
Oleh : H.Syahrir Nasution SE, MM
Garudaxpose.com l Mandailing Natal—, Sumatera Utara — Kabupaten Mandailing Natal mulai mendorong pemanfaatan pangan berbasis kearifan lokal sebagai bagian dari dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Upaya ini dinilai tidak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah, tetapi juga mengangkat kembali kekayaan kuliner tradisional Mandailing.
Sejumlah bahan pangan lokal seperti ubi, jagung, pisang, ikan sungai, hingga berbagai olahan hasil pertanian masyarakat mulai diperkenalkan sebagai alternatif menu bergizi dalam program MBG.
Langkah ini sekaligus menjadi strategi agar program nasional tersebut dapat berjalan selaras dengan potensi pangan daerah.
Tokoh masyarakat dan pelaku usaha kecil di Mandailing Natal menilai, pendekatan berbasis kearifan lokal sangat penting agar program MBG tidak sepenuhnya bergantung pada bahan pangan dari luar daerah.
Selain lebih segar dan mudah diperoleh, bahan pangan lokal juga memiliki nilai gizi tinggi yang telah lama menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat Mandailing.
Beberapa contoh pangan lokal yang mulai diperkenalkan antara lain olahan ubi dan jagung sebagai sumber karbohidrat alternatif, ikan sungai sebagai sumber protein, serta aneka sayuran lokal yang banyak dibudidayakan masyarakat pedesaan. Selain menyehatkan, menu berbasis pangan lokal ini juga dinilai mampu memperkuat ekonomi petani dan nelayan setempat.
Pengamat pembangunan daerah menyebutkan, jika dikelola dengan baik, program MBG bisa menjadi momentum kebangkitan sektor pangan lokal di Mandailing Natal.
Petani, nelayan, hingga pelaku UMKM kuliner berpotensi menjadi bagian dari rantai pasok program tersebut.
“Program ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai bantuan makanan, tetapi juga peluang besar untuk menggerakkan ekonomi desa melalui pangan lokal,” ujar salah satu pemerhati pembangunan di Madina.
Dengan mengangkat pangan berbasis kearifan lokal, Mandailing Natal diharapkan dapat menjadi contoh daerah yang mampu mengintegrasikan program nasional dengan potensi budaya dan sumber daya lokal yang dimiliki.
Langkah ini juga dinilai penting untuk menjaga identitas kuliner Mandailing agar tetap hidup di tengah arus modernisasi sekaligus memastikan generasi muda tetap mengenal makanan tradisional yang bergizi dan bernilai budaya tinggi.
(M.SN)
Post Views: 19
Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow