OPINI Redaksi
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Garudaxpose.com l Jakarta—
Ada kalanya seseorang begitu mudah melihat kesalahan orang lain, begitu lantang berbicara tentang kebenaran, bahkan seolah-olah dirinya berada di posisi paling benar dan paling bersih. Namun, Islam mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah seberapa keras ia menilai orang lain, melainkan seberapa jauh ia mampu menjaga amanah, keadilan, lisan, dan perbuatannya.
Lebih memprihatinkan apabila seseorang yang dahulu pernah berada dalam posisi yang memiliki pengaruh dan kewenangan, tetapi ketika memiliki kesempatan tersebut tidak banyak memberikan perubahan berarti bagi masyarakat, justru setelah terjadi pergantian kepemimpinan kembali muncul dengan berbagai tindakan yang berpotensi mengusik ketenteraman.
Pertanyaannya sederhana: untuk apa kekuasaan, pengaruh dan suara yang besar jika pada akhirnya tidak menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat?
Terlebih lagi, di tengah kehidupan masyarakat kecil yang setiap hari berjuang mencari nafkah. Ada ayah yang bekerja dari pagi hingga malam, ada ibu yang berusaha mengatur kebutuhan rumah tangga, dan ada anak-anak yang menggantungkan masa depannya kepada penghasilan orang tua.
Bagi sebagian orang, sebuah persoalan mungkin hanya terlihat sebagai urusan kepentingan, kewenangan atau perbedaan sikap. Namun bagi rakyat kecil, terganggunya mata pencaharian bisa berarti berkurangnya uang belanja, sulitnya membeli kebutuhan sekolah anak, bahkan terancamnya kebutuhan makan keluarga.
Islam Tidak Membenarkan Kezaliman
Dalam ajaran Islam, keadilan merupakan prinsip yang sangat mendasar. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 90 bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan serta melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
Karena itu, siapa pun yang memiliki pengaruh seharusnya berhati-hati menggunakan pengaruh tersebut. Jangan sampai sesuatu yang dilakukan atas nama kebenaran justru menimbulkan mudarat kepada orang lain.
Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya tentang bahaya kezaliman. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa kezaliman akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.
Artinya, persoalan tidak berhenti pada penilaian manusia. Ada pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Jangan Merasa Lebih Suci
Islam juga mengajarkan manusia untuk tidak merasa dirinya paling suci.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Najm ayat 32:
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia tidak semestinya menjadikan dirinya sebagai hakim atas kesucian orang lain.
Seseorang boleh mengkritik kesalahan. Seseorang boleh menyampaikan dugaan pelanggaran. Bahkan masyarakat memiliki hak untuk meminta penegakan hukum apabila memang terdapat persoalan hukum.
Tetapi semuanya harus dilakukan dengan adil, berdasarkan fakta, tidak memfitnah, tidak merendahkan martabat, dan tidak menjadikan kebencian sebagai alasan untuk berbuat melampaui batas.
Jangan Ganggu Ketenteraman Demi Kepentingan Pribadi
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan kepentingan adalah sesuatu yang biasa. Pergantian pemimpin juga merupakan bagian dari dinamika kehidupan.
Namun, pergantian kepemimpinan semestinya tidak dijadikan alasan untuk terus mempertahankan konflik atau memperkeruh keadaan.
Apabila benar terdapat pelanggaran, sampaikan melalui mekanisme hukum dan institusi yang berwenang. Jika tidak ada bukti yang cukup, jangan membuat tuduhan yang dapat merusak nama baik seseorang.
Sebab Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.
Maka, semakin besar pengaruh seseorang, seharusnya semakin besar pula tanggung jawabnya menjaga ucapan dan perbuatannya.
Rakyat Kecil Jangan Dijadikan Korban
Hal yang sering terlupakan dalam sebuah pertikaian kepentingan adalah nasib masyarakat yang berada di bawah.
Mereka bukan pemain dalam perebutan pengaruh. Mereka hanya ingin bekerja, mendapatkan penghasilan, memenuhi kebutuhan keluarga dan memastikan anak-anak mereka tetap bisa sekolah.
Karena itu, setiap tindakan yang berpotensi menghilangkan mata pencaharian masyarakat harus dipertimbangkan secara matang.
Islam tidak mengajarkan seseorang untuk menutup mata terhadap persoalan hukum. Jika sebuah aktivitas memang melanggar hukum, penegakan hukum tetap harus dilakukan.
Namun, penegakan hukum harus berjalan dengan prinsip keadilan, proporsionalitas dan tidak boleh disertai kepentingan pribadi.
Jangan sampai atas nama pemberantasan kesalahan, masyarakat kecil justru menjadi pihak yang paling menderita.
