Garudaxpose.com | PROBOLINGGO – Ruang Rupatama Polres Probolinggo menjadi tempat bertemunya jajaran kepolisian dengan sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai kampus di Kabupaten Probolinggo. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana dialog terbuka untuk membahas sejumlah persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.
Sebanyak 18 perwakilan mahasiswa dari HMI, PMII, BEM Proya, GMNI dan BEM PTNU hadir dalam agenda silaturahmi yang dipimpin langsung Kapolres Probolinggo AKBP Asmida Rizki Siregar. Sejumlah pejabat utama Polres Probolinggo turut mengikuti kegiatan tersebut.
Pertemuan itu tidak diarahkan sebagai kegiatan seremonial semata. Forum justru dimanfaatkan untuk mempertemukan perspektif mahasiswa dengan kepolisian terkait berbagai persoalan keamanan, penegakan hukum dan pelayanan publik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berbagai pertanyaan dan masukan disampaikan mahasiswa dalam forum tersebut. Mulai dari maraknya aksi begal, aktivitas patroli, dugaan tambang ilegal, pelayanan SIM dan Samsat, hingga persoalan narkotika serta peredaran minuman keras.
Kapolres Probolinggo AKBP Asmida Rizki Siregar menilai komunikasi dua arah seperti itu penting untuk menjaga hubungan antara kepolisian dan kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa.
Menurutnya, kritik yang disampaikan secara langsung dapat menjadi bahan evaluasi bagi institusi kepolisian sekaligus membuka ruang untuk mencari solusi atas persoalan yang berkembang di lapangan.
“Silaturahmi ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi wadah komunikasi dan bertukar pikiran. Kami terbuka terhadap kritik, saran maupun aspirasi dari rekan-rekan mahasiswa,” ujar Asmida.
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah aksi begal. Kepolisian memastikan upaya pencegahan dan penindakan terhadap kejahatan jalanan terus dilakukan sebagai bagian dari pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Kapolres juga meminta masyarakat ikut mengambil peran dengan segera memberikan informasi apabila mengetahui adanya kejadian atau potensi gangguan kamtibmas.
Layanan Call Center 110 disiapkan sebagai salah satu saluran yang dapat digunakan masyarakat untuk menyampaikan laporan kepada kepolisian.
“Polri tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan kerja sama seluruh unsur masyarakat. Informasi yang cepat sangat membantu kami dalam melakukan pencegahan maupun penindakan,” jelasnya.
Persoalan lain yang ikut mengemuka adalah aktivitas tambang ilegal. Menjawab hal tersebut, Kapolres menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan bersama pemerintah daerah.
Penanganan terhadap temuan di lapangan, lanjutnya, dilakukan melalui mekanisme hukum yang berlaku. Tahapan penyelidikan dan penyidikan akan ditempuh apabila ditemukan unsur yang memenuhi ketentuan pidana.
Dari sisi pelayanan masyarakat, mahasiswa turut mempertanyakan kesiapan warga dalam mengikuti ujian praktik Surat Izin Mengemudi (SIM). Polres Probolinggo kemudian menyampaikan keberadaan program “Jaldis” atau “Jajal Disek”.
Program tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan latihan sebelum mengikuti ujian praktik SIM. Kegiatan latihan dibuka untuk masyarakat umum dan dilaksanakan dua kali dalam satu pekan.
Melalui program tersebut, masyarakat diharapkan memiliki kemampuan dan kesiapan yang lebih baik saat mengikuti ujian praktik sekaligus semakin memahami keterampilan berkendara yang aman.
Sementara itu, persoalan narkotika dan minuman keras turut menjadi perhatian mahasiswa. Kedua persoalan tersebut dinilai perlu ditangani secara konsisten karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan persoalan hukum, tetapi juga lingkungan sosial dan generasi muda.
Kapolres menegaskan jajarannya akan terus melakukan penindakan terhadap pelanggaran hukum sekaligus memperkuat langkah pencegahan.
Patroli juga akan ditingkatkan dengan mendorong personel lebih aktif berada di tengah masyarakat. Kehadiran polisi diharapkan dapat mencegah potensi gangguan keamanan sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
“Selain penindakan, kami juga memperkuat patroli dan pencegahan. Anggota akan lebih banyak hadir di tengah masyarakat untuk mencegah gangguan kamtibmas,” tegas Asmida.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan harapan agar komunikasi dengan Polres Probolinggo tidak hanya dilakukan ketika terjadi persoalan. Mereka mendorong adanya kesinambungan dialog dan kerja sama dalam mengawal kepentingan masyarakat.
Bagi kepolisian, keterlibatan mahasiswa dapat menjadi bagian dari upaya membangun situasi kamtibmas yang kondusif. Masukan dari kalangan mahasiswa juga diharapkan mampu memberikan perspektif berbeda terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Kapolres Probolinggo memastikan pintu komunikasi dengan mahasiswa maupun kelompok masyarakat lainnya tetap terbuka. Ia menegaskan kritik yang konstruktif akan menjadi bagian dari evaluasi dalam menjalankan tugas kepolisian.
“Kami tidak ingin ada jarak antara Polres dengan mahasiswa maupun masyarakat. Kritik dan masukan menjadi pengingat bagi kami. Sinergitas ini akan terus kami jaga untuk bersama-sama membangun Kabupaten Probolinggo yang aman, nyaman dan kondusif,” pungkasnya. (Septyan)













