BREBES,GarudaXpose.com//–Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Brebes unjuk taring. Lima pejabat strategis dari level pengambilan kebijakan hingga teknis lapangan dikerahkan penuh sebagai narasumber utama Pelatihan Operator Farm Unggas Pedaging, Selasa 5 Mei 2026, di Work Space Ruko Rhegina, Desa Banjarharjo, Kecamatan Banjarharjo.
Langkah ini bukan pelatihan biasa. DPKH Brebes sedang menyiapkan 400 pemuda Brebes lulusan SMP dan SMA/SMK untuk diberangkatkan secara bertahap sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) formal ke sektor peternakan Malaysia. Mereka adalah pemula yang akan ditempatkan di farm-farm unggas pedaging di bawah naungan PT Haena International Recruitment Cabang Jogja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kolaborasi Empat Pilar Kegiatan ini dimotori SBB Training Centre bekerja sama dengan DPKH Brebes, PT Haena International Recruitment, dan Komunitas Warga Brebes Munggah Sejahtera (KWBMS). Sinergi ini lahir dari Surat Tugas Nomor 000/XXX/V/2026 yang diteken Kepala DPKH Brebes, drh. Ismu Subroto, M.Si pada 4 Mei 2026, menanggapi surat permohonan resmi dari SBB Training Centre.
Turunkan Formasi Lengkap: Dari Eselon II ke Pelaksana
Yang membuat pelatihan ini tidak kaleng-kaleng adalah komposisi tim pengajar. DPKH Brebes menurunkan formasi komplet untuk memastikan transfer ilmu dari hulu ke hilir tuntas:
drh. Ismu Subroto, M.Si – Pembina Utama Muda/IV-c, Kepala DPKH, pimpin langsung arah kebijakan dan manajemen strategis peternakan.
drh. Wiwin Kusumawati – Penata Tk.I/III-d, Medik Veteriner Ahli Muda, membedah biosekuriti ketat, deteksi dini penyakit AI/ND, dan kesehatan hewan.
Anggi Nova Melfia, S.Pt – Penata Muda/III-a, Pengawas Bibit Ternak Ahli Pertama, mengupas tuntas seleksi bibit unggul dan manajemen perbibitan.
Imam Satiyana, S.Pt – Penata Tk.I/III-d, Kasubbag Umum & Kepegawaian, mengawal tata kelola kelembagaan farm dan administrasi produksi.
Ardiyanto, A.Md – Pengatur Tk.I/II-d, Pengelola Layanan Operasional, membongkar teknis operasional kandang harian hingga record keeping.
“Operator farm itu garda terdepan. Kalau mereka salah urus, ayam bisa mati massal, FCR jebol, harga di pasar kacau. Ini bentuk keseriusan kami menjaga ketahanan pangan asal unggas Brebes,” tegas drh. Ismu Subroto, M.Si saat dikonfirmasi sebelum acara.
Bukan Sekadar Pelatihan, Tapi Tiket ke Malaysia
Perwakilan TUK LSP BNSP, Amir Syarifudin, menegaskan agenda hari ini adalah fondasi wajib. “Untuk bisa mendapatkan pengakuan formal dari negara yang berlaku internasional, individu harus ikut uji kompetensi BNSP. Syaratnya, melampirkan sertifikat pelatihan berbasis SKKNI. Jadi pelatihan ini adalah rangkaian sertifikasi,” ujarnya.
Rangkaian itu akan berlanjut ke uji sertifikasi kompetensi BNSP pada 9 Mei 2026. Hanya peserta yang lulus sertifikasi yang akan diberangkatkan bertahap ke Malaysia oleh PT Haena. Artinya, 400 pemuda ini sedang ditempa untuk jadi operator farm berstandar global yang tidak hanya andal di kandang, tapi juga paham standar kerja internasional.
Materi Sentuh Urat Nadi Industri
Materi yang dibawa tim DPKH dirancang untuk menjawab gempuran tantangan industri: wabah penyakit, fluktuasi harga pakan, hingga tuntutan pasar akan daging ayam ASUH. Peserta digembleng dengan ilmu level manajerial yang biasanya hanya didapat di tingkat supervisor:
Materi Teknis Unggas:
Manajemen kandang modern berbasis animal welfare
Penerapan biosekuriti level integrator dan deteksi dini penyakit
Pemilihan bibit unggul dan efisiensi pakan untuk tekan FCR
Manajemen SDM kandang dan pencatatan produksi digital
7 Unit Kompetensi Inti LPK:
Menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lembaga pelatihan kerja
Mengarsipkan dokumen lembaga pelatihan kerja
Melakukan komunikasi efektif di tempat kerja
Melakukan surat-menyurat di lembaga pelatihan kerja
Mengelola bahan pelatihan kerja
Mengelola peralatan kerja
Mengelola peserta pelatihan kerja
Banjarharjo Jadi Titik Tumpu
Pemilihan lokasi di Banjarharjo bukan tanpa alasan. Wilayah selatan Brebes ini merupakan kantong populasi ayam pedaging terbesar sekaligus sentra kemitraan perusahaan integrator. “Kalau mau benahi dari akar, ya mulai dari sini. Operatornya harus hebat dulu. Percuma kandang bagus kalau SDM-nya tidak standar,” tambah Ismu.
Target Keras, Monitoring Ketat DPKH Brebes menolak kegiatan ini jadi seremonial. Indikator keberhasilan dipatok tegas: mortalitas di bawah 3%, FCR maksimal 1.6, dan zero kasus penyakit strategis seperti AI dan ND. Performa 400 calon TKI akan dimonitor langsung di farm binaan PT Haena di Malaysia. Data performa akan jadi bahan evaluasi DPKH untuk perbaikan pelatihan berikutnya.
“Ke depan kami akan rutin turun. Jangan sampai peternak jalan sendiri. Kalau operatornya hebat, Brebes bisa jadi barometer unggas Jawa Tengah. Ini juga bukti Pemkab Brebes serius jadikan unggas sebagai penopang ekonomi daerah, penyangga inflasi pangan, sekaligus pencetak devisa negara. Yang kita kirim bukan buruh kasar, tapi tenaga terampil bersertifikat. Itu harga diri Brebes,” pungkas drh. Ismu Subroto, M.Si.red**
(Gus)












