“Ketika Panggung Pemerintahan Berubah Menjadi Panggung Keluarga”

- Penulis

Minggu, 30 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garudaxpose.com | Mandailing Natal — Gelombang pencitraan yang mengemuka beberapa pekan terakhir tampaknya bukan lagi sekadar strategi komunikasi biasa. Ia telah menjelma menjadi ritual politik yang repetitif, mengganggu, dan sarat dengan aroma pewarisan kekuasaan. Di balik senyum, seremonial, dan publikasi yang masif, publik kian mampu membaca pola: ada figur yang sedang “dipoles”, ada panggung yang sengaja “disiapkan”, dan ada kekuasaan yang hendak terus berputar dalam lingkar yang sama.

Fenomena ini tentu tidak tumbuh dari ruang kosong. Ia lahir dari keyakinan keliru sebagian elite bahwa kekuasaan adalah milik pribadi, bukan mandat rakyat. Bahwa jabatan dapat diwariskan, bukan dipertanggungjawabkan. Dari sinilah benih dinasti politik kembali tumbuh—diam-diam namun merusak rasionalitas publik dan mencederai martabat demokrasi.

Panggung Pemerintahan yang Disulap Menjadi Panggung Keluarga

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika kegiatan resmi pemerintah bergeser menjadi ajang promosi untuk figur tertentu, saat itulah garis etika pemerintahan telah dilanggar. Ketika fasilitas negara dipakai untuk mempercantik citra calon penerus, demokrasi mulai dipreteli sedikit demi sedikit. Dan ketika pejabat publik membiarkan hal itu berlangsung, maka persoalannya bukan lagi kelalaian—itu adalah kesengajaan politik.

Elite kekuasaan harus memahami satu hal: masyarakat hari ini jauh lebih melek informasi. Publik mampu membedakan mana pelayanan publik yang tulus dan mana pencitraan yang dipoles sedemikian rupa. Dan saat ini, masyarakat melihat dengan sangat jelas bahwa perhatian publik sedang diarahkan kepada satu figur yang belum tentu memiliki kapasitas, tetapi memiliki kedekatan darah atau kedekatan kepentingan.

Mosi Tidak Percaya: Bahasa Politik yang Sah

Dalam sistem demokrasi, rakyat memiliki hak untuk menyuarakan kritik, menggugat, bahkan menolak. Ketika gejala dinasti politik semakin kuat, mosi tidak percaya bukanlah tindakan ekstrem. Sebaliknya, ia adalah mekanisme etis untuk menjaga ruang publik dari penyalahgunaan kewenangan.

Mosi tidak percaya adalah pesan moral bahwa rakyat tidak ingin ditipu. Tidak ingin diseret dalam agenda pribadi petahana. Tidak ingin panggung pemerintahan berubah menjadi laboratorium pewarisan jabatan.

Publik berhak menuntut: hentikan pencitraan yang berkedok pelayanan publik. Hentikan politik keluarga. Hentikan skenario pewarisan kekuasaan yang merusak demokrasi lokal.

Kekuasaan Bukan Warisan

Jika pemerintah daerah ingin kembali meraih kepercayaan publik, ada satu syarat yang tidak bisa ditawar: kembalikan pemerintahan ke rel etika, bukan rel keluarga. Transparansi bukan hanya kewajiban administratif, tapi juga kewajiban moral. Tidak ada satu pun pejabat publik yang berhak mengubah institusi negara menjadi panggung keluarga.

Demokrasi hanya hidup ketika kompetisi politik berlangsung terbuka. Dan demokrasi mulai mati ketika kekuasaan diwariskan.

Hari ini, publik telah membaca tanda-tandanya. Jika pemerintah memilih untuk tidak peduli, maka rakyat berhak mengambil sikap paling politis yang dapat mereka lakukan: menyatakan mosi tidak percaya terhadap setiap langkah yang mengkhianati akal sehat publik.

