Hak Anak dan Hak Warga: Kebijakan Kepala Desa Tegal Kunir Lor Menuai Kritik

- Penulis

Jumat, 30 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garudaxpose.com | Tangerang – Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap anak di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, kini bergerak melampaui sekadar perkara hukum. Sorotan publik mengeras pada sikap dan nurani Kepala Desa Tegal Kunir Lor, yang kebijakannya patut dipertanyakan karena dinilai berseberangan dengan rasa keadilan warga.

Perkara ini bermula dari dugaan tindak pidana terhadap anak perempuan berinisial S.A., usia 6 tahun. Saat korban masih memikul trauma yang belum pulih, masyarakat justru dihadapkan pada kebijakan desa yang diduga mengabaikan dampak psikologis korban.

YLPK PERARI Kabupaten Tangerang bersama Advokat Kantor Hukum Hefi Sanjaya & Partners telah mendatangi langsung kepala desa. Dalam pertemuan tersebut, berdasarkan pernyataan yang disampaikan, kepala desa menyatakan tidak akan memberikan jaminan kepada anak terlapor demi menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pernyataan itu sempat dipahami sebagai komitmen moral. Mengingat rumah terlapor dan korban berdempetan, kebijakan yang tegas dinilai penting untuk mencegah ketakutan berulang serta potensi tekanan sosial terhadap korban dan keluarganya.

Namun, keesokan harinya, beredar informasi di tengah masyarakat bahwa kepala desa diduga mengingkari pernyataan awalnya. Muncul kabar bahwa jaminan justru diberikan, membuka jalan bagi status tahanan luar atau tahanan rumah.

Ironisnya, jaminan tersebut patut diduga dilegalkan secara administratif, memantik pertanyaan tajam di ruang publik: apakah stempel jabatan lebih didahulukan daripada empati dan kehati-hatian?

Kebijakan ini memicu keresahan luas. Warga menilai persoalan bukan meniadakan hak anak berhadapan dengan hukum, melainkan menjaga hak anak korban dan hak masyarakat atas rasa aman yang nyata, bukan semu.

Buyung E, aktivis Kabupaten Tangerang dari YLPK PERARI, menyatakan, “Kontrol sosial harus hidup. Ketika janji diucapkan lalu berbalik arah, masyarakat wajar mempertanyakan kelayakan etik pengambil kebijakan.”

Kegelisahan itu terhimpun dalam petisi dukungan 18 warga, termasuk tokoh masyarakat. Petisi tersebut mencatat adanya ketakutan kolektif serta menolak narasi yang diduga digiring seolah perkara telah selesai melalui jalan damai.

Warga sekitar membenarkan bahwa anak korban hingga kini masih mengalami ketakutan dan trauma, sementara lingkungan tempat tinggal dinilai belum aman karena terlapor masih berada di sekitar lokasi kejadian. Kondisi ini menimbulkan keresahan, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi warga lain yang memiliki anak-anak.

Warga juga menyoroti adanya ucapan dan sikap dari pihak keluarga terlapor yang menimbulkan kegelisahan, termasuk narasi yang memberi kesan terlapor kebal hukum. Selain itu, beredar penggiringan opini seolah-olah korban telah menerima penyelesaian tertentu, yang dinilai tidak benar dan berpotensi memperparah tekanan psikologis korban.

Kini publik menunggu kejelasan. Sebab dalam negara hukum, jabatan bukan perisai nurani. Ketika kebijakan desa melukai hak anak dan hak warga, suara masyarakat adalah pengingat bahwa kekuasaan sejatinya diuji oleh keberanian berpihak pada yang paling rentan.

 

(Spi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cerita Perwira AL Asal Banyuwangi, Berkali-kali Gugur Tes Kini Jadi Lulusan Terbaik Peraih Adhi Makayasa dari Presiden
InJourney dan Angkasa Pura Siapkan Roadmap Pariwisata Banyuwangi Mulai Event hingga Konektivitas
Bertemu Sopir Logistik, Wabup Banyuwangi: Pengemudi Urat Nadi Ekonomi Indonesia
Sembunyikan Ratusan Obat Keras dalam Tong Sampah, Seorang Pria Diamankan Polsek Cisoka Polresta Tangerang
Mau Lanjut S2? Simak Perbandingan Biaya Tiga Perguruan Tinggi di Probolinggo
Bupati Ipuk Dorong HIPMI Banyuwangi Jadi Lokomotif Perekonomian Daerah
Hadiri Akad Massal 62.000 KPR Rumah Subsidi, Menteri Nusron: Legalitas Tanah Beri Kepastian bagi Masyarakat
Menteri ATR/Kepala BPN Tetapkan Standar Waktu Layanan untuk Pengukuran Tanah dan Peralihan Hak

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 03:17 WIB

Cerita Perwira AL Asal Banyuwangi, Berkali-kali Gugur Tes Kini Jadi Lulusan Terbaik Peraih Adhi Makayasa dari Presiden

Senin, 3 Agustus 2026 - 03:15 WIB

InJourney dan Angkasa Pura Siapkan Roadmap Pariwisata Banyuwangi Mulai Event hingga Konektivitas

Senin, 3 Agustus 2026 - 03:14 WIB

Bertemu Sopir Logistik, Wabup Banyuwangi: Pengemudi Urat Nadi Ekonomi Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Sembunyikan Ratusan Obat Keras dalam Tong Sampah, Seorang Pria Diamankan Polsek Cisoka Polresta Tangerang

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:18 WIB

Mau Lanjut S2? Simak Perbandingan Biaya Tiga Perguruan Tinggi di Probolinggo

Berita Terbaru