BREBES, GarudaXpose.com –Matahari belum tinggi, tapi semangat di halaman Kantor DPC PDI Perjuangan Brebes sabtu nanti (13/6/2026) tepat pukul 07.00 WIB, Mas Heri Pasaribu berdiri di depan 10 pemain muda yang berseragam. Tangannya mengepal. Suaranya lantang: “Lelah di lapangan itu biasa. Yang nggak boleh itu lelah berjuang.” siap di bsrangkatkan!
Suara “Merdeka!” dari 10 tim pemain muda itu memecah pagi. Mereka bukan sekadar berangkat seleksi. Mereka bawa nama Brebes. Bawa nama Bung Karno. Bawa mimpi satu kabupaten ke Stadion Kridanggo, Salatiga.
Ngos-ngosan di Karangbirahi, Siap Tempur di Salatiga
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sehari sebelumnya, Kamis (11/6/2026), Stadion Karangbirahi jadi saksi. Puluhan anak muda Brebes diperas keringatnya oleh pelatih Rifki Hasan. Lari, sprint, umpan, duel satu lawan satu. Fisik diuji, teknik digodok, mental dan joging.
Mas Heri Pasaribu, Bendahara DPC PDI Perjuangan Brebes, mantau langsung dari pinggir lapangan. Kausnya basah keringat padahal jam 13.00 Wib. Sesekali teriak, sesekali catat di buku kecil. “Alhamdulillah seleksi berjalan lancar. Kita sudah kantongi 10 nama. Mereka ini yang terbaik dari yang baik. Nggak ada titipan, nggak ada main mata. Semua murni keringat,” ujarnya sambil menyeka peluh.
Hasilnya: 10 nama lolos. U-17 dan U-19 digabung. Tak ada waktu istirahat. Sabtu pagi pagi nanti akan langsung dilepas, siang pukul 13.00 WIB seleksi Soekarno Cup di Salatiga sudah digeber. Jadwalnya padat: 13–15 Juni 2026. “Nggak ada waktu buat santai. Di lapangan, napas boleh habis. Semangat jangan. Kalau capek, ingat kalian bawa nama siapa,” kata Heri.
Jalan Panjang: Salatiga, Magelang, Surabaya
Soekarno Cup 2026 bukan turnamen kaleng-kaleng. Ini ajang tahunan PDI Perjuangan buat nyari talenta muda se-Indonesia. Tahun ini, Surabaya ditunjuk jadi tuan rumah tunggal. Artinya, dari babak grup sampai partai puncak semua digelar di Kota Pahlawan, termasuk di Stadion Gelora Bung Tomo.
Tapi jalan ke GBT nggak pendek. Dari Salatiga, yang lolos langsung digeser ke Magelang. Dikarantina bareng Tim Jawa Tengah. Tidur bareng, makan bareng, ditempa lagi. Mental dan taktik diasah tiap hari. Baru setelah itu berangkat perang ke Surabaya.
“Bung Karno pernah bilang, beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia. Hari ini Brebes mengirim sepuluh. Tugas mereka bukan mengguncang dunia, tapi mengguncang Surabaya. Bikin GBT tahu, anak Brebes juga bisa main bola,” tegas Mas Heri. Kalimat itu bikin bulu kuduk berdiri. Beberapa orang tua pemain yang ikut melepas sampai berkaca-kaca.
DPC Brebes Nggak Mau Nonton
Sekjen DPC PDI Perjuangan Brebes, Ferri Angrianto, SE, memastikan semua urusan logistik beres. “Jersey sudah, sepatu sudah, vitamin sudah, transportasi aman. Tinggal mental mereka. Dan mental mereka sudah kita isi penuh dari Karangbirahi,” kata Ferri.
Ferri menegaskan, ini bukan sekadar kirim tim. “Ini tugas partai untuk menjaring dan mengirim bibit unggul. Brebes tidak mau hanya jadi penonton. Kita sudah capek jadi penggembira. Insyaallah kita mau anak Brebes ada di sana saat peluit akhir dibunyikan di final. Nyalakan Brebes di GBT.”
Mas Heri menutup seleksi dengan pesan yang dititipkan ke dada tiap pemain. Ia salami satu per satu. “Pulang bawa trofi, atau pulang bawa cerita bahwa kalian sudah bertarung sampai titik darah penghabisan. Tidak ada penampilan setengah-setengah. Brebes harus beda. Kalah menang urusan nanti, yang penting berani.”
Lelah? Sudah Makanan Sehari-hariBagi 10 pemain ini, lelah sudah jadi teman. Sejak seleksi di Karangbirahi, mereka paham: Soekarno Cup bukan tempat main-main. Di Salatiga nanti, lawan datang dari seluruh Jateng. Posturnya tinggi, larinya kencang, tekniknya rapi. Ketat, keras, cepat.
Tapi seperti kata Mas Heri: “Lelah itu biasa. Menyerah itu yang nggak biasa. Sakit itu sementara. Menyesal karena nggak kasih 100 persen, itu seumur hidup.”
,Mas Heri berdiri di depan pintu. Ia angkat tangan, lalu menepuk dadanya. “Kita kawal dari Karangbirahi sampai GBT. Doa orang tua kalian, doa warga Brebes, doa partai, semua ikut. Main pintar, main keras, main pakai hati. Merdeka di lapangan, merdeka untuk Brebes,” pungkasnya.
Diiringi tepuk tangan dan teriakan “Brebes Bisa!” 10 pemain muda hasil seleksi . Targetnya satu: trofi Soekarno Cup pulang ke Brebes.***
(Agus)













