Garudaxpose.com|BANYUWANGI, Ibadah qurban pada Hari Raya Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan semata. Di balik pelaksanaannya, terdapat nilai spiritual, sosial, dan pendidikan keimanan yang sangat dalam sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Qurban menjadi simbol ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT sekaligus wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan. Perintah berqurban secara tegas termaktub dalam Surat Al-Kautsar ayat 2:
“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa qurban merupakan bentuk ibadah langsung yang diperintahkan Allah setelah manusia menerima berbagai nikmat dan karunia-Nya. Karena itu, qurban bukan hanya tradisi tahunan, melainkan manifestasi rasa syukur dan ketaatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa inti utama qurban bukan terletak pada daging maupun darah hewan yang disembelih, melainkan ketakwaan dan keikhlasan pelakunya. Hal itu dijelaskan dalam Surat Al-Hajj ayat 37:
“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.”
(QS. Al-Hajj: 37).
Makna ayat tersebut meluruskan pemahaman bahwa ibadah qurban bukan soal kemewahan atau besarnya hewan yang disembelih, melainkan sejauh mana keikhlasan dan ketakwaan seseorang dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Sejarah qurban sendiri berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, sebagaimana dikisahkan dalam Surat As-Saffat ayat 102–107. Dalam kisah itu, Nabi Ibrahim menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya sendiri sebagai bentuk ujian keimanan.
Dengan penuh kepatuhan, Nabi Ismail menerima perintah tersebut dengan kesabaran dan keikhlasan. Namun Allah SWT kemudian menggantinya dengan seekor hewan sembelihan yang besar.
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(QS. As-Saffat: 107).
Kisah tersebut menjadi simbol keteladanan tentang kepatuhan total kepada Allah, keikhlasan berkorban, dan pengorbanan demi menjalankan perintah-Nya.
Di sisi lain, ibadah qurban juga mengandung hikmah sosial yang sangat kuat. Islam mengajarkan agar daging qurban dibagikan kepada masyarakat, khususnya fakir miskin dan mereka yang membutuhkan. Hal itu ditegaskan dalam Surat Al-Hajj ayat 28:
“Maka makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang sengsara dan fakir.”
(QS. Al-Hajj: 28).
Melalui pembagian daging qurban, semangat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama semakin tumbuh di tengah masyarakat. Momentum Idul Adha menjadi sarana mempererat persaudaraan, mengurangi kesenjangan sosial, sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi kaum dhuafa.
Dalam pelaksanaan qurban tahun 1447 Hijriah ini, Yayasan Pondok Pesantren Aliyah Wali Mutamakkin yang berlokasi di Lingkungan Langring, Kelurahan Jambesari, Kecamatan Giri, Banyuwangi, bekerja sama dengan sejumlah donatur dari Singapura, yakni Ajmal Trading.SG, Al’s Kitchen, dan Kids Paradise.
Adapun jumlah hewan qurban yang disembelih meliputi:
Ajmal Trading.SG: 202 ekor kambing dan 2 ekor sapi.
Al’s Kitchen dan Kids Paradise: 132 ekor kambing.
Seluruh hewan qurban tersebut didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan di berbagai wilayah sekitar Banyuwangi sebagai bentuk kepedulian sosial dan penguatan ukhuwah Islamiyah.
Yayasan Pondok Pesantren Aliyah Wali Mutamakkin juga menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh donatur, khususnya para mitra dari Singapura, atas kepercayaan dan kepedulian yang diberikan melalui program qurban tahun ini. Pihak yayasan berharap sinergi kemanusiaan dan ibadah tersebut dapat terus terjalin, sehingga manfaat qurban semakin luas dirasakan masyarakat serta menjadi amal jariyah yang membawa keberkahan bagi seluruh pihak yang terlibat.










