Garudaxpose.com | Bali – Malam menjelang Hari Raya Nyepi di Desa Petak diwarnai dengan kemeriahan pawai ogoh-ogoh yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Hari Pengerupukan. Tradisi ini menjadi momen penting bagi masyarakat Hindu untuk melaksanakan ritual penyucian diri dan lingkungan sebelum memasuki hari suci Nyepi.
Hari Pengerupukan yang jatuh sehari sebelum Nyepi diyakini sebagai waktu untuk mengusir Bhuta Kala atau energi negatif dari alam dan kehidupan manusia. Melalui pengarakan ogoh – ogoh, masyarakat berharap tercipta keseimbangan antara Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia) sebelum menjalankan Catur Brata Penyepian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung, Babinsa Desa Petak Koramil 1616-01/Gianyar, Sertu. I Wayan Sudiasta bersama Bhabinkamtibmas Desa Petak, Bripka. I Gusti Putu Agus Widiasa didukung BKO empat personel Polsek Gianyar, bersinergi dengan Linmas dan pecalang dari masing – masing desa adat untuk melaksanakan pengamanan secara terpadu.
Kehadiran Babinsa dan Bhabinkamtibmas di tengah masyarakat tidak hanya untuk mengawal jalannya kegiatan, tetapi juga memberikan rasa aman serta mengimbau para pemuda dan warga agar selalu menjaga ketertiban, menghindari tindakan yang dapat memicu gangguan, serta mengutamakan keselamatan selama pengarakan berlangsung.
Rangkaian pawai ogoh – ogoh di wilayah Desa Petak berlangsung meriah dengan partisipasi aktif masyarakat dari berbagai banjar. Kegiatan berakhir sekitar pukul 23.00 Wita, dan secara umum seluruh rangkaian pengarakan dapat terlaksana dengan aman, tertib dan lancar tanpa adanya gangguan yang berarti.
Sinergi antara Babinsa, Bhabinkamtibmas, Polri, Linmas, pecalang dan masyarakat menjadi kunci utama terciptanya suasana yang kondusif, sehingga tradisi yang sarat makna spiritual ini dapat dilaksanakan dengan penuh khidmat dan tetap terjaga kelestariannya. @ (suriasih)













