Sengketa Lahan Warga Karya Jaya Dengan Perusahaan Tambang Tidak Ada Titik Temu, Warga Mendatangi DPRD Provinsi Sumsel Minta Pasilitasi

- Penulis

Sabtu, 28 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garudaxpose.com | Palembang, -Permasalahan sengketa lahan antara warga dengan sejumlah perusahaan tambang kembali mencuat dalam agenda audiensi yang digelar bersama Komisi I DPRD Provinsi Sumsel. Pertemuan tersebut membahas konflik kepemilikan dan batas lahan yang telah berlarut-larut selama lebih dari satu dekade, Sabtu (28/02/26).

Sekretaris Komisi I DPRD dari Fraksi Partai Gerindra, A. Taufik, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima langsung aspirasi warga terkait persoalan batas lahan yang berbenturan dengan area operasional perusahaan tambang, di antaranya PT Wahana Bara Sentosa dan PT Fortuna.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, terdapat sejumlah persoalan mendasar, mulai dari kejelasan batas wilayah, jenis dan status lahan, hingga dokumen kepemilikan yang masih perlu dipelajari secara mendalam.

“Kami hari ini menerima audiensi warga. Benang merahnya akan kami pelajari secara komprehensif. Setelah ini kami akan memanggil pihak perusahaan untuk klarifikasi. Dokumen-dokumen dari kedua belah pihak sedang kami padu padankan agar ada kepastian hukum,” ujar A. Taufik.

Ia menegaskan, DPRD juga akan berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, termasuk biro hukum dan biro pemerintahan, guna memastikan proses penyelesaian berjalan sesuai aturan. Rencananya, setelah Hari Raya Idulfitri, agenda lanjutan akan digelar dengan menghadirkan seluruh pihak terkait.

“Kami ingin semua pihak mendapatkan haknya. Masyarakat tetap menunggu kepastian hukum. Kami berupaya agar persoalan ini tidak berlarut-larut,” tambahnya.

Warga Mengaku Kesulitan Bertemu Manajemen

Sementara itu, perwakilan warga, Yamin, menyampaikan bahwa sengketa lahan ini terjadi di sejumlah titik, khususnya di RT 30 dan RT 40 Kelurahan Karya Jaya serta RT 29 Kelurahan Karya jaya. Warga mengklaim lahan yang mereka tempati dan kelola secara turun-temurun kini masuk dalam klaim operasional perusahaan tambang.

Menurut Yamin, selama ini warga telah berupaya mencari solusi dengan meminta pertemuan bersama manajemen perusahaan, namun belum pernah mendapatkan respons.

“Permasalahan ini sudah hampir 10 tahun lebih. Kami ingin duduk bersama dengan pihak manajemen, tapi tidak pernah ditemui. Bahkan untuk mengakses lahan yang kami klaim milik warga pun sulit,” ungkapnya.

Warga berharap DPRD dapat menjadi penengah sekaligus fasilitator agar sengketa ini menemukan titik terang. Mereka menginginkan kepastian status lahan agar dapat tinggal dan beraktivitas dengan aman tanpa bayang-bayang konflik berkepanjangan.

Menunggu Kepastian Hukum

Konflik lahan antara masyarakat dan perusahaan tambang bukanlah persoalan baru di sejumlah daerah. Biasanya, sengketa muncul akibat tumpang tindih dokumen, perubahan tata ruang, maupun perbedaan interpretasi terhadap batas wilayah operasional.

Melalui audiensi ini, DPRD berkomitmen mengurai persoalan secara objektif dengan memeriksa legalitas dokumen dari kedua belah pihak. Pemanggilan pihak perusahaan dijadwalkan sebagai langkah lanjutan untuk memperjelas duduk perkara.

Warga kini menaruh harapan besar agar proses mediasi dan klarifikasi tersebut dapat menghadirkan solusi yang adil, sehingga hak masyarakat terlindungi tanpa mengabaikan aspek hukum dan investasi daerah.

Dengan agenda lanjutan yang direncanakan usai Lebaran, semua pihak berharap sengketa lahan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini akhirnya menemukan titik penyelesaian yang jelas dan berkepastian hukum. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sumsel Membara! Aktivis Lintas Generasi Bersatu: Solid, Kritis, dan Pantang Terbela!
Peringati Hari LSM se-Dunia Gelar Diskusi Aspirasi Publik untuk Polri yang Humanis dan Akuntabel
Klarifikasi dan Penegasan Hukum atas Pemberitaan dan Tuduhan terhadap Program MBG TV
Skandal Makanan Roti Berjamur di MI Cipelem: Program Gizi Berkedok Mengancam Generasi Emas
Babi dan Korupsi: Sama-Sama Haram, Mengapa Beda Perlakuan
Gabungan Aktivis Pejuang Penegakan Hukum Berkeadilan Minta Kejagung RI Copot Oknum Kasi Pidsus Kejari Banyuasin Diduga Langgar Etik Kejaksaan
Kejari Banyuasin Bantah Isu Skenario OTT: Video Viral Hanya Salah Paham
Api Sempat Muncul, Pertamina Pastikan Lokasi Aman dari Gas Berbahaya

Berita Terkait

Sabtu, 28 Februari 2026 - 15:22 WIB

Sengketa Lahan Warga Karya Jaya Dengan Perusahaan Tambang Tidak Ada Titik Temu, Warga Mendatangi DPRD Provinsi Sumsel Minta Pasilitasi

Sabtu, 28 Februari 2026 - 11:06 WIB

Sumsel Membara! Aktivis Lintas Generasi Bersatu: Solid, Kritis, dan Pantang Terbela!

Jumat, 27 Februari 2026 - 23:39 WIB

Peringati Hari LSM se-Dunia Gelar Diskusi Aspirasi Publik untuk Polri yang Humanis dan Akuntabel

Jumat, 27 Februari 2026 - 23:26 WIB

Klarifikasi dan Penegasan Hukum atas Pemberitaan dan Tuduhan terhadap Program MBG TV

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:57 WIB

Skandal Makanan Roti Berjamur di MI Cipelem: Program Gizi Berkedok Mengancam Generasi Emas

Berita Terbaru