Gubernur Koster Buka Seminar Nasional “Mawali Ring Uluning Kertha
Garudaxpose.com l Denpasar-Bali- Menghadapi modernisasi, digitalisasi, dan masuknya pengaruh eksternal, pemimpin dan masyarakat Bali dituntut untuk menjaga Dresta Bali (tradisi/adat) secara sistematis tanpa bersikap reaktif atau emosional. Langkah yang diambil harus meminimalkan risiko konflik horizontal agar tidak mengganggu stabilitas pariwisata dan ekonomi Bali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal itu disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster saat membuka seminar nasional Mewali Ring Uluning Kertha dengan tema Strategi Penguatan Dresta Bali dalam mencegah dan menangkal intervensi Sampradaya Asing Ideologi Transnasional yang dilaksanakan oleh Forum Gerakan Adat Se-Nusantara (FORGAS) Provinsi Bali di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali pada Jumat (3/4) pagi.
Dalam sambutannya, Gubernur Koster menyampaikan seminar yang dilaksanakan bukan semata sebagai ajang diskusi dan dialogis, namun sebagai langkah strategis dalam penguatan Ideologi Bangsa yang berlandaskan Pancasila dengan berakar kuat pada tradisi dan kearifanlokal, khususnya yang tumbuh berkembang di tengah-tengah komunitas masyarakat adat.
“Bali tidak memiliki kekayaan sumber daya alam tambang (seperti minyak, gas, atau batu bara). Anugerah terbesar Bali adalah kebudayaan, yang menjadi hulu atau penggerak utama sektor pariwisata dan ekonomi. Jika budaya rusak, maka daya tarik Bali akan hilang,” tegasnya.
Koster menekankan jika fondasi utama menjaga budaya Bali adalah Desa Adat. Berbeda dengan Desa Dinas bentukan negara, Desa Adat adalah warisan sosiologis-historis leluhur. Oleh karena itu, penguatan kelembagaan ini dilakukan melalui penerbitan Perda No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, serta regulasi turunan untuk melindungi bahasa, aksara, dan busana Bali.
“Membangun atau mempertahankan budaya tidak bisa dibeli dengan uang. Ia membutuhkan rekayasa sosial, pemahaman ideologis, dan konsistensi, karena yang dihadapi adalah benda hidup (masyarakat) yang terus digempur oleh pengaruh eksternal,” terangnya.
Mengingat Bali adalah etalase dunia yang padat kepentingan, kebijakan yang diambil dikatakan Koster tidak boleh grusa-grusu atau konfrontatif. Pendekatannya harus dapdap dan arif. Ada kesadaran penuh akan konsep trade-off: satu sisi harus tegas menjaga budaya, tapi di sisi lain eksekusinya tidak boleh menciptakan distorsi, masalah baru, atau konflik horizontal yang justru akan menghancurkan iklim pariwisata dan ekonomi.
“Ini yang menjadi tantangan besar Kita ke depan semuanya. Yang harus kita jaga sama-sama di Bali ini. Karena kita tengah menghadapi faktor eksternal yang ingin berkembang di Bali. Ingin tumbuh di Bali. Ada yang positif, ada yang enggak. Salah satu yang bisa mengancam kalau Kita enggak waspada, tidak kerja secara sistematis maka Bali ini akan rusak. Untuk itu, drastabali ini harus dijaga dengan kuat,” tambahnya.
Untuk itu, Gubernur Koster berharap seminar yang dilaksanakan oleh FORGAS mampu mengedukasi masyarakat, khususnya para generasi muda maupun para tokoh-tokoh masyarakat untuk kuat dan teguh dalam menjalankan ajaran Hindu yang seutuhnya berdasarkan Tattwa, Susila, Acara berdasarkan Dresta Bali yang tumbuh dan dijaga oleh desa adat di seluruh Bali. Maka dari itu penguatan desa adat dan tokoh-tokoh masyarakat adat perlu dilakukan untuk mengedukasi dan menguatkan pemahaman merekapada ajaran Hindu Bali, Hindu Nusantara yang adiluhung. (Adi/Tra).
Gubernur Koster Doakan Minta Kerahyuan Jagat Bali
Garudaxpose.com l Bangli Bali – Gubernur Bali, Wayan Koster memohon kerahayuan jagat Bali saat melaksanakan persembahyangan pada Karya Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, Kabupaten Bangli pada, Kamis (Wraspati Wage, Watugunung) 2 April 2026.
