Photo/Gubenur Jawa Tengah Luthfi, Menyerahkan Bantuan tanah bergerak di Terima Bupati Brebes,Paramitha Widya Kusuma(Rabu,18/2/2026)
BREBES,GarudaXpose.com-Sebuah ancaman tak kasat mata terus membayangi Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Pergerakan tanah yang masif dan tak henti-henti telah memaksa 175 kepala keluarga, yang setara dengan 532 jiwa, meninggalkan jejak kehidupan mereka. Demi mengutamakan keselamatan, mereka kini harus bertahan di tenda-tenda pengungsian, menanti kepastian di tengah ketidakpastian pergerakan bumi di bawah kaki mereka. Bukan hanya sekadar data, di balik angka-angka tersebut terukir kisah-kisah getir pengorbanan, keberanian, dan harapan yang tak padam.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dengan sigap meninjau langsung lokasi pengungsian hari ini, Rabu (18/2/2026). Dalam kunjungannya, beliau tak hanya melihat kondisi riil di lapangan, namun juga memimpin Rapat Penanganan dan Penyerahan Bantuan yang berpusat di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al Munawir, Sirampog. Pesantren ini menjadi denyut nadi harapan bagi para pengungsi, menyediakan tempat bernaung sekaligus dukungan moral yang tak ternilai. Kehadiran pemimpin daerah ini bukan hanya sekadar formalitas, melainkan suntikan semangat yang menguatkan tekad warga untuk bangkit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam arahannya yang tegas namun penuh empati, Gubernur Luthfi menekankan urgensi tindakan. “Untuk tanah gerak ini, langkah paling realistis dan efektif adalah memindahkan orang dan barang ke tempat yang aman,” ujarnya, menegaskan bahwa tidak ada kompromi ketika menyangkut nyawa manusia. Beliau juga memberikan instruksi khusus untuk mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) agar warga bisa segera mendapatkan tempat tinggal yang layak dan aman. Prioritas utama adalah memastikan setiap warga terdampak mendapatkan perlindungan dan ketenangan yang mereka butuhkan, sebagai hak dasar yang tidak boleh terenggut oleh bencana.
Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes menggambarkan skala kerusakan yang memprihatinkan. Sedikitnya 143 rumah telah terdampak secara langsung. Dari jumlah tersebut, 10 unit mengalami kerusakan parah hingga tidak bisa dihuni lagi, sementara 124 rumah lainnya berada dalam bayang-bayang ancaman serius jika pergerakan tanah terus berlanjut. Tak hanya tempat tinggal, dua fasilitas ibadah dan dua institusi pendidikan juga tak luput dari dampak bencana. Lebih jauh, akses vital bagi warga, yaitu jalan desa sepanjang kurang lebih 700 meter, telah ambles dan tidak dapat dilalui, mengisolasi beberapa area dan mempersulit distribusi bantuan, memutus sebagian urat nadi kehidupan desa.
Situasi semakin rumit dengan fakta bahwa pergerakan tanah masih terus berlangsung aktif. Pemicu utamanya adalah curah hujan yang sangat tinggi di kawasan perbukitan Sirampog yang telah berlangsung berhari-hari. Analisis geologi menunjukkan bahwa arah longsoran cenderung bergerak ke barat daya, dengan potensi pergerakan susulan yang dinilai masih sangat tinggi dan bisa terjadi kapan saja. Kondisi ini membuat kawasan tersebut menjadi zona merah yang harus dihindari, sebuah peringatan alam yang tak bisa diabaikan.
Melihat kondisi yang kian mengkhawatirkan, Gubernur Luthfi dengan berat hati meminta seluruh warga terdampak untuk tidak kembali ke rumah mereka. Larangan ini bukan tanpa alasan; ini adalah upaya pencegahan demi menghindari risiko yang jauh lebih besar, bahkan ancaman kehilangan nyawa. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak ingin ada korban jiwa lagi akibat bencana ini, menjadikan keselamatan sebagai panglima tertinggi dalam setiap kebijakan.
Sebagai langkah konkret dan terkoordinasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menjalin komunikasi intensif dengan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Koordinasi ini bertujuan untuk mendapatkan rekomendasi teknis terbaik terkait penanganan permanen. Kabar baiknya, lahan petak 34G milik KPH Perhutani Pekalongan Barat telah direkomendasikan sebagai lokasi aman secara teknis untuk pembangunan hunian sementara (huntara) yang akan menjadi tempat tinggal baru bagi para pengungsi, sebuah titik terang di tengah kegelapan bencana.
