Bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo, masyarakat menggelar kerja bakti di sepanjang kawasan Patiunus, Jalan KH. Mansyur, Kelurahan Mangunharjo. Kegiatan tersebut menjadi bentuk kolaborasi dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim penghujan.
Sejumlah unsur turut hadir dan terlibat langsung, di antaranya Lurah Mangunharjo beserta staf, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Ketua RW, para Ketua RT, serta jajaran BPBD Kota Probolinggo. Kehadiran berbagai pihak tersebut memperlihatkan pentingnya keterlibatan bersama dalam mengantisipasi persoalan lingkungan.
Tidak hanya memberikan imbauan, peserta kerja bakti juga turun langsung membersihkan selokan dan saluran air. Sampah yang menumpuk serta endapan lumpur diangkat agar tidak menghambat aliran air ketika hujan mengguyur kawasan permukiman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana berbasis masyarakat. Sebab, kondisi drainase yang kurang terawat dapat memperbesar kemungkinan terjadinya genangan, terutama ketika debit air meningkat akibat hujan dengan intensitas tinggi.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Probolinggo, Boedi Harjanto, melalui Sekretaris BPBD, Dedy Ristantama, menyampaikan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan unsur penting dalam membangun lingkungan yang tangguh terhadap ancaman bencana.
Dedy mengatakan, upaya mengurangi risiko banjir harus dilakukan melalui tindakan nyata dan tidak hanya mengandalkan penanganan ketika bencana sudah terjadi. “Kami mendorong masyarakat untuk menjadikan kebersihan saluran air sebagai perhatian bersama. Salah satu langkah sederhana dalam mengantisipasi banjir adalah memastikan tidak ada sampah maupun endapan lumpur yang menghambat aliran air,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Gerakan Gotku Resik menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pencegahan bencana dapat dimulai dari lingkungan terkecil. Menurutnya, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan agar upaya menjaga kebersihan tidak berhenti setelah kegiatan kerja bakti selesai.
Dedy juga berharap masyarakat semakin aktif melakukan pemantauan terhadap kondisi saluran air di wilayah masing-masing. Dengan pemeliharaan secara rutin, potensi penyumbatan dapat diketahui dan ditangani lebih awal sebelum menimbulkan persoalan yang lebih besar.
Di sisi lain, Lurah Mangunharjo, Ikrom Wida Utama, menilai kegiatan tersebut menjadi contoh positif bagaimana kebersamaan masyarakat dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang bermanfaat bagi lingkungan.
Menurut Ikrom, persoalan kebersihan dan kondisi saluran air membutuhkan perhatian berkelanjutan. “Kami ingin semangat gotong royong seperti ini terus tumbuh di tengah masyarakat. Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh warga yang tinggal dan beraktivitas di dalamnya,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan, khususnya ke saluran drainase, dapat menimbulkan dampak bagi lingkungan permukiman. Karena itu, kesadaran untuk menjaga kebersihan perlu dibangun mulai dari rumah tangga hingga lingkungan tingkat RW.
Ikrom berharap Gerakan Gotku Resik dapat menjadi pemantik bagi warga untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan masing-masing. Dengan keterlibatan masyarakat secara konsisten, kebersihan kawasan permukiman dapat terpelihara dan risiko genangan dapat ditekan.
Apresiasi terhadap pelaksanaan kerja bakti tersebut juga disampaikan Ketua RW 10 Kelurahan Mangunharjo, Didik. Ia menilai kegiatan bersama BPBD dan pemerintah kelurahan memberikan dorongan positif bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi saluran air di wilayahnya.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kebiasaan bersama untuk menjaga lingkungan. Saluran air harus menjadi perhatian warga karena apabila tidak dirawat dan dipenuhi sampah, dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat, terutama saat musim hujan,” kata Didik.
Ia menegaskan, peran warga sangat dibutuhkan untuk menjaga hasil kerja bakti agar tidak sia-sia. Pembersihan saluran air perlu diikuti dengan kebiasaan menjaga kebersihan serta tidak membuang sampah ke selokan.
Didik pun berharap komunikasi dan kerja sama antara pengurus lingkungan, masyarakat, pemerintah kelurahan, serta BPBD dapat terus terjalin. Dengan demikian, persoalan yang berpotensi mengganggu kenyamanan lingkungan dapat diantisipasi melalui koordinasi dan kepedulian bersama.
Gerakan Gotku Resik di RW 10 Mangunharjo juga menjadi gambaran bahwa mitigasi bencana tidak hanya berkaitan dengan kesiapan petugas, tetapi membutuhkan kesadaran masyarakat sebagai pihak yang paling dekat dengan kondisi lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, warga diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga fungsi drainase, memperhatikan kebersihan selokan, serta melakukan kerja bakti secara berkala. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih siap menghadapi perubahan cuaca dan potensi hujan deras.
Sinergi BPBD Kota Probolinggo, pemerintah Kelurahan Mangunharjo, aparat kewilayahan, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada kegiatan satu hari. Gerakan Gotku Resik diharapkan berkembang menjadi kebiasaan kolektif yang terus dijaga demi menciptakan lingkungan bersih, sehat, serta mengurangi risiko genangan dan banjir di kawasan permukiman.
Penulis : Septyan Dwi Cahyo