Pernah Berkuasa, Kemudian Menjadi Pengkritik
Ada sebuah pelajaran penting bagi siapa pun yang pernah mendapatkan amanah jabatan.
Ketika seseorang berada dalam posisi berpengaruh, ia memiliki kesempatan untuk berbuat bagi masyarakat. Ketika kesempatan itu telah berlalu, yang seharusnya dilakukan adalah melakukan evaluasi, memberikan kritik yang konstruktif dan membantu menciptakan keadaan yang lebih baik.
Bukan justru menjadikan pergantian pemimpin sebagai momentum untuk memperbesar konflik.
Jabatan adalah amanah, bukan kehormatan yang harus dibanggakan selamanya.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.
Karena itu, orang yang pernah memiliki kewenangan seharusnya memahami betapa beratnya pertanggungjawaban sebuah amanah.
Londo Ireng: Kritik Boleh, Kekacauan Jangan
Istilah “londo ireng” mungkin digunakan masyarakat sebagai ungkapan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap gemar membuat keadaan menjadi kacau atau terus mengusik pihak lain.
Namun dalam perspektif Islam, kita tidak perlu memberikan cap buruk kepada seseorang.
Yang perlu dikritik adalah perilakunya, bukan menghakimi hati dan keseluruhan pribadinya.
Jika tindakan seseorang menimbulkan keresahan, kritiklah tindakannya.
Jika ada dugaan pelanggaran, buktikan melalui jalur yang benar.
Jika ada ketidakadilan, lawan dengan keadilan.
Dan jika ada perbedaan kepentingan, selesaikan dengan musyawarah.
Inilah cara yang lebih dekat dengan nilai-nilai Islam.
Bagaimana Kedudukannya di Hadapan Allah?
Tidak ada manusia yang dapat memastikan bahwa seseorang tertentu pasti mendapat murka Allah, pasti berdosa besar, atau pasti masuk neraka hanya berdasarkan penilaian terhadap perilakunya.
Allah-lah yang paling mengetahui isi hati dan seluruh amal manusia.
Namun, Al-Qur’an dan hadis telah memberikan peringatan yang sangat jelas: kezaliman, permusuhan, fitnah, penghinaan, mengambil hak orang lain, serta merugikan sesama adalah perkara yang harus dihindari.
Karena itu, siapa pun yang merasa sedang memperjuangkan kebenaran hendaknya terlebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah yang saya lakukan benar-benar untuk mencari ridha Allah, atau karena dendam dan kepentingan pribadi?
Apakah tindakan saya membawa kemaslahatan, atau justru membuat keluarga kecil kehilangan penghidupan?
Apakah ucapan saya berdasarkan fakta, atau hanya prasangka?
Apakah saya sedang menegakkan keadilan, atau sekadar ingin menjatuhkan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada merasa diri paling benar.
Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya akan berhadapan dengan penilaian masyarakat, tetapi juga dengan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Jangan Sampai Kebenaran Menjadi Alat Kesombongan
Kebenaran tidak membutuhkan kesombongan.
Orang yang benar tidak harus merendahkan orang lain untuk menunjukkan bahwa dirinya benar.
Orang yang memperjuangkan keadilan tidak perlu menciptakan penderitaan baru atas nama keadilan.
Islam mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar, tetapi pelaksanaannya tetap harus dilandasi ilmu, keadilan, hikmah dan akhlak.
Maka, siapa pun yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat hendaknya menggunakan pengaruh tersebut untuk meredakan persoalan, bukan memperbesar persoalan.
Sebab masyarakat kecil tidak membutuhkan pertikaian elite.
Mereka membutuhkan ketenangan.
Mereka membutuhkan kesempatan bekerja.
Mereka membutuhkan kepastian untuk menghidupi anak dan istrinya.
Dan mereka membutuhkan pemimpin maupun tokoh masyarakat yang mampu menghadirkan solusi, bukan menambah masalah.
Pada akhirnya, jangan merasa paling suci hanya karena sering berbicara tentang kesalahan orang lain. Jangan merasa paling benar hanya karena berdiri di sisi tertentu. Dan jangan menggunakan pengaruh untuk mengusik kehidupan orang lain.
Sebab manusia boleh saja mendapatkan tepuk tangan dari banyak orang, tetapi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT adalah perkara yang tidak dapat dihindari.
Kebenaran harus disampaikan dengan keadilan. Kritik harus disampaikan dengan bukti. Kekuasaan harus dijalankan dengan amanah. Dan kepedulian kepada rakyat kecil harus menjadi bagian dari akhlak seorang Muslim.
(Jasuti)