Persembahyangan yang dilakukan Murdaning Jagat Bali, secara langsung didampingi oleh Pengemong Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Batur, Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar, Pangelingsir Puri Agung Ubud, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, dan Komjen Pol. Putu Jayan Danu Putra.
Usia melaksanakan persembahyangan, Gubernur Wayan Koster menyempatkan waktu berbaur bersama masyarakat menyaksikan Tari Wewalian di Madya Mandala Pura Ulun Danu Batur. Tari Wewalian tersebut, diantaranya meliputi Tari Rejang Dahabunga, Tari Batur, Tari Rejang Pemedak, Tari Baris Tumbak, Tari Rejang Desa Tejakula, Tari Baris Teruna, Tari Baris Jojor, Tari Baris Blongsong, Tari Bajra, Tari Presi, Tari Dadap, dan Tari Rejang Dee.(*)
Hari Pertama IBTK 2026 di Besakih Lancar, Pengelola Antisipasi Kebersihan
Arahan Gubernur Bali Tekankan Kenyamanan Pemedek hingga Detail
Garudaxpose.com l Karangasem Bali Pelaksanaan hari pertama sekaligus puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) 2026 di Pura Agung Besakih berlangsung lancar dan khidmat pada Kamis (2/4/2026). Ribuan pemedek dari berbagai daerah memadati kawasan suci tersebut untuk mengikuti rangkaian persembahyangan.
Kepala Badan Pengelola FKSPA Besakih, I Gusti Lanang Muliarta, mengatakan bahwa secara umum pelaksanaan hari pertama telah berjalan sesuai harapan, terutama dari sisi kelancaran arus lalu lintas dan kenyamanan pemedek.
“Kalau berbicara pemedek, target utama kami adalah lalu lintas yang lancar, parkir tertib, serta pergerakan pemedek yang nyaman dan aman. Itu semua sudah berjalan dengan baik pada hari pertama,” ujarnya saat ditemui di kawasan Parkir Kedundung.
Momentum puncak karya yang dikenal sebagai “Ida Bhatara Turun Kabeh” merupakan titik paling sakral sekaligus paling padat dalam rangkaian upacara di Besakih. Meskipun jumlah pemedek meningkat signifikan, kondisi di lapangan dinilai tetap terkendali.
Selain kelancaran akses, kebersihan kawasan menjadi perhatian utama pengelola. Lingkungan pura dijaga agar tetap bersih sehingga pemedek dapat menjalankan persembahyangan dengan khusyuk. Meski demikian, evaluasi tetap dilakukan sebagai langkah antisipasi, terutama terkait potensi peningkatan volume sampah seiring lonjakan kunjungan.
“Kami melihat potensi tersebut ada pada aspek kebersihan. Namun, kami sudah menyiapkan tim, mulai dari tim di parahyangan, perlemahan, angkutan, hingga pengolahan di TPS 3R. Jadi, hal ini sudah kami antisipasi dengan baik,” kata Muliarta.
Ia menambahkan bahwa berbagai sistem pendukung, termasuk pengaturan lalu lintas, fasilitas parkir, dan layanan transportasi, telah dipersiapkan secara maksimal untuk mengantisipasi kepadatan saat puncak karya.
Pada kesempatan tersebut, juga disalurkan bantuan sebesar Rp3,2 miliar melalui Gubernur Bali kepada panitia Karya IBTK 2026. Selain itu, hasil operasional tahun sebelumnya turut didedikasikan untuk mendukung pelaksanaan karya.
Muliarta menuturkan bahwa arahan Gubernur Bali juga mencakup hal-hal detail yang menunjang kenyamanan pemedek, seperti kelengkapan fasilitas toilet.;“Beliau sangat detail, bahkan hal kecil seperti fasilitas toilet yang perlu dilengkapi kaca atau cermin juga menjadi perhatian. Hal ini akan segera kami tindak lanjuti,” ujarnya.
Puncak Karya IBTK 2026 dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Sasih Kadasa dan akan berlangsung selama 21 hari hingga upacara penyineban pada 23 April 2026. Rangkaian upacara dipadati umat, dengan penekanan pada kebersihan kawasan suci serta penerapan larangan penggunaan plastik sekali pakai.
Secara keseluruhan, pelaksanaan hari pertama dinilai sukses dan terkendali. Namun, evaluasi dan imbauan tetap dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kelancaran dan kenyamanan pemedek selama rangkaian karya berlangsung. (Noer/Tra).














