BREBES,GarudaXpose.com- Semangat untuk mengangkat potensi lokal Kabupaten Brebes tak pernah padam. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Brebes kembali mengukir langkah penting dalam upaya konservasi dan pengembangan plasma nutfah ternak Indonesia. Setelah sukses menempatkan Sapi Jabres dan Domba Sakub dalam daftar ternak unggulan daerah, kini fokus utama DPKH beralih pada Domba Tanjung, dengan ambisi besar untuk meraih pengakuan serupa di tingkat nasional. Langkah ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah misi strategis untuk mengamankan keberlangsungan genetik dan memaksimalkan kontribusi ekonomi dari salah satu aset ternak paling berharga di Brebes.
Upaya ini mencapai puncaknya pada hari Selasa (24/2), saat DPKH Brebes menggelar presentasi komprehensif mengenai latar belakang historis dan ciri khas Domba Tanjung di hadapan Komisi Bibit Indonesia, Kementerian Pertanian. Dalam sesi yang intens tersebut, dipaparkan argumen kuat mengenai Domba Tanjung sebagai kekayaan genetik ternak asli Brebes, khususnya yang berkembang pesat di sepanjang wilayah pesisir utara. Potensi besar domba ini, baik dari segi pelestarian genetik maupun kontribusinya terhadap ekonomi lokal, menjadi sorotan utama. Data dan hasil penelitian yang disajikan menegaskan bahwa Domba Tanjung memiliki keunggulan komparatif yang menjadikannya layak mendapatkan status istimewa.
Kepala DPKH Brebes, drh. Ismu Subroto, dengan lugas menyampaikan bahwa penetapan Rumpun Domba Sakub pada tahun 2022 telah menjadi preseden positif. Hal itu membuktikan bahwa domba-domba lokal memiliki karakteristik fenotipe dan produktivitas yang mumpuni untuk diakui sebagai bagian integral dari plasma nutfah ternak domba Indonesia. “Kini, saatnya Domba Tanjung mendapatkan perhatian dan tindak lanjut yang setara. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga, melestarikan, sekaligus mengembangkan Domba Tanjung demi kesejahteraan para peternak dan seluruh masyarakat di kawasan Pantura Brebes,” tegas drh. Ismu, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, peternak, dan masyarakat untuk mencapai tujuan ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menindaklanjuti amanat Peraturan Menteri Pertanian Nomor 114/Permentan/SR.120/10/2014 tentang “Penetapan dan Pelepasan Rumpun atau Galur Hewan”, Pemerintah Kabupaten Brebes secara resmi mengajukan Domba Tanjung untuk diakui dan ditetapkan sebagai rumpun ternak mandiri dengan nama Domba Tanjung. Langkah ini diharapkan dapat memberikan payung hukum dan dukungan penuh bagi keberlanjutan pengembangan Domba Tanjung, termasuk akses terhadap program-program pengembangan bibit, bantuan teknis, dan promosi yang lebih luas. Pengakuan nasional akan membuka pintu bagi Domba Tanjung untuk menjadi komoditas unggulan yang lebih dikenal dan diminati di pasar domestik maupun internasional.
Jejak Sejarah Domba Tanjung: Dari Subsidi hingga Silangan Australia, Mengukir Kisah Adaptasi dan Keunggulan
Kisah Domba Tanjung adalah cerminan adaptasi dan inovasi yang luar biasa. Asal-usulnya dapat ditelusuri kembali ke tahun 1964, ketika program subsidi Gubernur Jawa Tengah membawa sekitar 20 ekor domba ekor gemuk ke setiap desa di Kabupaten Brebes, kecuali di wilayah Paguyangan dan Sirampog. Domba-domba ini dengan cepat memikat hati warga pesisir karena tekstur dagingnya yang lebih berlemak, sangat sesuai dengan preferensi kuliner lokal yang kaya rasa. Fenomena ini menarik perhatian para tengkulak, yang kemudian secara aktif mendorong peternak untuk memelihara jenis domba ini, melihat potensi ekonomi yang besar.
Titik balik penting terjadi pada tahun 1994, ketika potensi Domba Tanjung yang menjanjikan menarik minat seorang saudagar Tionghoa bernama Yan Shin dari Dukuh Petuguran, Desa Banjaratma, Kecamatan Bulakamba. Ia melakukan impor besar-besaran sebanyak 150 ekor domba ekor gemuk dari Australia. Perkawinan silang yang terjadi secara turun-temurun antara domba lokal dan domba impor ini menjadi cikal bakal terbentuknya Domba Tanjung dengan karakteristik unik yang kita kenal sekarang, sebuah perpaduan genetik yang menghasilkan ketahanan dan kualitas daging yang superior.
