GarudaXpose.Com I Padang lawas- Kondisi akses jalan menuju Desa Prapat, Kecamatan Ulu Sosa, Kabupaten Padang Lawas (Palas), kembali menjadi sorotan masyarakat. Dari total panjang jalan yang membentang sejauh 5 kilometer yang menghubungkan simpang Gapura hingga ke jantung desa, baru sekitar 2,3 kilometer saja yang pernah dibangun dan diaspal baru 2 km pada masa pemerintahan terdahulu itupun saat ini Kondisinya memprihatinkan mengingat desa tersebut menyimpan potensi besar di sektor pariwisata cagar budaya serta kekayaan hasil alam perkebunan yang melimpah.
Hal ini diungkapkan langsung oleh Irwan Hasibuan, selaku tokoh adat di desa Prapat dan menyampaikan aspirasinya kepada awak media ini di lopo Isro Harahap desa Prapat kecamatan ulu Sosa, pada Jum’at (5/6/2026). Irwan Hasibuan menjelaskan sejarah pembangunan infrastruktur jalan di wilayah tersebut secara rinci, yang berjalan bertahap namun belum tuntas hingga saat ini.
Menurut penuturan Irwan Hasibuan pembangunan jalan pertama kali dilakukan pada tahun 2012, semenjak Padang lawas mekar dari kabupaten Tapanuli Selatan tepatnya saat masa pemerintahan Bupati Basyah Lubis SH Pada periode itu, jalan sepanjang 2 kilometer telah dibangun menggunakan jenis pengerasan aspal curah/lapen Kemudian, pembangunan dilanjutkan sedikit pada masa pemerintahan PLT Bupati Ahmad Zarwani Pasaribu, di mana dilakukan pembangunan Rapat Beton tambahan sepanjang kurang lebih 300 meter. Dengan bahu Rapat beton 4 meter persis turunan dan tanjakan menuju desa terkait Selebihnya, sisa jalan sepanjang hampir 2.7 kilometer lainnya hingga kini belum tersentuh pembangunan yang layak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi jalan yang di bangun pada pemerintahan terdaulu
Sudah rusak parah ini menimbulkan dampak nyata bagi kehidupan sehari-hari Irwan Hasibuan menceritakan keluhan utama masyarakat dan para pelajar yang harus melewati jalur tersebut setiap hari. Saat musim hujan tiba, jalanan berubah menjadi becek dan berlumpur, sangat licin serta berbahaya dilalui kendaraan maupun pejalan kaki. Sebaliknya, saat cuaca cerah di siang hari, jalan tersebut dipenuhi debu tebal yang beterbangan dan sangat mengganggu pernapasan serta kesehatan para pengguna jalan.
“Kami berharap besar kepada Pemerintah Kabupaten Padang Lawas untuk segera memperhatikan dan menyelesaikan pembangunan jalan ini. Bersama seluruh masyarakat Desa Prapat dan para pelajar, kami sangat berharap ada perbaikan. Saat hujan kami takut lewat karena berlumpur dan licin, saat siang berdebu parah sampai mengganggu pernapasan. Ini sangat memberatkan kami,” keluh Irawan dengan nada prihatin.
Lebih jauh, Irwan menegaskan bahwa pembangunan akses jalan di Desa Prapat bukan sekadar pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan kunci untuk membuka potensi besar desa tersebut. Desa Prapat diketahui memiliki situs cagar budaya bernama Liang Namuap, sebuah warisan sejarah yang bernilai tinggi dan berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan daerah Padang lawas
Selain itu, wilayah ini juga merupakan pusat penghasil hasil alam yang melimpah, baik dari perkebunan milik perusahaan maupun masyarakat, berupa kebun kelapa sawit dan karet. Jalan yang rusak dan tergelupas ini dianggap sangat menghambat mobilitas pengangkutan hasil bumi, sehingga secara langsung berdampak pada perekonomian warga dan kemajuan sektor pariwisata di Padang Lawas.
“Di sini ada Goa Liang Namuap, cagar budaya yang harus kita bangkitkan potensinya. Juga sawit dan karet adalah tumpuan ekonomi kami. Kalau jalannya sulit dilalui, bagaimana hasil bumi kami bisa keluar dengan mudah? Bagaimana wisatawan mau datang? Semoga pemerintah hadir dan memperhatikan hal ini demi kemajuan kita bersama,” harap Irwan Hasibuan mengakhiri pernyataannya.
Arman Effendi











