Garudaxpose.com| Probolinggo – Pondok Pesantren Darul Ulum Paiton menggelar Bazar Santri dalam rangka menyambut Harlah ke-136 yang mulai berlangsung Senin ( 09/02/26 ). Kegiatan ini terbuka untuk umum dan digelar selama tiga hari di lingkungan pesantren.
Bazar Santri diikuti oleh para santri dengan membuka berbagai stan usaha, mulai dari aneka kuliner, minuman, jajanan tradisional dan kekinian, hingga produk kreatif dan kebutuhan harian.
Selain santri, panitia juga memberikan kesempatan kepada masyarakat umum untuk ikut berjualan dengan menyediakan lapak khusus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak dibuka, bazar tampak ramai dikunjungi santri, wali santri, dan masyarakat sekitar. Antusiasme pengunjung terlihat dari padatnya area bazar serta aktivitas transaksi yang berlangsung di hampir setiap stan.
Salah satu pengunjung, Yeni Aprilia, warga Kecamatan Paiton, mengapresiasi pelaksanaan bazar tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberi manfaat langsung bagi santri dan masyarakat.
“Bazar ini ramai dan tertata. Selain belanja, kita juga ikut mendukung usaha santri dan warga sekitar,” ujarnya.
Dari sisi penjual, bazar dinilai mampu meningkatkan pendapatan. Siti Sulastri, salah satu penjual makanan dari warga sekitar pesantren, mengaku bersyukur bisa ikut berpartisipasi.
“Alhamdulillah, selama bazar ini pembeli cukup ramai. Kami merasa dilibatkan dalam peringatan Harlah pesantren,” tuturnya.
Sementara itu, salah satu panitia kegiatan Harlah, Moh. Sayedi menjelaskan bahwa Bazar Santri merupakan bagian dari rangkaian acara Harlah ke-136 Ponpes Darul Ulum Paiton.
“Rangkaian kegiatan Harlah diawali dengan pekan lomba, dilanjutkan jalan sehat, kemudian Bazar Santri yang digelar selama tiga hari, dan puncaknya akan dilaksanakan pada hari Rabu dengan agenda pengajian umum,” jelasnya.
Menurut panitia, rangkaian kegiatan tersebut bertujuan untuk memeriahkan Harlah sekaligus memperkuat kemandirian santri serta mempererat hubungan pesantren dengan masyarakat.
Peringatan Harlah ke-136 Ponpes Darul Ulum Paiton diharapkan menjadi momentum refleksi sejarah pesantren sekaligus penguatan peran sosial dan ekonomi pesantren di tengah masyarakat. ( bang. s )












