BREBES,GarudaXpose.com-Di bawah langit senja yang mulai temaram pada Kamis (26/2/2026), sebuah pemandangan mengharukan terukir di Posko Pengungsian Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al Munawir, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog. Jelang azan magrib yang menandai waktu berbuka puasa, keceriaan yang sempat meredup oleh bayang-bayang bencana pergerakan tanah di Dukuh Bojongsari, Kabupaten Brebes, kembali menyala. Senyum-senyum polos anak-anak pengungsi, yang sehari-hari akrab dengan tenda darurat, menjadi penawar lara yang tiada tara. Kehadiran Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, yang tak segan berinteraksi dan memeluk mereka, bagai oase penyejuk di tengah gurun ujian.
Kunjungan yang sarat empati ini tidak hanya melibatkan Bupati Paramitha. Ia didampingi oleh adiknya, Shintya Sandra Kusuma, Anggota DPR RI yang turut menunjukkan komitmennya, serta Anggota DPRD Brebes, Titin Lutfiatin. Ketiganya memilih cara yang paling personal: duduk lesehan di antara kerumunan anak-anak, menanggalkan sekat jabatan, dan membangun jembatan emosional yang kuat. Mereka bukan sekadar tamu kehormatan, melainkan bagian dari keluarga besar yang terdampak. Ajakan bernyanyi lagu-lagu anak yang ceria, obrolan ringan penuh kehangatan, hingga pelukan erat yang tulus diberikan kepada setiap anak yang dengan antusias mendekat.
Awalnya, beberapa anak tampak malu-malu, menyembunyikan wajah di balik punggung teman atau orang tua. Namun, kehangatan dan ketulusan hati para pemimpin daerah ini adalah pelunak yang ampuh. Tak butuh waktu lama, tawa riang dan tepuk tangan anak-anak memenuhi seisi posko, mengiringi melantunnya lagu-lagu persahabatan dan harapan. Momen magis ini, yang terjadi sesaat sebelum waktu berbuka, disaksikan oleh para orang tua pengungsi. Mata mereka, yang sebelumnya mungkin menyimpan pilu, kini berkaca-kaca menyaksikan anak-anaknya bisa kembali tertawa lepas, sejenak melupakan beratnya status sebagai korban bencana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bupati Paramitha, dengan sorot mata yang memancarkan empati mendalam, menjelaskan bahwa ini bukan kali pertama ia menyambangi posko. “Ini bukan kunjungan tunggal. Saya ingin memastikan bahwa perhatian dan dukungan dari pemerintah bukan hanya bersifat seremonial, melainkan berkelanjutan dan mengalir tak henti. Bantuan dan empati harus senantiasa hadir menemani mereka melewati masa sulit ini,” tegasnya. Ia menambahkan, kehadirannya kali ini juga mengemban misi vital: memantau langsung progres pemulihan di lapangan dan menjamin seluruh kebutuhan dasar warga mulai dari pangan, sandang, hunian sementara, hingga layanan kesehatan dan pendidikan terpenuhi optimal selama masa pengungsian.
“Di bulan suci Ramadan yang penuh berkah dan ampunan ini, saya merasa terpanggil untuk kembali. Menyapa mereka, mendengarkan langsung cerita-cerita, keluh kesah, serta harapan-harapan yang terpendam. Tujuan utama saya adalah menghadirkan suasana yang lebih hangat dan memberikan keyakinan penuh di tengah proses pemulihan yang masih terus berjalan,” tutur Paramitha. “Sangat krusial bagi mereka untuk mengetahui bahwa setiap langkah konkret dan solusi jangka panjang telah disiapkan dengan matang oleh pemerintah, demi masa depan mereka pasca-bencana. Mereka berhak atas harapan itu.”
Senada dengan sang Bupati, Shintya Sandra Kusuma, yang dikenal dengan panggilan akrab Shintya, turut menyampaikan pesan mendalam yang menyentuh jiwa. Ia menekankan bahwa kehadiran mereka bersama-sama adalah simbol solidaritas, untuk memastikan warga terdampak tidak merasa sendiri dalam menghadapi cobaan mahaberat ini. “Kami ingin melihat anak-anak ini tetap optimis, tidak boleh patah arang. Trauma akibat bencana adalah luka yang nyata, namun harus perlahan-lahan diobati dengan kebersamaan, perhatian tulus dari semua pihak, serta jaminan akan masa depan yang lebih cerah,” ucap Shintya, mengisyaratkan komitmen teguhnya dalam mendukung pemulihan psikologis dan mental para korban, khususnya anak-anak.
Selain suntikan moral dan hiburan yang membangkitkan semangat, kunjungan ini juga diwarnai dengan aksi nyata yang langsung menyentuh. Paramitha dengan tangan sendiri menyerahkan bingkisan pakaian Lebaran kepada anak-anak. Pemandangan barisan anak-anak maju satu per satu, dengan wajah berbinar dan senyum lebar yang tak sanggup mereka sembunyikan, menjadi potret kebahagiaan kecil yang tak ternilai. Kebahagiaan sederhana ini, meski sementara, berhasil mengikis sedikit banyak rasa sedih dan cemas yang mungkin bersarang di hati mereka. Tak berhenti di situ, hidangan berbuka puasa yang istimewa juga telah disiapkan secara khusus untuk seluruh warga pengungsi, menciptakan momen kebersamaan yang syahdu dan penuh rasa syukur di saat berbuka. Sebagai penutup, paket sembako berisi kebutuhan pokok esensial juga dibagikan kepada para orang tua, sebuah uluran tangan yang meringankan beban mereka di bulan yang penuh pengorbanan ini.
Pemerintah Kabupaten Brebes, melalui dinas-dinas terkait, terus menunjukkan keseriusan dan responsibilitas penuh dalam penanganan bencana. Berbagai langkah penanganan darurat telah dan sedang diintensifkan secara komprehensif. Mulai dari asesmen menyeluruh terhadap lokasi terdampak untuk memetakan kerusakan dan kebutuhan secara akurat, penyediaan logistik yang memadai untuk menopang kehidupan sehari-hari pengungsi, hingga koordinasi lintas instansi yang solid untuk merencanakan dan melaksanakan relokasi sementara ke tempat yang lebih aman dan layak huni. Dalam setiap langkah yang diambil, keselamatan dan kesejahteraan warga, khususnya anak-anak dan kelompok rentan seperti lansia serta ibu hamil, ditegaskan sebagai prioritas utama dan tak terbantahkan dalam penanganan bencana tanah gerak yang memilukan di wilayah tersebut.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan beratnya tantangan hidup di pengungsian, senja itu menjadi saksi bisu akan kekuatan harapan, keteguhan, dan solidaritas kemanusiaan yang tak terpadamkan. Tangisan yang sempat ada akibat kehilangan dan ketidakpastian, perlahan namun pasti, berganti dengan senyum tulus yang mengisyaratkan kebangkitan semangat dan optimisme. Di dalam kesederhanaan Posko Pengungsian Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al Munawir, setiap pelukan hangat, setiap nyanyian riang, dan setiap bingkisan Lebaran yang diberikan, menjadi pengingat yang kuat bahwa mereka tidak pernah sendirian. Mereka adalah bagian integral dari sebuah komunitas yang peduli, yang tak akan pernah menyerah. Bersama-sama, dengan langkah yang teguh, mereka akan menghadapi setiap cobaan, mengukir kembali masa depan, dan melangkah pasti menuju harapan baru yang lebih terang.(red)
(Agus)













