Photo/dok, Gotong royong ngecor jalan di tengah malam, Minggu (8/3/2026)
BREBES,GarudaXpose.com //-Di tengah keriuhan janji-janji kosong dan pertarungan kuasa yang seolah tak berkesudahan, di antara fatamorgana pembangunan yang seringkali hanya indah di atas kertas, sebuah narasi baru nan heroik terukir di Dukuh Kalong, Lingapura, Kecamatan Tonjong, Brebes. Ini bukan sekadar cerita, melainkan sebuah manifestasi keberanian, tentang harkat kemanusiaan yang tak rela diinjak oleh abainya negara. Bukan dari podium-podium megah dengan sorotan kamera, melainkan dari tanah yang becek, dari lumpur yang mengotori sepatu, dari peluh warga yang bahu-membahu mengecor jalan. Sebuah pemandangan yang tak hanya menggetarkan sanubari, melainkan sebuah tamparan keras, sebuah gugatan tak bersuara: bahwa ketika harapan pada birokrasi pudar ditelan angin janji, rakyat akan selalu menemukan jalannya sendiri, dengan tangan-tangan perkasa mereka sendiri.
Jalan desa, yang sejak puluhan tahun silam menjadi nadi utama kehidupan, urat nadi ekonomi, dan jalur pendidikan bagi anak-anak, kini tak ubahnya lintasan medan perang. Lubang-lubang menganga bak mulut lapar raksasa, siap menelan roda kendaraan atau kaki-kaki mungil yang melintas. Debu saat kemarau menyelimuti napas, lumpur saat hujan menjadi jebakan mematikan; keduanya adalah teman setia yang tak diharapkan. Keluhan demi keluhan telah menjadi nyanyian pilu yang berulang, dikirim melalui berbagai saluran, namun respons yang dinanti tak kunjung tiba. Pemerintah, entah tenggelam dalam tumpukan berkas-berkas birokrasi yang tak ada habisnya, atau terbuai euforia pencitraan diri yang semu, seolah tuli akan ratapan rakyat, seolah buta akan kerusakan nyata di depan mata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sinilah, di tengah kegelapan apatisme itu, sebuah anomali muncul. DPC Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kecamatan Tonjong, di bawah komando M. Subekhi yang akrab disapa Mas Bai, tak memilih jalur retorika kosong atau kritik verbal semata yang mudah menguap. Mereka memilih jalan yang lebih sunyi namun berdampak: aksi nyata. Tak ada penantian terhadap uluran tangan pemerintah yang entah kapan datangnya. Tak ada janji-janji kampanye yang hanya manis di lidah para politisi menjelang pemilu. Pada Minggu, 8 Maret 2026, mereka tak segan-segan turun langsung. Mengotori tangan dengan semen, memanggul karung pasir yang berat, mencampur aduk material, bekerja bahu-membahu bersama warga yang selama ini terpinggirkan. Sebuah ironi yang menyayat: sebuah partai politik, yang seringkali diasosiasikan dengan perebutan kekuasaan, justru mengambil peran paling fundamental yang seharusnya diemban oleh negara.
“Kami tak bisa lagi berpangku tangan melihat penderitaan yang terus-menerus ini. Kami tak bisa membiarkan martabat warga tergerus hanya karena jalan yang rusak,” tegas Mas Bai, matanya memancarkan ketegasan sekaligus empati yang mendalam. “Politik bukan melulu soal kekuasaan dan jabatan, bukan soal pencitraan di media sosial. Politik yang sesungguhnya adalah kehadiran. Jika ada persoalan di masyarakat, jika rakyat resah dan terpinggirkan, jika kebutuhan dasar tak terpenuhi, maka kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton yang menunggu intruksi atau protokoler.” Pernyataan itu bukan hanya keluar dari mulut, melainkan dari hati yang tersentuh, dari nurani yang menolak bungkam.
Pengecoran jalan sepanjang kurang lebih 70 meter itu, dengan dana yang terkumpul murni dari swadaya pengurus DPC PSI Kecamatan Tonjong, bukan hanya sekadar upaya perbaikan infrastruktur belaka. Lebih dari itu, ini adalah sebuah deklarasi moral yang lantang. Deklarasi bahwa kepedulian bukan lagi sekadar slogan hampa yang sering diumbar di masa pemilu, melainkan sebuah tindakan nyata, terukur, dan berdampak langsung pada kehidupan. Setiap karung semen yang diangkat, setiap adukan pasir yang dicampur, setiap pukulan palu yang terdengar, adalah tamparan keras bagi mereka yang hanya bisa berbicara tanpa pernah merasa, yang hanya bisa merencanakan tanpa pernah menyentuh tanah. Itu adalah bukti tak terbantahkan bahwa kekuatan rakyat, ketika digerakkan oleh hati, oleh semangat gotong royong, dan oleh rasa kebersamaan, jauh melampaui birokrasi yang berbelit dan tumpul.
Di sisi lain, wajah-wajah tokoh masyarakat dan pemuda Desa Dukuh Kalong, yang selama ini mungkin merasa terabaikan dan dilupakan, kini terpancar senyum. Bukan hanya senyum karena jalan desa mereka yang mulai mulus dan aman, namun lebih kepada rasa dihargai, rasa bahwa masih ada yang peduli tanpa embel-embel kepentingan sesaat. Dukungan dari DPD PSI Kabupaten Brebes memang patut diapresiasi sebagai bentuk solidaritas internal partai, namun esensi dari gerakan ini tetaplah pada kekuatan akar rumput, pada kemurnian niat untuk meringankan beban sesama, tanpa menunggu arahan dari atas.
Kisah di Tonjong ini adalah sebuah epos kecil yang pahit namun sarat makna. Ia menjadi pengingat yang begitu kuat, sebuah refleksi mendalam: bahwa di republik ini, di setiap jengkal tanahnya, semangat gotong royong masih menjadi fondasi utama. Bahwa solidaritas sejati tak membutuhkan protokol birokrasi yang panjang dan melelahkan, tak memerlukan komando dari jajaran elite yang berjarak. Ia hanya membutuhkan hati yang tergerak, nurani yang berbicara lantang, dan tangan-tangan yang siap bekerja demi kemaslahatan bersama, demi martabat sesama. Dan itu, adalah esensi kemanusiaan yang tak lekang oleh waktu, tak luntur oleh dinamika politik yang seringkali membuat kita lupa pada makna sejati sebuah perjuangan. Ini adalah bukti bahwa harapan, sesederhana apapun bentuknya, bisa tumbuh dari kerikil jalan yang diperbaiki, dari senyum tulus yang mengembang, dari semangat yang menyala di tengah kegelapan. Sebuah pelajaran berharga, bahwa sesungguhnya, kedaulatan tertinggi ada pada tindakan nyata rakyatnya, bukan pada janji-janji para penguasa.red
(Agus)












