Garudaxpose.com|Banyuwangi – Dugaan praktik pungutan uang dalam penyaluran bantuan pangan di kawasan Jl. Andalas, Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi, terus menjadi sorotan dan memicu polemik di tengah masyarakat.
Pasalnya, muncul perbedaan keterangan yang cukup tajam antara warga penerima manfaat dengan pihak yang disebut-sebut terlibat dalam dugaan penarikan uang sebesar Rp20.000 tersebut.
Sosok yang oleh sejumlah warga disebut sebagai asisten Ketua RT, berinisial MK, akhirnya angkat bicara saat dikonfirmasi awak media melalui pesan WhatsApp, Senin (14/04/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
MK secara tegas membantah tudingan bahwa dirinya melakukan penarikan uang dari warga penerima bantuan. Bahkan, ia mengaku justru termasuk salah satu penerima bantuan itu sendiri.
“Saya nggak ngerti, justru saya yang dapat bantuan,” ujarnya.
Saat ditanya lebih lanjut mengenai dugaan pungutan yang berkembang di masyarakat, MK kembali menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dan mempersilakan awak media melakukan penelusuran lebih lanjut.
“Silakan diselidiki. Tanyakan kepada yang memberi informasi, apa benar saya yang melakukan penarikan sejumlah uang,” tegasnya.
Tak hanya itu, MK juga menyampaikan keberatannya apabila informasi yang dipublikasikan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Ia bahkan menyinggung kemungkinan langkah hukum apabila pemberitaan dinilai merugikan nama baiknya.
Namun, keterangan berbeda justru disampaikan oleh beberapa warga penerima manfaat. Salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku adanya pembayaran sebesar Rp20.000 saat proses pengambilan bantuan.
Menurut pengakuannya, warga diminta datang ke rumah MK untuk mengambil kupon sekaligus menyerahkan uang tersebut.
“Memang bayar, Mas, Rp20 ribu. Pengambilan kupon di MK, pembayarannya juga di MK. Kemarin ada Bu RT juga, jadi yang menerima uang Bu RT,” ungkap warga tersebut.
Bahkan ia menyampaikan jika penerimaan bantuan berupa uang Rp 900 000 yang kemarin dirinya di kenakan tarikan Rp 10 000 oleh bu Rt, “yang kemarin uang yang Rp 900 000 di tarik Rp 10 000 mas”, tegasnya.
Warga tersebut mengaku memilih tidak disebutkan namanya karena khawatir akan berdampak pada penerimaan bantuan berikutnya.
Perbedaan keterangan ini pun memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat dan dinilai perlu mendapat klarifikasi lebih lanjut dari pihak RT maupun instansi terkait agar persoalan tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih terus melakukan upaya konfirmasi kepada pihak RT setempat serta pihak berwenang guna memastikan duduk perkara sebenarnya. (tim)













