Garudaxpose.com | Probolinggo — Waktu persiapan yang terbatas tak menghalangi para pelajar pilihan Kota Probolinggo menuntaskan amanah sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Selama 12 hari, mereka menjalani latihan dengan jadwal padat untuk mempersiapkan fisik, mental, kedisiplinan hingga kemampuan menjalankan setiap tahapan upacara. Hasilnya, prosesi pengibaran dan penurunan Sang Merah Putih pada Senin (17/8) dapat berlangsung lancar.
Usai seluruh rangkaian tugas selesai, ekspresi lega bercampur bangga tampak dari wajah para anggota Paskibraka. Bagi mereka, keberhasilan tersebut menjadi buah dari latihan intensif yang dilakukan sejak awal Agustus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Probolinggo Sonhadji menyebut keberhasilan itu patut diapresiasi. Menurutnya, keterbatasan waktu pembinaan justru mampu dijawab peserta dengan kerja keras dan kedisiplinan.
“Alhamdulillah, kami bersyukur dan bangga. Generasi muda ini mampu melaksanakan tugas dengan baik, bertanggung jawab dan profesional, meskipun waktu pembinaan dan latihan cukup singkat,” ujar Sonhadji.
Pemkot Probolinggo melibatkan empat personel TNI dan Polri untuk menangani pembinaan Paskibraka 2026. Mereka terdiri atas Peltu Aam Nuralam dan Serma Jono Handoko dari Kodim 0820 Probolinggo serta Aiptu Gatoet Soeseno dan Aiptu Eko Juli dari Polres Probolinggo Kota.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan peserta sebelum diterjunkan dalam upacara kenegaraan.
Sonhadji mengatakan, sinergi antara pelatih dan peserta mampu menghasilkan pelaksanaan tugas yang sesuai harapan.
“Kita mendatangkan pelatih dari TNI dan Polri. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan sukses tanpa ada masalah,” katanya.
Peltu Aam Nuralam menjelaskan, pembinaan Paskibraka berlangsung mulai 4 Agustus hingga 17 Agustus 2026. Dalam rentang waktu tersebut, para peserta harus menguasai seluruh materi yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas.
Kegiatan latihan bahkan berlangsung dua sesi dalam sehari. Pada pagi hari, peserta mulai berlatih pukul 07.00 hingga sekitar 12.15. Setelah beristirahat dan melaksanakan salat zuhur, mereka kembali menjalani latihan mulai sekitar pukul 15.15 hingga menjelang magrib.
Padatnya jadwal tersebut dilakukan karena pelatih harus mengejar berbagai target pembinaan dalam waktu yang tidak panjang.
“Karena jangka waktunya terlalu pendek, kami harus mengejar target. Dengan waktu yang cukup singkat, mereka harus bisa melaksanakan tugas dengan baik. Pengibaran bendera ini membutuhkan tenaga dan pikiran yang ekstra,” terang Aam.
Menurutnya, latihan bukan hanya bertujuan membuat gerakan peserta terlihat seragam. Ketahanan fisik, konsentrasi, mental dan kemampuan bekerja dalam tim juga menjadi bagian dari pembinaan.
Di balik seragam Paskibraka, terdapat proses pembentukan karakter yang diharapkan dapat dibawa peserta dalam kehidupan sehari-hari.
Aam menilai pengalaman tersebut bisa menjadi modal bagi pelajar ketika melanjutkan pendidikan maupun mengejar cita-cita. Karena itu, ia mendorong siswa kelas X SMA sederajat untuk mulai mempersiapkan diri jika ingin mengikuti seleksi Paskibraka pada tahun mendatang.
“Ini merupakan kebanggaan bagi anak muda. Saya mengajak anak-anak muda Kota Probolinggo, khususnya yang masih kelas X, ayo mendaftarkan diri menjadi Paskibraka,” ajaknya.
Namun, kesempatan tersebut tidak datang tanpa persiapan. Calon peserta harus menjaga kesehatan, meningkatkan kemampuan akademik dan mempersiapkan kondisi fisik.
Aam menyebut proses seleksi meliputi sejumlah tahapan, termasuk tes intelegensi umum dan tes jasmani.
“Seleksinya tidak gampang. Kesehatan harus betul-betul dijaga karena latihan membutuhkan tenaga ekstra. Ada juga tes intelegensi umum atau TIU dan tes jasmani,” jelasnya.
Persiapan Paskibraka juga membutuhkan dukungan dari lingkungan keluarga. Jadwal latihan yang padat membuat peserta harus menjaga pola makan, istirahat dan gaya hidup agar kondisi tubuh tetap prima.
Aam memberikan penghargaan kepada para orang tua yang turut mengawal anak-anak mereka selama mengikuti pembinaan.
“Terima kasih kepada orang tua Paskibraka tahun 2026 yang telah mendukung. Tentunya orang tua juga membutuhkan effort dan pemikiran lebih untuk mengawasi anak-anaknya. Mereka harus menjaga pola makan, pola hidup dan betul-betul disiplin,” katanya.
Bagi Hanun Maharani, anggota Paskibraka dari SMAN 1 Kota Probolinggo yang mendapat tugas sebagai pembawa baki, perjuangan selama masa latihan terbayar setelah seluruh prosesi selesai.
Ia mengaku lega karena mampu melewati tahapan yang telah dipersiapkan bersama tim pelatih.
“Rasanya lega karena kita sudah dilatih bukan hanya secara fisik, tetapi juga mempersiapkan mental yang matang untuk bisa melaksanakan tugas dengan maksimal. Alhamdulillah selesai,” ungkap Hanun.
Menurutnya, menjadi Paskibraka memberikan pelajaran yang jauh lebih luas daripada sekadar menjalankan tugas dalam upacara. Ia belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kekompakan dan keberanian menghadapi tantangan.
Hanun pun mengajak pelajar lain untuk tidak takut mencoba pengalaman serupa.
“Untuk generasi muda lainnya, ayo terus mengukir prestasi sesuai keahlian dan hobi kita. Jadilah anak muda yang hebat. Bergabunglah bersama Paskibraka, karena seru dan pelatihnya menyenangkan,” tuturnya.
Tuntasnya tugas Paskibraka Kota Probolinggo pada HUT ke-81 RI menjadi bukti bahwa keterbatasan waktu bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab. Dengan latihan terarah, dukungan keluarga dan kerja sama tim, para pelajar tersebut mampu menjalankan amanah hingga akhir.
Penulis : Septyan Dwi Cahyo