Periode awal pembentukan ciri khas Domba Tanjung diperkirakan terjadi pada awal tahun 2000-an. Sejak tahun 2010, peternak di Brebes semakin gencar melakukan perbaikan manajemen pemeliharaan dan program perkawinan yang lebih terarah, didukung oleh penyuluhan dan pendampingan dari dinas terkait. Puncak dari upaya-upaya ini terlihat pada tahun 2020 hingga saat ini, di mana domba-domba unggul dengan karakteristik yang stabil mulai terbentuk, dan secara resmi diberi nama Domba Tanjung sebagai identitas yang kuat dan khas.
Karakteristik Unik dan Lingkungan Ideal: Sebuah Simbiosis yang Membentuk Kualitas Terbaik
Domba Tanjung dikenal mampu beradaptasi dengan baik di wilayah pesisir Brebes, yang memiliki ketinggian hanya 1-5 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini memiliki curah hujan total yang cukup bervariasi, berkisar antara 1.245 hingga 1.723 mm per tahun, dengan jumlah hari hujan sekitar 85 hingga 105 hari. Kondisi geografis dan iklim yang spesifik ini turut membentuk ketahanan dan ciri khas Domba Tanjung, menjadikannya resilient terhadap kondisi lingkungan pesisir. Saat ini, populasi Domba Tanjung telah mencapai angka impresif, yakni 6.660 ekor, menunjukkan tingkat keberhasilan reproduksi dan adaptasi yang tinggi.
Secara morfologis, Domba Tanjung memiliki serangkaian karakteristik yang membedakannya, menjadikannya mudah dikenali dan diminati:
Warna Bulu: Dominan putih polos, memberikan kesan bersih dan seragam, yang juga menjadi daya tarik estetika.
Tipe Rambut: Berjenis wol, yang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi juga dapat memberikan potensi ekonomis tambahan selain daging.
Profil Muka dan Punggung: Mayoritas jantan dan betina memiliki profil wajah dan punggung yang cembung, menambah kekhasan penampilannya yang kokoh.
Tanduk: Uniknya, semua domba betina Domba Tanjung tidak bertanduk, menjadikannya lebih mudah ditangani. Sementara itu, sebagian besar domba jantan, sekitar 79,75%, juga tidak memiliki tanduk, hal ini berkontribusi pada temperamen yang lebih jinak.
Telinga: Pola yang seragam ditemukan pada telinga, di mana baik jantan maupun betina memiliki arah telinga yang mendatar ke samping, menambah kesan khas pada wajahnya.
Bentuk Ekor: Ciri khas lain adalah bentuk ekornya yang luas tanpa lobus, berbeda dengan beberapa jenis domba lain, dan menjadi salah satu penanda genetik yang penting.
Rambut Tebal: Memiliki rambut yang lebat di area leher, badan, perut, dan ekor, menambah volume dan kesan sehat pada domba, serta melindunginya dari perubahan cuaca.
Wattle: Kehadiran wattle atau gelambir pada domba jantan dan betina juga merupakan salah satu penanda penting dari rumpun ini, yang sering dikaitkan dengan ketahanan dan karakteristik genetik tertentu.
Dari Komoditas Ekonomi hingga Simbol Budaya: Masa Depan Cerah Domba Tanjung
Lebih dari sekadar penghasil daging yang lezat dan berlemak, Domba Tanjung juga memegang peranan penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Brebes. Ia bukan hanya ternak produktif yang menopang ekonomi keluarga peternak, melainkan juga “hewan kesayangan” yang dibanggakan, seringkali menjadi bagian dari tradisi dan kebanggaan lokal. Tradisi seperti kontes domba yang rutin diselenggarakan menjadi salah satu manifestasi budaya yang kuat, bukan hanya ajang pamer, tetapi juga sebagai upaya konkret dalam mempertahankan kemurnian genetik, memotivasi peternak untuk meningkatkan kualitas, dan melestarikan eksistensi bangsa ternak ini di tengah gempuran modernisasi peternakan.
Pemerintah Kabupaten Brebes, melalui DPKH, berharap pengakuan nasional ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga katalisator bagi pengembangan berkelanjutan Domba Tanjung. Dengan status ternak unggulan nasional, diharapkan akan ada lebih banyak dukungan riset, program pembibitan yang lebih terstruktur, serta akses pasar yang lebih luas. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan peternak dan masyarakat Brebes secara keseluruhan, sekaligus memastikan bahwa warisan genetik Domba Tanjung akan terus lestari dan berkembang untuk generasi mendatang. Domba Tanjung siap mengukir namanya tidak hanya di Brebes, tetapi di seluruh penjuru Indonesia, sebagai simbol ketahanan, kualitas, dan potensi lokal yang tak terbatas.(red/II)
(Agus) 











