Garudaxpose.com | Tangsel – Pembangunan gedung SDN Jombang 03 senilai Rp18,8 miliar kini dalam kondisi kritis. Pantauan di lokasi pada Senin (05/01/2026) menunjukkan proyek masih amburadul dengan perancah besi yang masih mengepung gedung. Kondisi ini memicu dugaan kuat adanya kegagalan manajemen dalam pemanfaatan anggaran APBD 2025 yang bernilai fantastis tersebut.
Kejanggalan terlihat jelas saat awak media tidak menemukan satu pun Pelaksana Proyek maupun Konsultan Pengawas di lokasi. Absennya para penanggung jawab ini memunculkan dugaan bahwa pengawas selalu tidak ada ditempat untuk menutupi progres yang melambat. Padahal, proyek belasan miliar ini seharusnya diawasi ketat agar kualitas bangunan tetap terjaga.
Di lokasi, awak media hanya menemui seorang pria yang mengaku sebagai Subkontraktor (Subkon) pagar. “Saya sebagai Subkon Pagar, sekaligus para pekerjanya juga,” ujarnya. Ia juga membeberkan bahwa proyek ini melibatkan banyak Subkon lain, yang memperkuat dugaan adanya praktik sub-kontrak berlapis yang berisiko mengurangi mutu pengerjaan fisik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Banyaknya tangan kedua dan ketiga dalam proyek ini menimbulkan dugaan adanya pemotongan anggaran di tiap level Subkon. Akibatnya, pengerjaan menjadi tidak terkendali. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa progres pembangunan diperkirakan baru mencapai 80 persen lebih, jauh dari target penyelesaian yang seharusnya.
Buruknya tata kelola terlihat dari tumpukan beton drainase yang diletakkan asal-asalan hingga memicu genangan air keruh. Hal ini memunculkan dugaan pelanggaran prosedur keselamatan dan amdal. Pelaksana proyek terkesan hanya mengejar fisik bangunan tanpa memperhatikan dampak lingkungan serta kenyamanan warga sekitar dan pengguna jalan.
Dugaan adanya “main mata” atau pembiaran oleh pihak Dinas terhadap PT Pulau Intan Perdana. Jika tidak, mustahil proyek sebesar ini dibiarkan berjalan tanpa kehadiran pengawas resmi di lapangan pada jam kerja.
Kesan mewah dari warna-warni cat fasad gedung diduga hanya sebagai formalitas untuk mengejar laporan progres. Namun, fakta di lapangan menunjukkan infrastruktur dasar belum tuntas sepenuhnya. Dugaan manipulasi laporan progres di atas kertas pun mencuat jika dibandingkan dengan realita fisik yang masih berantakan.
Masyarakat menuntut audit investigatif segera dilakukan untuk membongkar keruwetan proyek SDN Jombang 03 ini. Jangan sampai uang pajak rakyat senilai Rp18,8 miliar hanya habis begitu saja tanpa menghasilkan gedung sekolah yang layak. Jika praktik ini terus dibiarkan, kualitas pendidikan di Tangsel dipertaruhkan demi keuntungan segelintir kontraktor.
(Nix)













