Keterangan:Aturan Tarkam PSSI Tegas, Pemain Afrika No.15 Dilarang Main Karena Tak Punya Bukti Domisili – Tiga Gol Gledek Imam Bagus, Cokor, dan Jiong Antar Jatibarang Tantang Brader FC di Grand Final
RENGASBANDUNG,BREBES,GarudaXpose.com//- Ribuan pasang mata tumpah ruah. Lapangan Sipung Jati, Desa Rengasbandung, Kamis (3/9/2026) sore, benar-benar menjadi lautan manusia. Sekitar 2.000 penonton memadati laga yang ditunggu – semifinal kedua Open Persaba Cup VII 2026.
Kick-off 16.20 WIB. Durasi 2×25 menit. Cuaca redup, temperatur 29°C. Laga Solidritas FC Jatibarang Vs Persekal FC Kalipucang.
Pertandingan berjalan aman, tertib, kondusif. Aparat TNI-Polri, Banser, Trantib dan seluruh panitia berjaga penuh mengamankan pertandingan. Sebelum kick-off, wasit cadangan Azmi mengecek kedua gawang. Laga dipimpin wasit utama Bung Bhaktiar, dibantu Abu Rizal dan Aan, di bawah pengawasan H. Dahudin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun drama sudah meledak sebelum peluit pertama.
Ofisial Persekal FC Kalipucang melayangkan protes keras. Mereka mempersoalkan pemain Afrika berkulit hitam di kubu Solidaritas, David Jarwo nomor punggung 15, yang tidak bisa menunjukkan bukti domisili atau visa kerja di Indonesia.
Kedua ofisial tim dipertemukan. Keputusan tegas: mengacu aturan PSSI untuk liga tarkam, pemain asing tidak diperbolehkan bermain kecuali bisa menunjukkan bukti identitas resmi tinggal di Indonesia. David Jarwo gagal menunjukkan bukti. Hasilnya: DILARANG TAMPIL.
Ofisial dan Manajer Solidaritas FC mengaku kecewa berat. “Mahal-mahal didatangkan dari Afrika, tapi tidak bisa main,” keluhnya.
Di atas lapangan, tanpa sang legiun asing, Solidaritas justru semakin menggila.
Pluit dibunyikan Bung Bhaktiar, babak pertama dimulai. Skema pelatih langsung adu tajam. Solidaritas FC lewat kapten Bagas, Jiong, Imam Bagus, Ansori, Cokor dibantu Aan bermain sangat apik. Sejak menit awal menguasai bola, menekan dan menembus benteng belakang Kalipucang yang dikawal kapten Jhon Darto, Ozan, Firdi dan kiper Iyan.
Menit 17 – GOL! Imam Bagus memanfaatkan bola liar. Sepakan sangat keras menghujam gawang Kalipucang. Kiper Iyan tak berkutik. 1-0. Tensi semakin tegang, kedua tim ngotot ingin lolos ke Grand Final yang sudah ditunggu Brader FC Sigambir, tim yang sehari sebelumnya menang dramatis atas Kebogadung lewat adu penalti 7-6.
Pluit turun minum dibunyikan.
Babak kedua, sisa 1×25 menit. Kedua pelatih terlihat panik, karena baru satu gol tercipta. Situasi krusial, serangan balik dan counter attack jadi kunci.
Manajer Solidaritas percaya diri, timnya menguasai permainan. Benar saja.
Menit 33 – GOL KEDUA! Striker bernomor punggung 10, Cokor, memanfaatkan peluang emas. Tendangan kaki kanan gledek, sangat keras, Iyan tak mampu menangkap derasnya bola. 2-0.
Manajer Kalipucang, Yopi, mencoba bangkit, instruksikan anak asuhnya kuasai permainan dan perkecil kekalahan. Namun tekanan bertubi-tubi Persekal kandas di barisan bek Solidaritas yang kokoh, kuat, dan susah ditembus.
Justru petaka datang dari serangan balik.
Menit 41 – GOL PENUTUP! Momen dan timing tepat. Bola kosong langsung dihajar Jiong, nomor 14, lewat tendangan gledek jarak jauh. Bola melesat tepat ke depan gawang, Iyan tak bisa menjangkau. 3-0! Fultime tanpa balas. Kalipucang tak berkembang dan tak berdaya.
Solidaritas FC Jatibarang resmi lolos ke Grand Final dan akan menantang Brader FC Sigambir pada Sabtu, 5 September 2026 di Lapangan Sipung Jati. Persekal FC Kalipucang harus puas juara 3 bersama Kebogadung.
Apresiasi Panitia dan Penonton
Ketua Panitia, H. Kasirun, S.Pd, mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada kedua tim dan seluruh penonton. Ia menyebut kerja ekstra keras panitia di semifinal terakhir ini terbayar lunas karena pertandingan berjalan sangat kondusif dan menjunjung tinggi fair play.
“Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih kepada kedua tim, Solidaritas FC dan Persekal FC yang sudah bermain fair play, sportif, dan luar biasa. Terima kasih juga kepada TNI-Polri, Banser, Trantib, dan seluruh panitia yang sudah bekerja ekstra keras mengamankan pertandingan. Semifinal terakhir harus kondusif, dan hari ini terbukti aman dan tertib,” ujar H. Kasirun, S.Pd.
Suasana rasa final sore itu juga dirasakan penonton. Salah satu penonton, Oji, mengaku sangat menikmati pertandingan. “Rasanya kayak nonton final beneran, jual beli serangan, tegang dari awal. Lapangan penuh, seru banget,” katanya.
Senada, penonton lainnya, Rizal, menambahkan, “Penonton puas, 2.000 orang lebih. Walaupun ada drama pemain Afrika tidak bisa main, tapi pertandingan tetap berkualitas. Fair play dan menghibur.”
Di akhir laga, wajah kecewa terlihat jelas dari David Jarwo. Pemain bernomor punggung 15 itu duduk di bench, tidak bisa membantu timnya sore ini.
ia mengatakan dengan nada kecewa:
“I am very disappointed today. I cannot play because I don’t have the documents. I really want to help my team this evening, but I cannot. I’m so sorry for the team and supporters. I hope we win in the final. Thank you.”***
(4905)













