Pusat Gelar Percepatan PSEL Denpasar dan Rencana Groundbreaking Juni
Garudaxpose.com l Denpasar-Bali –Gubernur Bali Wayan Koster mematangkan percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang akan menjadi solusi jangka panjang penanganan sampah di Bali. Hal tersebut dibahas saat menerima perwakilan pemerintah pusat, Danantara, serta investor asal Tiongkok, Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd, yang ditunjuk untuk menggarap proyek Waste-to-Energy (WtE) di Denpasar dan Bekasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pertemuan yang juga Dihadiri Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Walikota Denpasar IGN Jaya Negara tersebut, Gubernur Koster menegaskan bahwa Bali siap menjadi daerah prioritas dalam pengembangan teknologi pengolahan sampah berbasis energi. Menurutnya, proyek ini sangat dinantikan masyarakat mengingat volume sampah di Bali terus meningkat seiring posisinya sebagai destinasi pariwisata dunia.
“Kami di Bali sudah satu tim, gubernur, wali kota, dan para bupati. Lahan sudah disiapkan, akses jalan sudah ada, dan sosialisasi kepada masyarakat juga sudah dilakukan. Masyarakat pada prinsipnya sudah setuju, jadi sekarang tinggal berjalan,” ujar Koster.
Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Bali akan memberikan dukungan penuh agar proyek tersebut bisa segera terealisasi. Pemerintah daerah juga meminta kejelasan timeline kerja dan progres pembangunan agar prosesnya dapat berjalan efektif.

“Kami siap mensupport apa pun yang dibutuhkan agar proyek ini berjalan lancar. Isu pengolahan sampah ini sangat ditunggu masyarakat Bali, jadi kita dorong percepatannya,” tegasnya.
Dari pihak pemerintah pusat, Deputi Bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan Nani Hendiarti menyatakan komitmen untuk mengawal percepatan pembangunan PSEL, termasuk koordinasi dengan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Danantara.
Menurutnya, proyek PSEL yang masuk batch pertama termasuk Bali, akan segera dibahas dalam rapat koordinasi terbatas pemerintah pusat. Targetnya, akan dilakukan peluncuran di empat lokasi pada 6 April mendatang yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS).

“Kami mohon dukungan dari pemerintah daerah untuk segera menyelesaikan PKS antara Pemda dan BUPP Danantara, termasuk komitmen jumlah volume sampah yang akan diolah setiap harinya,” ujarnya.
Pemerintah pusat juga menargetkan groundbreaking proyek PSEL di Bali dapat dilakukan pada akhir Juni 2026. Dalam masa transisi menuju operasional, pemerintah akan mengawal kebijakan penutupan TPA serta memastikan pengelolaan sampah tetap berjalan.
Sementara itu, perwakilan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd memastikan teknologi yang digunakan di PSEL Bali akan memenuhi standar emisi Eropa sehingga tidak mencemari udara.
Selain itu, fasilitas ini dirancang dengan sistem zero limbah air (lindi). Seluruh residu akan diproses secara maksimal sehingga tidak meninggalkan limbah yang mencemari lingkungan. Sebagian residu bahkan dapat dimanfaatkan kembali, misalnya menjadi conblock, paving block, dan material konstruksi lainnya.
Pemerintah pusat dan Investor juga menyiapkan dukungan tambahan berupa truk listrik pengangkut sampah untuk menunjang sistem pengelolaan sampah modern di Bali.
Dengan percepatan proyek ini, Bali diharapkan menjadi daerah pertama di Indonesia yang memiliki fasilitas PSEL skala besar, sekaligus menjadi model pengelolaan sampah terpadu bagi daerah lain di Indonesia.(Tutt/Tra).
Buka Bina Posyandu 2026, Putri Koster Tekankan Kader Kuasai Enam Bidang SPM
Garudaxpose.com l Denpasar-Bali – Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, Putri Koster, secara resmi membuka kegiatan Bina Posyandu Tahun 2026 yang untuk pertama kalinya dilaksanakan di Bali. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 10–12 Maret 2026, ini diikuti oleh kader Posyandu dari seluruh kabupaten/kota di Bali.

Dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan di Bapelkesmas Bali, Selasa (10/3), Putri Koster menegaskan bahwa kegiatan Bina Posyandu ini diselenggarakan untuk menyamakan persepsi terkait tugas dan tanggung jawab kader Posyandu yang kini tidak hanya berfokus pada bidang kesehatan, tetapi telah bertransformasi mencakup enam Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Ia menjelaskan bahwa dengan memahami dan menguasai setiap bidang yang menjadi tanggung jawabnya, para kader akan lebih mudah mengawal berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat. Enam bidang SPM tersebut meliputi kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, sosial, serta ketenteraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat (Trantibum Linmas).

“Saat memberikan layanan, apabila seorang kader berhadapan dengan kejadian atau permasalahan yang bukan di bidangnya, maka kader tersebut disarankan untuk mencatat dan melaporkannya kepada pimpinan yang membidangi agar segera dapat ditindaklanjuti. Hal ini penting untuk mendukung terwujudnya visi dan misi pimpinan serta program yang sedang dijalankan,” tegasnya.
Putri Koster juga mengingatkan para kader agar terus membekali diri dengan kemampuan, keahlian, serta kemauan untuk bekerja sama. Dengan demikian, kolaborasi dan sinergi antarbidang dapat berjalan selaras dalam mendukung pembangunan masyarakat.
Sebagai pembina, lanjutnya, kewajiban utama adalah memberikan pembinaan secara berjenjang, mulai dari tingkat pusat hingga ke tingkat bawah, sehingga kader memiliki pemahaman yang sama terkait peran dan tanggung jawab mereka di lapangan.

Di tingkat provinsi, tim pembina dan kepengurusan kader diharapkan mampu memberikan pengetahuan serta tambahan wawasan mengenai tugas dan fungsi kader Posyandu dalam upaya mewujudkan masyarakat yang sejahtera, sehat, cerdas, dan berpendidikan. Ia juga menegaskan pentingnya pelayanan kepada masyarakat tanpa membedakan latar belakang maupun status sosial.
“Kita wajib berada di tengah-tengah masyarakat, karena sebagai pembina Posyandu memiliki tanggung jawab untuk mengawal jalannya berbagai program yang sedang dilaksanakan. Dengan demikian, tidak ada pembedaan di antara masyarakat,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Putri Koster juga menitipkan pesan agar para kader Posyandu turut mengawal program pengelolaan sampah berbasis sumber melalui gerakan Palemahan Kedas yang dimulai dari lingkungan rumah tangga.

“Mari biasakan memilah sampah sejak dari rumah. Selain membangun kebiasaan baik, hal ini juga membantu petugas dalam proses pengangkutan dan pemilahan sampah di TPS3R. Dengan memilah sejak awal, proses pengelolaan sampah akan lebih cepat sehingga semakin banyak sampah yang dapat tertangani dan lingkungan pun menjadi lebih bersih,” ungkapnya.
Melalui pembinaan ini, diharapkan para kader Posyandu dapat semakin memahami tugas dan tanggung jawab di bidang masing-masing sehingga mampu bergerak bersama dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Noer/Tra).









