BREBES,GarudaXpose.com//-Senja Ramadan di Lapangan Kali Belik, Desa Negarayu, Kecamatan Tonjong,Rabu sore,25 Februari 2026 itu, terasa istimewa, memancarkan kehangatan yang merasuk hingga ke sudut-sudut jiwa. Bukan sekadar menunggu waktu berbuka, melainkan menjadi panggung bagi sebuah pertemuan yang penuh kehangatan, makna, dan harapan yang kembali menyala. Bupati Brebes, Hj. Paramitha Widya Kusuma, SE, MM, dengan kerendahan hati, hadir di tengah-tengah warganya, melebur dalam suasana ngabuburit yang bersahaja, khususnya bersama para lansia yang telah lama memendam harap akan perhatian dari pucuk pimpinan daerah.
Udara sore yang sejuk, dihiasi azan magrib yang akan segera berkumandang, menjadi saksi bisu betapa tulusnya interaksi yang terjalin. Tanpa sekat birokrasi yang kerap membatasi, Paramitha duduk bersila di antara warga, mendengarkan setiap nada keluh kesah yang mengalir dari bibir-bibir bijak, sarat pengalaman hidup. Raut antusias terpancar jelas dari wajah-wajah sepuh yang mendapatkan kesempatan langka ini, sebuah kesempatan untuk menyuarakan isi hati mereka secara langsung. Ada yang bercerita tentang sulitnya akses kesehatan, ada pula yang mengeluhkan minimnya fasilitas umum, namun dari sekian banyak cerita, isu jalan desa yang rusak parah menjadi sorotan utama. Jalan yang selama ini menjadi nadi kehidupan warga, mengangkut hasil bumi, mengantar anak sekolah, dan menghubungkan mereka dengan dunia luar, kini justru menghambat, menciptakan rintangan di setiap langkah aktivitas mereka. Genangan air saat hujan, lubang-lubang menganga yang membahayakan, seolah menjadi cerminan dari harapan yang nyaris sirna.
Dengan penuh perhatian, Bupati Paramitha mencatat setiap detail, sesekali mengangguk, menunjukkan empati yang mendalam. Kata-kata yang keluar dari bibirnya bukan sekadar janji manis, melainkan komitmen yang diukir dalam hati untuk menindaklanjuti keluhan ini, menjadikannya prioritas utama dalam skala pembangunan daerah. Beliau menjelaskan bahwa perbaikan infrastruktur jalan menjadi kunci utama peningkatan kualitas hidup masyarakat pedesaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Momentum Ramadan ini bukan hanya tentang ibadah semata,” tutur Paramitha dengan suara lembut, “tetapi juga tentang menganyam erat tali silaturahmi, meneguhkan rasa persaudaraan, dan meresapi langsung setiap bisikan hati masyarakat. Kami hadir di sini bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar Negarayu.”
Kehadiran beliau juga dipermanis dengan pembagian 200 paket sembako, sebuah simbol kepedulian yang nyata. Raut wajah sumringah dan untaian syukur tak henti-hentinya terucap, terutama dari para lansia yang merasa uluran kasih di bulan penuh berkah ini adalah anugerah tak terhingga. Mereka merasa diperhatikan, dihargai, dan tidak dilupakan. Rohmah, salah seorang warga Negarayu yang sudah puluhan tahun menanti perhatian ini, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Air mata haru membasahi pipinya saat ia menggenggam paket sembako. “Kami sungguh terharu bisa bertemu langsung dengan Ibu Bupati. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan,” ujarnya penuh harap, matanya berbinar, “Terima kasih atas bantuannya, dan semoga jalan di desa kami segera mulus kembali, agar kami bisa beraktivitas dengan lebih nyaman.”
ngabuburit di Negarayu ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah peristiwa bersejarah yang mengukir lembaran baru dalam hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Ini adalah manifestasi nyata dari kepedulian dan komitmen pemerintah daerah untuk menjadi pelayan masyarakat sejati. Ini adalah janji yang ditepati, bahwa suara rakyat, terutama dari pelosok pedesaan yang selama ini mungkin terasa terpinggirkan, takkan pernah tenggelam dan selalu menemukan telinga yang mendengarkan, serta tangan yang siap bertindak. Sebuah jalinan erat antara pemimpin dan rakyat, terukir indah di bawah langit senja Ramadan, dengan harapan baru yang kini kembali
bersemi di hati setiap warga Negarayu.(red)
(Agus)













