Kalikamal Menggelar Napas Budaya: Lesbumi MWC NU Brebes Padukan Udun-udunan, Doa, dan Seni Rakyat

- Penulis

Minggu, 15 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BREBES,GarudaXpose.com//-Dukuh Kalikamal, Desa Kedunguter, Kecamatan Brebes, berubah menjadi ruang pertemuan tradisi dan religi pada Jumat malam (13/3/2026). Lesbumi MWC NU Kecamatan Brebes menggelar “Pagelaran Rakyat & Udun-udunan” sebagai ikhtiar merawat akar budaya sekaligus meneguhkan kebersamaan warga di tengah arus modernisasi.

Sejak ba’da Isya, warga berdatangan membawa tikar, ingkung, dan aneka jajanan kampung untuk disantap bersama dalam prosesi Udun-udunan. Lampu teplok dan sorot sederhana memantul di wajah anak-anak yang duduk melingkar di depan panggung bambu. Aroma kemenyan tipis berpadu dengan lantunan selawat, menandai dimulainya doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat.

Ketua Lesbumi MWC NU Brebes, Riko Junaedi, S.Pd., menegaskan kegiatan ini bukan sekadar hiburan. “Ini ruang syukur: tradisi Udun-udunan dibingkai doa bersama, jadi warga tak hanya menonton, tapi terlibat. Kalau akar budaya kuat, identitas tidak mudah tercabut,” ujarnya di sela acara. Ia menambahkan, Lesbumi ingin menjadikan Kalikamal sebagai laboratorium budaya akar rumput tempat anak muda belajar dari sesepuh, dan sesepuh mendengar kegelisahan generasi baru.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Deretan tokoh hadir dan berbaur dengan masyarakat, antara lain Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes Fajar Adi Widiarso, S.Hut., M.Si.; dalang sekaligus praktisi psikologi seni Ki Haryo Susilo, S.Psi.; serta mubalig Ustadz Imam Chumedi, S.Sos.I. Kehadiran mereka tak berjarak; mereka duduk lesehan, menyapa warga, dan sesekali ikut menanggapi celetuk penonton.

Dalam Talk Show Kebudayaan yang dipandu pegiat lokal, para narasumber menekankan pentingnya merawat identitas bangsa lewat praktik keseharian. Ki Haryo mengaitkan struktur lakon wayang dengan kesehatan mental komunitas: “Cerita itu obat. Ketika warga punya ruang bercerita, energi kolektifnya pulih.” Ustadz Imam Chumedi menimpali dengan pandangan bahwa seni dan nilai keagamaan dapat berjalan seiring. “Selama tidak menabrak akidah dan akhlak, seni adalah bahasa dakwah yang lembut,” katanya, disambut anggukan warga. Fajar Adi Widiarso menambahkan dimensi kebijakan: menurutnya, pelestarian berbasis komunitas seperti ini adalah hulu dari pariwisata budaya yang berkelanjutan.

Panggung rakyat menampilkan ekspresi generasi muda secara bergantian. Atraksi Pencak Silat Pagar Nusa membuka malam dengan jurus-jurus tegas yang sarat semangat perjuangan dan penghormatan pada guru. Disusul tarian tradisional oleh remaja putri Kalikamal gerak gemulai yang menafsir ulang motif kearifan lokal Brebes, termasuk simbol lumbung dan sungai sebagai sumber kehidupan. Puncak pertunjukan diisi teater rakyat: lakon sederhana tentang rewang, gotong-royong memperbaiki musala, yang menyelipkan kritik sosial tentang gadget dan lunturnya sapa di ruang publik. Penonton tertawa, lalu hening saat monolog penutup mengingatkan bahwa “rumah” bukan sekadar bangunan.

Tak hanya pertunjukan, sudut panggung disiapkan untuk bazar UMKM: tape ketan, opak, telur asin, hingga kerajinan bambu. Perputaran kecil ekonomi warga itu, kata Riko, menjadi bagian dari “udun-udunan” dalam arti luas berbagi rezeki. Panitia juga membuka kotak donasi sukarela untuk perbaikan fasilitas TPQ setempat.

Fajar Adi Widiarso mengapresiasi inisiatif Lesbumi yang menghidupkan ekosistem budaya dari tingkat akar rumput. “Kegiatan seperti ini menjadi napas bagi pariwisata budaya kita. Ketika warga merawat tradisi, pemerintah tinggal memperkuat: fasilitasi ruang, kurasi konten, dan promosi yang tidak mencabut dari konteksnya,” ujarnya.

Menjelang tengah malam, acara ditutup dengan doa dan dialog hangat antara tokoh dan warga. Beberapa usulan mengemuka: pendataan manuskrip lokal, pelatihan mendongeng untuk guru PAUD, hingga penjadwalan pentas bergilir antar-dukuh. “Kami ingin tradisi tak berhenti di seremoni,” kata Riko. “Harapannya ada kalender budaya desa, kecil tapi rutin.”

Suasana Kalikamal malam itu menyisakan kesan sederhana namun dalam: budaya bukan barang museum, melainkan percakapan yang diulang setiap hari di halaman rumah, di musala, di panggung bambu yang lampunya mungkin temaram, tapi cahayanya sampai ke hati.red

(Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Silahturahmi Dengan Pelaku Wisata Banyuwangi, Pemkab Ajak Bersiap Sambut Libur Lebaran
Nikmati Wisata Pantai Pancer Puger Alam Nan Asri Dengan Tiket Murah Merakyat
Gubernur Koster Dukung Komunitas Driver Online Berbasis Desa Adat Nusa Dua
Turis Jerman Terpukau Pesona Air Terjun Alpancori, Harap Jadi Destinasi Unggulan Probolinggo
Gubernur Koster Jabarkan Tata Kelola Pariwisata Bermartabat dan Berkualitas
Gubernur Koster Gandeng Polda Bali Presisi Tangani Kasus Wisman Nakal
Sesuai Arahan Presiden RI, Soal Sampah, Gubernur Koster Pimpin Rakor Forkopimda se-Bali
Pasar Takjil di GWS Sukapura Dorong UMKM Lokal, Ramaikan Ramadhan 1447 H

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 16:43 WIB

Kalikamal Menggelar Napas Budaya: Lesbumi MWC NU Brebes Padukan Udun-udunan, Doa, dan Seni Rakyat

Jumat, 13 Maret 2026 - 11:39 WIB

Silahturahmi Dengan Pelaku Wisata Banyuwangi, Pemkab Ajak Bersiap Sambut Libur Lebaran

Jumat, 13 Maret 2026 - 04:18 WIB

Nikmati Wisata Pantai Pancer Puger Alam Nan Asri Dengan Tiket Murah Merakyat

Minggu, 8 Maret 2026 - 23:39 WIB

Gubernur Koster Dukung Komunitas Driver Online Berbasis Desa Adat Nusa Dua

Rabu, 4 Maret 2026 - 08:13 WIB

Turis Jerman Terpukau Pesona Air Terjun Alpancori, Harap Jadi Destinasi Unggulan Probolinggo

Berita Terbaru

Uncategorized

Gubernur Deru Resmikan Pusat Oleh-Oleh, Kampung Wakaf Palembang

Minggu, 15 Mar 2026 - 15:25 WIB