2026 Lebih Ganas dari 2023, 17 Kecamatan di Brebes Masuk Zona Merah Kekeringan

- Penulis

Jumat, 17 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BREBES,GarudaXpose.com//- Lonceng krisis pangan mulai berbunyi di Kabupaten Brebes. Kekeringan tahun 2026 diprediksi jauh lebih ekstrem dan lebih ganas dibandingkan kemarau tahun 2023 yang pernah memporak-porandakan ribuan hektare sawah.

Ancamannya nyata. Di atas kertas, laporan resmi potensi kekeringan sudah diterbitkan petugas pengamat. Di lapangan, faktanya jauh lebih mengkhawatirkan.

“Petugas pengamat potensi memang semangat karena laporan resmi untuk kekeringan itu ada. Tapi kalau lihat kondisi di lapangan, beberapa sumber air termasuk yang di kota kami itu sudah mulai menipis. Bahkan ada kegiatan irigasi yang rencananya mau dijalankan, terpaksa tertunda karena sumber airnya sudah tidak ada,” ungkap Kabid Sapras Pertanian Kabupaten Brebes, Azmi,Am dengan nada cemas saat ditemui Jumat, 17 Juli 2026.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Azmi menegaskan, untuk skala nasional, Jawa Tengah memang masih dalam kategori menengah. Titik paling parah justru terjadi di luar Jawa. Namun untuk Brebes, status menengah itu tidak boleh membuat lengah. Kabupaten dengan lahan pertanian terluas di Pantura ini justru menjadi yang paling rentan.

Jangan sampai tragedi 2023 terulang. Itu instruksi tegasnya.

Data yang dihimpun Dinas Pertanian Kabupaten Brebes sangat mengkhawatirkan. Setidaknya 17 kecamatan di wilayah Pantura Brebes kini masuk dalam zona merah kekeringan dan terancam gagal tanam dan gagal panen.

Empat kecamatan menjadi yang paling kritis dengan luasan terdampak terbesar: tahun 2023

1. Kecamatan Banjarharjo: 587 Hektare
2. Kecamatan Bulakamba: 261 Hektare
3. Kecamatan Tanjung: 244.28 Hektare
4. Kecamatan Losari:292.85

Hanya empat kecamatan saja, total 1.385,13 hektare sawah produktif di ujung tanduk. Jumlah itu belum termasuk 13 kecamatan lainnya yang debit airnya terus menyusut setiap hari.

“Ini baru data awal. Kalau puncak kemarau nanti di Agustus-September tidak ada intervensi serius, luasannya bisa berlipat ganda,” ujarnya.

Menghadapi ancaman defisit produksi pangan, Dinas Pertanian menyiapkan dua strategi, strategi darurat dan strategi teknologi.

Untuk strategi darurat, pemerintah akan memaksimalkan fungsi Dampari. Aliran Kal yang saat ini debitnya sudah sangat kecil akan dibendung secara darurat untuk menyelamatkan sawah-sawah di sekitarnya.

“Lewat Dampari di Kali Keli yang kecil itu dibendung, nanti bisa mengaliri sawah. Ini solusi cepat yang harus kita maksimalkan,” jelas Azmi.AM

Sementara untuk strategi jangka menengah, Dinas Pertanian mewajibkan petani menerapkan teknologi tanam Jajar Legowo (Jarwo) yang super hemat air. Teknologi ini merupakan program andalan Kementerian Pertanian melalui program Pertanian Modern.

Prinsipnya sederhana namun mematikan: memaksimalkan populasi tanaman dalam satu hamparan yang sama tanpa boros air.

“Dalam satu barisan itu tidak ada jarak tanam, jadi cuma antar kolom jarak tanamnya. Jajar legowo diperbanyak di pinggirnya. Itu akan memaksimalkan populasi di area pertanaman,” bebernya.

Hasilnya tidak main-main. Dari hasil uji coba, produktivitas rata-rata mampu mencapai 6 ton per hektare. Pada level demplot percobaan, hasilnya bisa meledak hingga 12 ton per hektare. Untuk aplikasi nyata di tingkat petani, pemerintah menargetkan minimal 10 ton bisa tercapai.

Teknologi ini diharapkan menjadi penutup defisit produksi saat puncak kemarau nanti.

“Kekeringan jangan sampai terulang seperti tahun 2023. Untuk 2026 ini, Kabupaten Brebes harus selamat. Tanam Jajar Legowo adalah kuncinya. Memaksimalkan penggunaan hemat air dengan Jajar Legowo,” pungkas Azmi.***

(4905)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dana “Gotong Royong Infak Anak-Anak” Rp950 Ribu per Tahun di SMPN 3 Genteng Dipertanyakan
Jutaan Batang Rokok Ilegal Jadi Abu, Bea Cukai Sibolga: Kami Tidak Tinggal Diam
Gema Wayang Santri di Luwungragi: Lakon Sayidin Macan Gembong dan Tamparan Keras untuk ‘Londo Ireng’ Masa Kini
Hilangkan Ruang Pungli, Perlu Optimalkan Digitalisasi Pelayanan Publik
Penusukan di Jalan Patuan Anggi, Polres Sibolga Tangkap Terduga Pelaku di Pinangsori
Pelantikan Kadus Hamit di Pendopo Desa Pondokdalem, Kades Sumaryono Hadir Bersama Tiga Pilar dan Sekcam Kecamatan Semboro
Warga Desa Lumut Maju Ditemukan Meninggal Dunia di Sungai, Polisi Lakukan Penyelidikan
Dini Hari di Pinangsori, Polisi Ringkus Pemuda Diduga Pengedar Sabu 0,39 Gram

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 12:55 WIB

Dana “Gotong Royong Infak Anak-Anak” Rp950 Ribu per Tahun di SMPN 3 Genteng Dipertanyakan

Kamis, 17 September 2026 - 08:19 WIB

Jutaan Batang Rokok Ilegal Jadi Abu, Bea Cukai Sibolga: Kami Tidak Tinggal Diam

Kamis, 17 September 2026 - 08:10 WIB

Gema Wayang Santri di Luwungragi: Lakon Sayidin Macan Gembong dan Tamparan Keras untuk ‘Londo Ireng’ Masa Kini

Kamis, 17 September 2026 - 02:17 WIB

Hilangkan Ruang Pungli, Perlu Optimalkan Digitalisasi Pelayanan Publik

Rabu, 16 September 2026 - 19:04 WIB

Penusukan di Jalan Patuan Anggi, Polres Sibolga Tangkap Terduga Pelaku di Pinangsori

Berita Terbaru