Garudaxpose.com | Bali – Nyade ayah/purnabakti ayah dalam konteks Desa Adat di Bali adalah masa dimana seorang krama desa atau warga adat telah menyelesaikan atau dibebaskan dari kewajiban melakukan ayah – ayahan di desa adat atau banjar karena faktor usia yakni lanjut usia atau ingsir, sakit atau alasan lain yang sah menurut awig – awig desa adat setempat.
Beberapa poin terkait nyade ayah atau purnabakti ayah berdasarkan awig – awig biasanya diberikan kepada krama desa yang sudah berusia lanjut yakni berusia 70 tahun atau berdasarkan kesepakatan paruman. Kewajiban ayah – ayahan umumnya dialihkan ke anak laki – laki tertua menggantikan peran ayah desa yang sudah tidak lagi aktif atau sudah lingsir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bendesa Adat Sanding, I Wayan Sudiasa ketika ditemui Garudaxpose di kediamannya Banjar Mancawarna, Desa Sanding, Tampaksiring mengatakan, jika krama meninggal dunia, status istri yang ditinggalkan disebut balu bisa dikategorikan balu remban anaknya masih kecil atau balu ngelintik yaitu tanpa ayahan penyade, dimana ayahan dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi hanya ayahan perempuan.
I Wayan Sudiasa menjelaskan, awig – awig mengatur agar setiap krama desa terutama purusa melaksanakan kewajiban adat atau swadharma sebagai wujud Tri Hita Karana, namun tetap memberikan penghormatan bagi yang sudah lanjut usia atau purnabakti. “Ketentuan mendetail mengenai umur krama purnabakti dan jenis keringanan serta pengganti ayahan berbeda – beda di setiap desa adat dengan pararem,” kata I Wayan Sudiasa.
I Wayan Sudiasa menjelaskan, nyade ayah biasanya dikategorikan sebagai ayah ngarep atau ayah mamungkul, dimana krama diwajibkan untuk memberikan tenaga, waktu maupun punia secara penuh untuk kegiatan desa adat. Nyade ayah meliputi peran serta dalam berbagai kegiatan upacara panca yadnya dan kegiatan kemasyarakatan di desa adat. Dalam beberapa awig – awig, terdapat istilah ayah krama tapukan yang berarti krama tersebut diwajibkan mengikuti ayah dan iuran sebanyak setengah atau asibak dari kewajiban penuh. Jika krama desa tidak melaksanakan nyade ayah atau ayahan lainnya sesuai dengan awig – awig, mereka dapat dikenakan sanksi adat berupa danda.

“Kita melihat secara umum nyade ayah merupakan perwujudan gotong royong dan tanggung jawab krama dalam menjaga kasukretan desa adat secara sakala dan niskala,” kata I Wayan Sudiasa.
I Wayan Sudiasa menjelaskan, berdasarkan Perda Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, nyade ayah bentuk tidak baku dari nyada atau nyadaang ayahan umumnya merujuk pada kewajiban warga adat untuk melaksanakan tugas – tugas sosial keagamaan berupa ayahan di desa adat. Tentunya setiap warga adat wajib ikut serta dalam ngayah sebagai wujud partisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan keagamaan di desa adat. Di dalam awig – awig yang diakui oleh Perda, terdapat berbagai jenis ayahan, seperti ayahan ngarep yaitu tugas rutin wajib dan ayahan balu yaitu terkait status perkawinan.
“Desa adat tentunya berwenang mengatur rumah tangganya sendiri, termasuk mengatur tata cara ngayah, sanksi bagi yang tidak ngayah, dan bentuk kewajiban lainnya melalui awig – awig dan pararem,” kata I Wayan Sudiasa.
I Wayan Sudiasa menjelaskan, jika ada perselisihan terkait kewajiban ngayah atau sanksi adat berupa danda, penyelesaiannya dilakukan melalui Kerta Desa Adat. Perda desa adat menegaskan bahwa nyade ayah adalah bagian dari hak asal – usul, kedaulatan desa adat dalam mengatur warga adatnya untuk menjaga keseimbangan parahyangan, pawongan, dan palemahan. Nyade ayah sering juga disebut nyade, nyadean ayah – ayahan menurut pararem desa adat di Bali secara umum diartikan sebagai bentuk kewajiban sosial dan keagamaan yang dilakukan oleh krama desa adat. Pararem adalah hukum adat tertulis yang merupakan turunan dari awig – awig, yang diatur berdasarkan paruman desa.
“Nyade ayah adalah aktivitas gotong royong atau pelayanan wajib krama adat kepada desa adat, terutama terkait upacara keagamaan di pura khayangan tiga atau kegiatan sosial. Aturan nyade ayah yakni jenis pekerjaan, waktu dan sanksi berbeda antara satu desa adat dengan desa adat yang lain, disesuaikan dengan pararem, jadi nyade ayah adalah perwujudan aktif krama dalam menjaga ketertiban, keharmonisan dan pelaksanaan ritual di desa adat, yang diatur secara tertulis dalam pararem,” pungkas I Wayan Sudiasa. @ (suriasih)












