhirnya Jadi Perhatian Pemkab Tangerang
Gelar Apel Gabungan, Polresta Tangerang Siaga Hadapi Erupsi Gunung Anak Krakatau
Masyarakat Kp Bojongloa Cisoka Lelah Liat Pengukuran, Jalan Tetap Tak Ada Perbaikan, Bupati Tangerang Minta Tinjau
Jalan Rusak Di Kp Cipari Cisoka Sudah kami Sampaikan Pada Bupati Dan Wakil Bupati Tangerang Dan sudah Terbalaskan, Ini Kata Wahyu Nugraha Sekretaris DPD Partai Golkar
ALIANSI PEDULI BANTEN SOROTI KINERJA PEMKAB TANGERANG, TERKAIT JALAN RUSAK SELAMA SEKITAR 20 TAHUN DI KP CIPARI CISOKA, PEMERINTAH KEMANA SAJA
Jalan Ancur Di Kp Cipari Cisoka, Ini Kata Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah : Kirim Titik Lokasi Segera Ya, Biar Saya Bantu Usulkan Ke Dinas Terkait

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 14:01 WIB

Ny. Putri Koster Minta Peran Posyandu Jadi Pusat Pelayanan Masyarakatat

Kamis, 10 September 2026 - 04:24 WIB

Wujudkan Lingkungan Sehat, CSR PT Mayora Gelar Normalisasi Sungai 1 Km di Desa Gembong

Rabu, 9 September 2026 - 10:55 WIB

Dua Kali Seminggu Cuci Darah, Nasib Siti Junita Akhirnya Jadi Perhatian Pemkab Tangerang

Selasa, 8 September 2026 - 15:50 WIB

Gelar Apel Gabungan, Polresta Tangerang Siaga Hadapi Erupsi Gunung Anak Krakatau

Selasa, 8 September 2026 - 12:44 WIB

Masyarakat Kp Bojongloa Cisoka Lelah Liat Pengukuran, Jalan Tetap Tak Ada Perbaikan, Bupati Tangerang Minta Tinjau

Berita Terbaru