Dok (Photo) Komunitas Masjaka menggelar aksi unjuk rasa, Kamis (26/3/2026), menuntut normalisasi Kali Babakan menyusul banjir berulang di Kecamatan Ketanggungan.
BREBES,GarudaXpose.com//- Gemuruh amarah rakyat meledak hari ini di Brebes, menyiratkan bara kekecewaan yang telah lama membeku. Aliansi Masyarakat Jaga Babakan (Masjaka Babakan) dan Komunitas Pecinta Sungai (KPS) Kabupaten Brebes tak lagi bisa menahan diri. Mereka tumpah ruah di Jalan Jendral Sudirman Ketanggungan pada Kamis, 26 Maret 2026, bukan sekadar berdemonstrasi, namun memproklamirkan perang terhadap kemandulan birokrasi yang tega membiarkan Sungai Babakan menjadi sungai air mata.
Sorak sorai tuntutan menggema, menusuk jantung kekuasaan:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
LENGSERKAN KEPALA BBWS CIMANUK CISANGGARUNG KOTA CIREBON SEKARANG! Dwi Agus Kuncoro, S.T., M.M., M.T., Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, jadi sasaran utama. Warga menudingnya sebagai “arsitek penderitaan” akibat kelambanan dan kegagalan total normalisasi Sungai Babakan. “Gantung dia sekarang juga, agar keadilan tak lagi diperkosa!” teriak seorang orator, membakar semangat massa.
NORMALISASI TOTAL, BUKAN SEKADAR TAMBAL SULAM! Tuntutan ini bukan basa-basi. Rakyat mendesak pengerukan sedimen secara radikal dan penguatan tanggul di titik-titik kritis yang selama ini dibiarkan rapuh.
AUDIT FORENSIK RP 270 MILIAR YANG RAIB DITELAN BUMI! Inilah bara api sesungguhnya. Koordinator Masjaka Babakan lantang mempertanyakan ke mana raibnya dana mitigasi banjir sebesar Rp 270 Miliar. “Mana uang Rp 270 Miliar yang diklaim telah ditelan Sungai Babakan?! Kami mencium bau busuk korupsi, penyelewengan dana yang sengaja membiarkan proyek mandek, menjadikan rakyat tumbal kehancuran!” pekiknya, menyuarakan dugaan korupsi yang mengakar.
KOMPENSASI PENUH & REKONSTRUKSI BERMARTABAT! Pemerintah pusat dan daerah didesak untuk segera mencairkan kompensasi yang adil bagi korban, serta menjamin rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur yang cepat dan tanpa birokrasi berbelit.
SISTEM PERINGATAN DINI YANG CERDAS & MENYELAMATKAN! Masyarakat menuntut sistem peringatan dini banjir yang akurat dan terintegrasi sempurna hingga ke pelosok desa, memastikan evakuasi bisa dilakukan sebelum terlambat.
“Kami muak dengan janji-janji gombal dan bencana yang tak kunjung berhenti! Jika tuntutan kami dicampakkan, kami bersumpah akan terus bergerak, memobilisasi massa yang lebih besar, dan akan mengepung Jakarta, mengguncang istana, demi keadilan dan masa depan yang bebas dari ancaman banjir!” ancam koordinator aksi Masjaka Babakan, disambut riuh histeria massa yang siap berjuang habis-habisan.
Jeritan pilu para korban, yang kini terpaksa hidup di pengungsian dengan segala keterbatasan, menjadi saksi bisu atas setiap butiran air mata yang jatuh. Anak-anak kehilangan keceriaan, orang tua kehilangan harapan, dan mata pencarian mereka luluh lantak ditelan ganasnya air. Pemerintah dan pemangku kebijakan diharapkan tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan denyut nadi penderitaan yang memilukan ini.
Aksi ini adalah penanda bahwa kesabaran rakyat telah sampai di titik nadir. Mereka tidak akan lagi berdiam diri melihat tanah kelahiran mereka terus-menerus terendam, sementara janji dan anggaran menguap tanpa jejak. Ini adalah panggilan terakhir bagi para pemangku kebijakan untuk bertindak nyata, bukan hanya sekadar retorika kosong yang berujung pada penderitaan abadi. Masa depan Babakan kini dipertaruhkan, dan rakyat bersumpah akan menjadi garda terdepan dalam perjuangan menuntut keadilan.
PANGGUNG POLITIK DIUJI, KEPERCAYAAN RAKYAT DI AMBANG KEHANCURAN. Demonstrasi hari ini bukan hanya tentang banjir, tapi tentang integritas, tentang janji yang diingkari, dan tentang suara rakyat yang selama ini dibungkam. Bola panas kini berada di tangan pemerintah. Akankah mereka mendengar pekikan penderitaan ini dan bertindak dengan cepat dan transparan, ataukah akan membiarkan api kemarahan terus berkobar hingga membakar habis sisa-sisa kepercayaan? Rakyat Babakan menunggu, dengan mata nyalang dan hati yang terluka, menagih pertanggungjawaban atas setiap tetes air mata dan setiap rupiah yang lenyap.red
(Agus)












