Di kediamannya, Kamis (24/9/2026), Cadi Hasibuan menyampaikan kepada awak media bahwa guci tersebut ditawarkan seharga Rp 100 juta secara tunai. Seluruh hasil penjualan akan diperuntukkan sepenuhnya sebagai biaya perjalanan ibadah umroh bersama istrinya yang berasal dari Desa Parantonga. “Inilah niat tulus kami, semoga benda ini menemukan pemilik yang tepat dan kami pun dapat melaksanakan panggilan itu,” ujarnya dengan tulus.
Guci yang berkapasitas sekitar 25 liter ini ditemukan sekitar satu tahun lalu di kawasan Liang Namuap, tertimbun di antara bebatuan. Menurut penuturannya, penemuan ini bukan kebetulan semata: beliau bermimpi tiga kali berturut-turut menerima petunjuk lokasi benda tersebut, baru kemudian berangkat mengambilnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang membuat guci ini istimewa adalah sifatnya yang dianggap tak biasa. Setiap kali diisi air, rasa air itu berubah tidak lagi tawar seperti aslinya. Lebih dari itu, Cadi Hasibuan telah melakukan percobaan sendiri: satu liter air dicampur racun tikus, lalu dimasukkan ikan lele ke dalamnya. Luar biasanya, ikan itu tetap hidup hingga dua jam, dan setelah dilepas kembali ke air tawar, ikan lele itu tetap sehat seperti sedia kala.
Beliau berharap ada pihak yang memahami nilai sekaligus keistimewaan benda ini dan bersedia membelinya. Bagi beliau, guci ini bukan sekadar barang antik, melainkan jembatan harapan untuk menunaikan kewajiban agama sekaligus mimpi bersama pasangan hidup.
Sehari-hari, Cadi Hasibuan dikenal sebagai penjaga cagar budaya Liang Namuap, menjaga warisan leluhur agar tetap terjaga bagi generasi mendatang. Selain itu, beliau juga menerima pesanan pupuk kandang kotoran walet seharga Rp 150.000 per karung berisi 50 kilogram hasil keringat tangan sendiri untuk menyambung hidup.
Kini, guci yang selama ini “diam” di tanah Liang Namuap justru menjadi harapan hidup yang nyata. Benda yang dulu tersembunyi di balik bebatuan kini tampil ke muka publik, membawa pesan bahwa di balik benda tua bisa tersimpan niat yang muda dan suci.
Beliau tidak mencari keuntungan berlebih, hanya sekadar cukup untuk membawa istri tercinta beribadah. “Kalau ada yang berminat, silakan datang ke sini. Harganya Rp 100 juta tunai. Semoga berkah bagi dua belah pihak,” ucapnya sambil menatap guci itu dengan lembut.
Kisah ini mengingatkan kita: di Padang Lawas, di antara warisan purba dan keseharian yang sederhana, harapan selalu tumbuh — entah dari mimpi malam, entah dari benda yang tertimbun, atau dari niat tulus yang ingin dipersembahkan bagi sesama dan Tuhan.
Arman Effendi