Sementara pembangunan hunian permanen tengah diupayakan, Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al-Munawir di Dukuh Limbangan terus menjadi pusat pengungsian utama. Dapur umum yang didirikan dengan alokasi anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) beroperasi 24 jam penuh, memastikan kebutuhan pangan dan logistik dasar seluruh pengungsi terpenuhi dengan baik. Setiap bantuan yang datang didistribusikan secara merata, menunjukkan solidaritas yang kuat di tengah musibah, bahwa tidak ada yang sendirian dalam menghadapi cobaan ini.
Pada kesempatan kunjungan Gubernur, bantuan senilai total Rp175,97 juta secara simbolis diserahkan. Bantuan ini merupakan wujud gotong royong berbagai pihak: BPBD Provinsi Jawa Tengah menyumbang Rp18,24 juta, Dinas Sosial Jateng Rp90,77 juta, Dinas Ketahanan Pangan Rp18 juta, Dinas Kesehatan Rp11,77 juta, Dinas Pendidikan Rp27 juta, serta PMI Rp10,19 juta. Setiap rupiah yang disumbangkan memiliki makna besar bagi para korban, meringankan beban yang mereka pikul, dan menjadi bukti nyata kepedulian bersama.
Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas respons cepat dan terkoordinasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. “Terima kasih banyak atas bantuan dan penanganan yang cepat. Bahkan datang bersama OPD terkait. Masyarakat Brebes tidak perlu khawatir lagi, kita gotong royong, semua sudah disiapkan oleh dinas Provinsi Jawa Tengah,” ungkap Bupati, memberikan semangat dan keyakinan kepada warganya bahwa mereka tidak akan ditinggalkan dalam menghadapi situasi sulit ini.
Di balik data dan angka yang disajikan, ada kisah-kisah nyata perjuangan dan ketabahan. Susi Susanti, seorang ibu muda dari Dukuh Bojongsari, kini harus mengungsi bersama ketiga buah hatinya, termasuk bayi mungil berusia 10 bulan. Demi keselamatan sang buah hati, Susi memilih bertahan di pengungsian, beradaptasi dengan kondisi serba terbatas. “Saya cuma berharap popok, sabun, minyak telon, dan perlengkapan mandi bayi selalu tersedia. Itu yang paling penting untuk anak-anak saya,” ujarnya lirih, menggambarkan kebutuhan dasar yang tak boleh terlewatkan, kebutuhan yang menjadi cerminan perjuangan seorang ibu.
Kisah serupa datang dari Tona, yang rumah kayunya berdiri kokoh namun rentan di tepi hutan, dekat dengan aliran sungai. Setiap kali hujan deras mengguyur, ketenangan hidupnya terusik. Garis tepi sungai yang semakin mendekat menjadi mimpi buruk, menghantui pikirannya akan kemungkinan rumahnya terseret longsor. “Sekarang lebih parah. Tanahnya cepat sekali bergerak. Kalau malam hujan deras, saya tidak bisa tenang,” tutur Tona dengan wajah khawatir. Harapan terbesarnya adalah relokasi ke hunian tetap yang benar-benar aman. “Kalau hunian tetap, saya mau sekali. Supaya bisa hidup tenang,” ucapnya penuh harap, mewakili suara hati ratusan jiwa lainnya yang merindukan kedamaian dan keamanan yang telah lama terenggut.
Bencana tanah gerak ini sendiri bermula pada Rabu, 28 Januari 2026, sekitar pukul 18.00 WIB. Pemicu utamanya adalah cuaca ekstrem yang menyebabkan lereng dengan kemiringan sekitar 45 derajat bergerak masif ke arah aliran Kali Keruh, di tengah perbukitan tinggi Kecamatan Sirampog yang asri. Kini, warga Sirampog berharap, pergerakan tanah ini segera berakhir, digantikan dengan pergerakan pembangunan kembali harapan mereka untuk masa depan yang lebih stabil dan aman. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan kekuatan alam, namun juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan ketahanan dalam menghadapi cobaan.(Red/II)
(Agus)














