Di Tengah Guyuran Hujan, Guru-Guru di Lingga Bayu Menang: Martabat Mereka Tak Pernah Padam

- Penulis

Selasa, 25 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Catatan Muhammad Sudirmin Nasution Wartawan Garudaxpose.com Mandailing Natal. 

Garudaxpose.com| Mandailing Natal — Ada yang berbeda dari upacara Hari Guru Nasional ke-80 di Kecamatan Lingga Bayu tahun ini. Bukan perihal kemeriahan, panggung, ataupun dekorasi. Yang membuatnya istimewa justru hujan yang tak berhenti sejak pagi, namun gagal memadamkan semangat para guru. Di tengah lapangan yang becek dan licin itu, kita melihat hal yang kian langka: martabat seorang guru tetap tegak meski langit tak bersahabat.

Ratusan guru dan pelajar berdiri di bawah hujan tanpa keluhan. Mereka tidak menunggu aula, tidak menunggu tenda. Mereka justru mengajarkan kepada kita makna ketulusan — bahkan sebelum mereka menyampaikan sepatah kata pun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Guru Bukan Sekadar Pengajar — Mereka Penjaga Akal Budi Bangsa

Drs. Rizal Efendi Lubis, Korwil Pendidikan XII, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara, menyampaikan amanat Mendikbudristek dengan penuh wibawa. Namun sesungguhnya, pesan paling kuat hari itu tidak datang dari podium, melainkan dari pemandangan ratusan guru yang berdiri basah kuyup, menahan dingin, namun tetap teguh.

Di tengah tekanan hidup, birokrasi pendidikan yang melelahkan, fasilitas yang terbatas, dan tuntutan zaman yang semakin tinggi, para guru — terutama di daerah — terus bekerja tanpa banyak suara. Hari Guru adalah pengingat keras bahwa mereka bukan hanya mengajar, tetapi menjaga akal budi anak-anak bangsa.

Ketika Murid Memberi Bunga: Air Mata Guru Menjadi Pesan yang Paling Jujur

Usai upacara, para murid memberikan bunga kepada guru mereka. Momen sederhana itu justru menjadi yang paling menyentuh. Beberapa guru tak kuasa menahan air mata. Itu bukan tanda kelemahan — itu bahasa hati yang paling jujur.

Murid-murid mungkin belum memahami betapa beratnya beban seorang guru hari ini:
gaji yang tak sebanding dengan dedikasi, administrasi yang menumpuk, hingga tekanan sosial yang tak pernah benar-benar terlihat.

Namun bunga yang mereka berikan hari itu membuktikan bahwa pengorbanan guru tidak pernah sia-sia. Ada kebahagiaan yang lahir dari ketulusan yang tak bisa digantikan oleh apa pun.

Sistem Pendidikan Masih Berdiri Berkat Orang-Orang yang Tak Tercatat di Judul Berita

Kita sering membaca berita tentang prestasi pendidikan nasional, digitalisasi sekolah, hingga inovasi kurikulum. Namun jangan lupa satu kenyataan penting:

Sistem pendidikan Indonesia bertahan bukan karena kebijakan, gedung, atau anggaran tetapi karena orang-orang yang berdiri di lapangan becek seperti guru-guru di Lingga Bayu itu.

Mereka adalah alasan mengapa sekolah tetap berjalan meski fasilitas terbatas. Mereka yang membuat anak-anak tetap belajar meski hujan turun tanpa henti. Mereka yang terus hadir meskipun kesejahteraan mereka belum sepenuhnya terjamin.

Jika pemerintah ingin membenahi pendidikan secara nyata, lihatlah kembali ke akar. Lihat guru yang datang ke sekolah meskipun jalan berlumpur. Lihat kepala sekolah yang bekerja dengan sarana seadanya. Lihat murid-murid yang tetap hormat walau seragam mereka basah oleh hujan.

Ajakan Redaksi: Hormatilah Guru Anda, Bukan Sekali Setahun

Upacara di Lingga Bayu hanyalah satu potret kecil tentang keteguhan seorang guru. Pesan moralnya besar dan jelas:

Mari berhenti menghormati guru hanya pada Hari Guru.

Hormati mereka setiap kali kita melihat anak-anak kita mampu membaca dan menulis. Hormati mereka ketika kita sadar bahwa bangsa ini membutuhkan generasi yang berkarakter.

Hormati mereka dengan mendengar, mendukung, dan menghargai perjuangan mereka di lapangan — bukan hanya di media sosial.

Karena tanpa guru, semua mimpi besar tentang Indonesia Emas hanya akan menjadi wacana tanpa arah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Maesyal Rasyid Serahkan Bantuan Rp35 Juta kepada Warga Cisoka, Lanjut Jenguk Korban Kecelakaan di Solear dan Beri Nama Bayi yang Baru Lahir
Diduga Pungutan Berkedok Program Sekolah, SMP Negeri 1 Glenmore Tagih Rp888.500 per Siswa, Kemana Dana BOS dan Bantuan Pemerintah?
Ribuan Perawat Jember Siap Jadi Garda Terdepan Sosialisasikan Program Pemkab
Diduga Tambang Galian C Ilegal di Desa Tegalrejo Terus Beroperasi, Publik Pertanyakan Ketegasan Aparat dan Pemerintah
Resmi Dilantik Pengurus DPC KWRI Kota Cilegon, Kota Serang, dan Kabupaten Serang periode 2026-2029. Wujudkan Jurnalis Profesional
Bersihkan Kawasan Alun-Alun, Lurah Mangunharjo Sebut Kepedulian Lingkungan Harus Menjadi Budaya Bersama
Papan Bunga Bertebaran di Tugu Adipura, nanun tidak ada lagi sembako tukar nyawa. Keluarga Minta Keadilan untuk Joni Iskandar
Ketua Dekranasda Bali Pastikan tak ada Pungli bagi Pedagang Saat PKB 

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 05:44 WIB

Bupati Maesyal Rasyid Serahkan Bantuan Rp35 Juta kepada Warga Cisoka, Lanjut Jenguk Korban Kecelakaan di Solear dan Beri Nama Bayi yang Baru Lahir

Kamis, 11 Juni 2026 - 05:06 WIB

Diduga Pungutan Berkedok Program Sekolah, SMP Negeri 1 Glenmore Tagih Rp888.500 per Siswa, Kemana Dana BOS dan Bantuan Pemerintah?

Kamis, 11 Juni 2026 - 02:36 WIB

Ribuan Perawat Jember Siap Jadi Garda Terdepan Sosialisasikan Program Pemkab

Rabu, 10 Juni 2026 - 19:32 WIB

Diduga Tambang Galian C Ilegal di Desa Tegalrejo Terus Beroperasi, Publik Pertanyakan Ketegasan Aparat dan Pemerintah

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:15 WIB

Resmi Dilantik Pengurus DPC KWRI Kota Cilegon, Kota Serang, dan Kabupaten Serang periode 2026-2029. Wujudkan Jurnalis Profesional

Berita Terbaru