Garudaxpose.com | BANYUWANGI – Suasana pertemuan petani di wilayah Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, berlangsung semarak dalam kegiatan “Jagongan Petani Guyup Rukun”, Kamis (20/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara petani dan berbagai pihak untuk membicarakan persoalan pertanian, khususnya keberlangsungan pengelolaan serta pemeliharaan jaringan irigasi yang menjadi penopang produktivitas lahan pertanian.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Pertemuan tersebut mengangkat agenda kegiatan operasional dan pemeliharaan Daerah Irigasi Baru Dam Karangdoro, dengan keterangan pada backdrop bahwa jaringan tersebut memiliki baku sawah sekitar 16.165 hektare.
Pertemuan ini juga dihadiri dan menghadirkan Dr. H. Zulkifli Hasan, SE., MM.,Dr.H Ir Guntur Priambodo MM ,H Ir Mujiono MSI . Kehadiran tokoh nasional tersebut menjadi perhatian para petani yang mengikuti kegiatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kondisi sektor pertanian yang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketersediaan air, biaya produksi, harga sarana pertanian, hingga kepastian hasil panen, forum semacam ini menjadi penting. Sebab, persoalan irigasi bukan sekadar menyangkut aliran air, tetapi berkaitan langsung dengan keberlangsungan produksi dan pendapatan petani.
Irigasi Menjadi Urat Nadi Pertanian
Dam Karangdoro dan jaringan irigasinya mempunyai posisi strategis bagi kawasan pertanian. Dengan cakupan baku sawah yang mencapai 16.165 hektare sebagaimana tercantum dalam materi kegiatan, pengelolaan irigasi membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan.
Persoalan yang harus dikawal bukan hanya bagaimana air tersedia ketika musim tanam berlangsung, tetapi juga bagaimana kondisi saluran, bangunan irigasi, pintu air, serta jaringan distribusi dapat terus berfungsi secara optimal.
Karena itu, kegiatan operasional dan pemeliharaan tidak semestinya hanya dipandang sebagai pekerjaan rutin administratif. Pemeliharaan jaringan irigasi harus benar-benar berorientasi pada manfaat yang dirasakan petani di tingkat lapangan.
Jangan sampai air tersedia di sumbernya, tetapi persoalan muncul ketika air harus didistribusikan sampai ke lahan petani.
Di sinilah pentingnya keterlibatan petani dalam menyampaikan kondisi nyata di lapangan. Petani merupakan pihak yang paling merasakan ketika terjadi gangguan distribusi air, kerusakan saluran maupun ketidaklancaran pola pembagian air.
“Guyup Rukun” Jangan Berhenti pada Seremonial
Tema “Jagongan Petani Guyup Rukun” juga membawa pesan penting bahwa persoalan pertanian tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak.
Petani, pemerintah, pengelola irigasi, kelompok tani, HIPPA/P3A, serta pemangku kepentingan lainnya harus memiliki komunikasi yang terbuka. Setiap persoalan yang muncul di lapangan harus dapat disampaikan dan dicari jalan keluarnya secara bersama.
Namun demikian, semangat guyup rukun tidak boleh berhenti sebatas acara seremonial.
Justru setelah forum berakhir, harus ada tindak lanjut yang jelas. Keluhan petani mengenai jaringan irigasi harus dicatat, diverifikasi dan ditangani sesuai tingkat kebutuhannya. Program pemeliharaan juga harus memiliki skala prioritas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab, bagi petani, yang paling penting bukan hanya siapa yang hadir dalam sebuah pertemuan, melainkan apa yang berubah setelah pertemuan tersebut dilaksanakan.
Petani Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Janji
Persoalan klasik sektor pertanian selama ini selalu berkutat pada tiga hal besar: air, biaya produksi dan harga hasil panen.
Ketika air tidak lancar, masa tanam terganggu. Ketika biaya produksi meningkat, keuntungan petani tertekan. Dan ketika harga hasil panen tidak memberikan kepastian, petani kembali berada dalam posisi yang rentan.
Karena itu, forum pertemuan petani harus diarahkan menjadi ruang untuk menyusun solusi konkret.
Khusus persoalan irigasi, diperlukan pemetaan kondisi jaringan secara berkala, penentuan titik-titik saluran yang membutuhkan pemeliharaan, serta mekanisme pengaduan yang mudah diakses petani.
Tidak kalah penting, transparansi mengenai program operasional dan pemeliharaan juga harus dikedepankan. Masyarakat petani berhak mengetahui bagaimana jaringan irigasi yang menopang lahan mereka dikelola dan dipelihara.
Momentum Memperkuat Pengawasan Bersama
Kegiatan di Tegalsari tersebut seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan bersama terhadap infrastruktur pertanian.
Semakin luas cakupan lahan yang dilayani, semakin besar pula tanggung jawab pengelolaannya. Infrastruktur irigasi tidak boleh hanya diperhatikan ketika terjadi kerusakan. Pemeliharaan preventif harus menjadi bagian penting agar kerusakan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar dan membutuhkan biaya lebih tinggi.
Petani juga memiliki peran penting dalam menjaga jaringan irigasi. Saluran air harus dijaga dari sampah, penyumbatan, maupun penggunaan yang dapat mengganggu distribusi air.
Pada akhirnya, “Jagongan Petani Guyup Rukun” harus menghasilkan hubungan yang lebih kuat antara petani dan para pengambil kebijakan. Dialog harus berujung pada kebijakan, kebijakan harus berujung pada pekerjaan nyata, dan pekerjaan nyata harus dapat dirasakan manfaatnya oleh petani.
Sebab, menjaga irigasi berarti menjaga sawah. Menjaga sawah berarti menjaga produksi pangan. Dan menjaga produksi pangan berarti menjaga masa depan masyarakat.
GarudaXpose.com – Tajam, Berimbang dan Berbasis Fakta.