Penulis : Muhammad Sudirmin Nasution

Editor : Saad Siregar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jelang Muscab IV, 9 PAC Demokrat Brebes Bulatkan Tekad Dukung Asrofi, Serukan Kebangkitan Partai
Jelang Muscab IV, 9 PAC Demokrat Brebes Bulatkan Tekad Dukung Asrofi, Serukan Kebangkitan Partai
Ketua PAC Bambang Supriyadi: Kepemimpinan Asrofi Terbukti, Bukan Janji – Demi Demokrat Berjaya Kembali di Brebes
Ketua PAC Bantarkawung: Asrofi Sosok Tegas dan Berkarisma, Layak Pimpin Demokrat Brebes Menuju Perubahan Nyata
Muscab IV Demokrat Jateng di Depan Mata, PAC Bumiayu Bulat Dukung Asrofi Nahkodai DPC Brebes
Komisi I DPRD Banyuwangi Acungi Jempol Kinerja Lapas Banyuwangi Gagalkan Berbagai Modus Penyelundupan Narkoba
Tegaskan Asrofi Pemersatu Kader, Ziyan Titip Pesan: Jadikan Demokrat Rumah Besar Anak Muda, Bukan Sekadar Obyek Kampanye
Tegaskan Asrofi Pemersatu Kader, Ziyan Titip Pesan: Jadikan Demokrat Rumah Besar Anak Muda, Bukan Sekadar Obyek Kampanye BREBES,GarudaXpose.com//– Musyawarah Cabang (Muscab) DPC Partai Demokrat Kabupaten Brebes Tahun 2026 yang dipusatkan di Kantor DPD Partai Demokrat Jawa Tengah, Semarang, pada Rabu, 15 Juli 2026, menjadi panggung konsolidasi penting bagi masa depan partai berlambang bintang mercy di wilayah Pantura. Di tengah forum tertinggi di tingkat kabupaten tersebut, dukungan moril dan politik yang tegas datang dari Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Partai Demokrat Kecamatan Brebes, Ziyan Basyarah Mansyur, S.Kom., M.M. Secara terbuka, Ziyan menyatakan sikap dan arah dukungannya kepada Bapak Asrofi sebagai calon Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Brebes yang dinilai paling layak untuk menakhodai partai ke depan. Dukungan ini, menurut Ziyan, lahir dari penilaian objektif atas kebutuhan organisasi, bukan sekadar kedekatan personal. Brebes sebagai salah satu DPC dengan struktur kader terbesar di Jawa Tengah membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya cakap secara manajerial, tetapi juga memiliki jiwa pengayom. “Saya menilai Bapak Asrofi mampu memimpin dan menyatukan seluruh kader, kemudian membangun semangat kebersamaan dan membawa Partai Demokrat semakin dekat dengan masyarakat,” tegas Ziyan saat ditemui di sela-sela Muscab. Pernyataan itu menggambarkan harapan besar agar di bawah kepemimpinan baru nanti, tidak ada lagi sekat antara pengurus DPC, PAC, Ranting hingga Anak Ranting. Semua harus melebur dalam satu semangat kebersamaan untuk merebut kembali hati masyarakat. Sebagai Ketua PAC Kecamatan Brebes yang juga datang dari kalangan akademisi dan kader muda, Ziyan membawa warna berbeda dalam Muscab kali ini. Ia menyuarakan aspirasi yang selama ini mungkin terpendam di kalangan generasi muda Demokrat. Ia menegaskan, Partai Demokrat harus bertransformasi menjadi partai yang modern, terbuka, dan menjadi rumah yang nyaman bagi anak muda Brebes untuk berpolitik dan berkarya. “Harapan saya sebagai kader muda Partai Demokrat, tentunya ingin Partai Demokrat kedepannya mampu menjadi rumah bagi generasi muda. Anak-anak muda tidak hanya menjadi obyek kampanye, tetapi harus dilibatkan dan diarahkan dalam kegiatan sosial dan pelatihan kepemimpinan,” ungkap Ziyan dengan penuh penekanan. Menurutnya, pelibatan anak muda tidak boleh bersifat seremonial. Mereka harus diberi ruang nyata dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, pemberdayaan ekonomi kreatif, hingga pendidikan politik dan pelatihan kepemimpinan yang berkelanjutan. Dari sanalah, Demokrat akan menemukan energi baru untuk menyongsong Pemilu 2029. Di tengah persaingan yang dinamis antar calon, Ziyan justru tampil sebagai penyejuk. Ia mengingatkan bahwa Muscab adalah pesta demokrasi internal untuk memperkuat partai, bukan untuk menciptakan perpecahan yang justru akan merugikan partai itu sendiri. Ia mengajak semua pihak untuk menjunjung tinggi sportivitas dan etika berorganisasi. “Mari kita jadikan Muscab ini sebagai momentum persatuan bukan perpecahan. Siapapun nantinya yang akan terpilih sebagai Ketua DPC Partai Demokrat merupakan bagian keluarga besar Partai Demokrat,” ujarnya. Pesan persatuan ini menjadi sangat relevan, mengingat soliditas menjadi kunci utama untuk membawa Partai Demokrat kembali menjadi partai yang diperhitungkan dan dicintai di Kabupaten Brebes. Soliditas di internal, kedekatan di eksternal. Itulah formula yang ia tawarkan. Menutup pernyataannya, Ziyan Basyarah Mansyur mengajak seluruh kekuatan struktural partai, mulai dari PAC se-Kabupaten Brebes, para Ketua Ranting, hingga seluruh simpatisan, untuk tidak ragu dan bersama-sama memberikan amanah kepada Bapak Asrofi. Ajakan ini menjadi penegas bahwa gerbong kader muda dan akar rumput di Kecamatan Brebes telah satu suara. “Saya mengajak kepada seluruh kader Partai Demokrat untuk memberikan dukungan kepada Bapak Asrofi untuk menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Brebes menuju Partai Demokrat yang semakin maju, semakin solid dan semakin dicintai masyarakat,” pungkasnya.*** (4905)

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:46 WIB

Jelang Muscab IV, 9 PAC Demokrat Brebes Bulatkan Tekad Dukung Asrofi, Serukan Kebangkitan Partai

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:39 WIB

Jelang Muscab IV, 9 PAC Demokrat Brebes Bulatkan Tekad Dukung Asrofi, Serukan Kebangkitan Partai

Kamis, 16 Juli 2026 - 07:48 WIB

Ketua PAC Bambang Supriyadi: Kepemimpinan Asrofi Terbukti, Bukan Janji – Demi Demokrat Berjaya Kembali di Brebes

Kamis, 16 Juli 2026 - 07:45 WIB

Ketua PAC Bantarkawung: Asrofi Sosok Tegas dan Berkarisma, Layak Pimpin Demokrat Brebes Menuju Perubahan Nyata

Kamis, 16 Juli 2026 - 07:39 WIB

Muscab IV Demokrat Jateng di Depan Mata, PAC Bumiayu Bulat Dukung Asrofi Nahkodai DPC Brebes

Berita Terbaru