Marponcak Kekuasaan: Di Jarak Sedekat Itu, Maka Merangkul Bisa Berubah Menjadi Cekikan”

- Penulis

Selasa, 10 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garudaxpose.com l Medan (Sumut)—Dalam khazanah budaya Angkola dan Mandailing, marponcak bukan sekadar seni bela diri, melainkan ilmu membaca jarak, waktu, dan niat lawan. Ia mengajarkan bahwa dalam pertarungan jarak dekat, gestur yang tampak seperti rangkulan bisa sewaktu-waktu berubah menjadi cekikan mematikan. Di situlah filsafat kekuasaan bekerja: kedekatan bukan jaminan keselamatan, justru sering menjadi ruang paling berbahaya.
Presiden Prabowo Subianto, pada akhir Januari hingga awal Februari 2026, menggelar serangkaian pertemuan strategis dengan tokoh-tokoh yang dikenal kritis, nasionalis, dan kerap berada di luar lingkar inti kekuasaan. Pertemuan di Kertanegara dan Istana itu dibingkai sebagai dialog kebangsaan, membahas reformasi hukum, kepolisian, dan pengelolaan sumber daya alam—tema-tema sensitif yang selama ini menjadi titik api kritik publik.
Di permukaan, pertemuan ini dapat dibaca sebagai sinyal keterbukaan. Namun, dalam perspektif marponcak, langkah mendekat selalu menyimpan dua kemungkinan: membangun kepercayaan atau mengunci ruang gerak. Sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa kekuasaan jarang bekerja dengan jarak jauh; ia efektif justru ketika lawan diajak masuk ke lingkar terdekat.
Sun Tzu dalam The Art of War mengingatkan, “Dekatkan musuh ketika ia jauh, dan jauhkan ia ketika dekat.” Prinsip ini menegaskan bahwa strategi tertinggi bukan menghancurkan lawan secara frontal, melainkan mengatur posisi psikologisnya. Dialog, pertemuan, dan pelibatan adalah bagian dari manuver untuk membaca kekuatan, mengukur loyalitas, sekaligus mengendalikan narasi.
Dalam ilmu bela diri jarak dekat, posisi tubuh menentukan segalanya. Siapa yang menguasai poros, ia menguasai pertarungan. Dalam politik, poros itu adalah agenda. Ketika kritik tentang reformasi hukum dan kepolisian dibawa masuk ke meja kekuasaan, pertanyaannya bukan lagi apakah kritik itu didengar, melainkan siapa yang mengendalikan arah tindak lanjutnya.
Data kepercayaan publik terhadap penegakan hukum dalam satu dekade terakhir menunjukkan fluktuasi yang tajam, dengan kepolisian dan lembaga peradilan kerap berada di titik rawan legitimasi. Reformasi menjadi tuntutan objektif, bukan sekadar wacana moral. Namun, dalam logika kekuasaan, reformasi bisa dimaknai sebagai pembaruan struktural atau sekadar reposisi aktor tanpa menyentuh akar masalah.
Marponcak mengajarkan satu prinsip penting: jangan pernah kehilangan keseimbangan saat terlalu dekat. Dalam politik, keseimbangan itu adalah independensi sikap. Tokoh kritis yang masuk ke ruang dialog kekuasaan menghadapi dilema klasik: tetap menjadi pengawas atau perlahan menjadi bagian dari yang diawasi.
Sun Tzu menekankan bahwa kemenangan terbaik adalah menang tanpa bertempur. Mengajak oposisi atau pengkritik ke dalam percakapan strategis dapat meredam konflik terbuka, sekaligus melemahkan garis oposisi itu sendiri. Ini bukan selalu niat buruk, tetapi logika perang yang rasional dalam perebutan stabilitas.
Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa kekuasaan yang terlalu percaya pada manuver jarak dekat berisiko kehilangan sensitivitas terhadap suara rakyat. Ketika kritik dikelola di ruang tertutup, transparansi publik terancam. Reformasi hukum dan pengelolaan sumber daya alam menuntut mekanisme terbuka, bukan sekadar konsensus elite.
Dalam marponcak, kesalahan sepersekian detik bisa berakibat fatal. Dalam politik, kesalahan membaca situasi dapat melahirkan krisis legitimasi. Jika pertemuan-pertemuan strategis itu tidak diikuti kebijakan konkret yang terukur—indikator kinerja hukum, transparansi SDA, dan akuntabilitas kepolisian—maka rangkulan kekuasaan akan dibaca publik sebagai cekikan simbolik terhadap kritik.
Kekuasaan yang matang seharusnya tidak takut pada jarak. Ia mampu mengelola kritik dari luar tanpa harus selalu menariknya ke dalam. Sebab, tidak semua jarak harus dipersempit; sebagian justru perlu dijaga agar keseimbangan demokrasi tetap terpelihara.
Prabowo berada pada titik krusial: antara mempraktikkan strategi Sun Tzu secara cerdas atau terjebak dalam ilusi kendali. Marponcak mengingatkan bahwa pertarungan jarak dekat menuntut disiplin moral yang tinggi—tanpa itu, kekuatan berubah menjadi kebrutalan.
Pada akhirnya, sejarah akan menilai apakah rangkulan kekuasaan ini adalah upaya tulus membangun bangsa atau sekadar teknik mengunci lawan dalam jarak sedekat itu. Dalam politik, seperti dalam marponcak, niat sejati baru terlihat ketika tangan mulai mengencang—apakah untuk menopang, atau mencekik.
Penulis Adv.M. Taufik Umar Dani Harahap,SH., Merupakan Praktisi Hukum Dan Aktivis Gerakan Rakyat Banyak.
(M.SN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Brebes dalam Pusaran Dilema: Peternakan Sapi di Lahan Sawah Dilindungi, Kajian Ulang Penentu Nasib!
Jadi Tuan Rumah Muktamar PII, Palembang Sukses Besar
Walikota Padangsidimpuan Anggarkan Gaji Staf Khusus 450 JUTA
CACA SUMSEL Geruduk Kantor Walikota Palembang Terkait Dugaan Abuse of power di Dinas Pendidikan Kota Palembang
Terkait Tidak Tercapainya Target PAD, SIRA dan PST Dukung dan Desak Walikota Palembang Evaluasi Serta Copot Jajaran Pejabat BAPENDA Kota Palembang
Target Seluruh Provinsi Di Indonesia Terbentuk SBUJakon, Ini Beberapa Pesan Disampaikan
Ini Ungkap Ketua Komisi IV DPRD Prov. Sumsel Dalam Gelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) Bersama PT Putra Perkasa Abadi (PPA) Terkait Kejadian di Wilayah Kerja PT Bukit Asam (PTBA) Beberapa Waktu Lalu !!!
Cari Atlet Profesional, ORADO Kota Palembang Segera Gelar KEJURCAB 2026, Ini Informasi dan Daftar Selengkapnya !!!

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 14:56 WIB

Brebes dalam Pusaran Dilema: Peternakan Sapi di Lahan Sawah Dilindungi, Kajian Ulang Penentu Nasib!

Selasa, 10 Februari 2026 - 12:17 WIB

Jadi Tuan Rumah Muktamar PII, Palembang Sukses Besar

Selasa, 10 Februari 2026 - 11:38 WIB

Walikota Padangsidimpuan Anggarkan Gaji Staf Khusus 450 JUTA

Selasa, 10 Februari 2026 - 11:28 WIB

Marponcak Kekuasaan: Di Jarak Sedekat Itu, Maka Merangkul Bisa Berubah Menjadi Cekikan”

Selasa, 10 Februari 2026 - 07:53 WIB

CACA SUMSEL Geruduk Kantor Walikota Palembang Terkait Dugaan Abuse of power di Dinas Pendidikan Kota Palembang

Berita Terbaru