Warisan Kuasa dan Etika Bertahan Hidup Bangsa

- Penulis

Sabtu, 10 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : H. Syahrir Nasution Managing Directur : PECI Indonesia
Garudaxpose.com I Jakarta — Perdebatan tentang watak publik bangsa Indonesia kembali mengemuka: mengapa dalam praktik sehari-hari, sikap bermuka dua, kepatuhan semu, dan puja-puji kepada kekuasaan terasa begitu jamak?
Sejumlah pengamat menilai, fenomena ini tidak lahir dari karakter bawaan bangsa, melainkan dari sejarah panjang relasi kuasa yang membentuk cara bertahan hidup masyarakat.
Selama ratusan tahun, penduduk Nusantara hidup di bawah rezim yang silih berganti—kolonialisme Eropa, pendudukan militer, hingga pemerintahan pascakemerdekaan yang kerap meniru pola otoritarian lama. Dalam situasi seperti itu, kejujuran sering kali berisiko, sementara kemampuan membaca selera penguasa justru menjadi modal keselamatan.
Akibatnya, berkembang etika sosial yang menempatkan adaptasi di atas integritas. Loyalitas tidak dipahami sebagai komitmen nilai, melainkan sebagai strategi bertahan. Benar dan salah menjadi relatif, tergantung siapa yang sedang berkuasa.
“Dalam struktur kekuasaan yang tidak adil dan represif, masyarakat belajar satu hal: diam di depan, berkomentar di belakang,” ujar seorang sosiolog politik.
Pola ini lalu diwariskan lintas generasi, dibungkus sebagai kecerdikan sosial, meski sesungguhnya merupakan respons terhadap sistem yang menghukum keterbukaan.
Setiap rezim membawa simbol, jargon, dan moralitas baru. Rakyat pun menyesuaikan diri. Di ruang publik, kesetiaan dipertontonkan; di ruang privat, kritik disimpan. Dari sini muncul paradoks: religius secara simbolik, tapi transaksional dalam praktik; nasionalis dalam slogan, pragmatis dalam tindakan.
Namun menyederhanakan kondisi ini sebagai “cacat moral bangsa” dinilai keliru. Masalah utamanya justru terletak pada struktur kekuasaan yang menuntut kepatuhan tanpa menjamin keadilan. Selama sistem politik dan birokrasi lebih menghargai loyalitas personal ketimbang kebenaran, perilaku oportunistik akan terus direproduksi.
Sejarah, dengan kata lain, mengajarkan satu pelajaran pahit: ketika kejujuran tidak dilindungi, kepura-puraan menjadi rasional. Bukan karena masyarakat tidak bermoral, melainkan karena sistem memaksa mereka memilih antara idealisme dan keselamatan.
Pertanyaannya kini bukan lagi mengapa masyarakat bersikap demikian, melainkan kapan negara berani memutus warisan kolonial dalam praktik kekuasaan. Tanpa reformasi yang menempatkan keadilan, transparansi, dan perlindungan terhadap kritik sebagai fondasi, mentalitas bertahan hidup itu akan terus hidup—bahkan di era yang mengaku demokratis.
(M.SN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Seminggu Jelang Lebaran, Jalinsum Jembatan Merah–Simpang Gambir Rusak Parah: Mengapa Gubernur Sumut Bungkam?
Kepala SPPG Yayasan “Indonesia Terang benderang” batunadua Jae Diduga ajang korupsi dari Program MBG !
Sengkarut Sertifikat KPR BTN Palembang: Nasabah Lunas Sejak 2025, Hak Milik Masih “Disandera”
POLRES PALAS GELAR RAKOR LINSEK, SIAPKAN OPERASI KETUPAT TOBA 2026 UNTUK AMANKAN IDUL FITRI
Dugaan Tindak Pidana Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) di Lingkungan Sekretariat DPRD Kabupaten Banyuasin di Laporkan oleh PST Ke Kejati Sumsel
Mudik Nyaman Bersama Pegadaian, 238 Warga Diberangkatkan dari Palembang
Proyek Pelebaran Jalan Nasional Pantai Barat Disorot Keras: Tanpa Plang Proyek, Dugaan Material Tak Standar, Berpotensi Dilaporkan ke KPK
Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadhan, Brimob Polda Sumut Hadir Berbagi Sembako Untuk Santri Mandailing Natal

Berita Terkait

Kamis, 12 Maret 2026 - 11:23 WIB

Seminggu Jelang Lebaran, Jalinsum Jembatan Merah–Simpang Gambir Rusak Parah: Mengapa Gubernur Sumut Bungkam?

Kamis, 12 Maret 2026 - 11:08 WIB

Kepala SPPG Yayasan “Indonesia Terang benderang” batunadua Jae Diduga ajang korupsi dari Program MBG !

Kamis, 12 Maret 2026 - 11:01 WIB

Sengkarut Sertifikat KPR BTN Palembang: Nasabah Lunas Sejak 2025, Hak Milik Masih “Disandera”

Kamis, 12 Maret 2026 - 09:32 WIB

POLRES PALAS GELAR RAKOR LINSEK, SIAPKAN OPERASI KETUPAT TOBA 2026 UNTUK AMANKAN IDUL FITRI

Kamis, 12 Maret 2026 - 05:17 WIB

Dugaan Tindak Pidana Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) di Lingkungan Sekretariat DPRD Kabupaten Banyuasin di Laporkan oleh PST Ke Kejati Sumsel

Berita Terbaru

Bali

Rakor Program Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Kamis, 12 Mar 2026 - 16:27 WIB