Garudaxpose.com | Probolinggo – Kepergian Sefriel Ardiansyah menjadi kehilangan bagi keluarga sekaligus dunia olahraga Kota Probolinggo. Atlet panjat tebing berusia 19 tahun tersebut meninggal dunia dalam peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), ketika masa depannya di dunia olahraga masih terbuka.
Sefriel merupakan atlet binaan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Probolinggo yang telah mengukir sejumlah prestasi di tingkat provinsi. Dengan bekal pengalaman bertanding dan raihan medali selama beberapa tahun terakhir, namanya masuk dalam proyeksi atlet yang dipersiapkan untuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.
Kabar meninggalnya Sefriel turut mendapat perhatian Pemerintah Kota Probolinggo. Wali Kota Aminuddin mendatangi rumah keluarga almarhum di Jalan Serayu, Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, pada Sabtu (17/10) untuk menyampaikan belasungkawa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kunjungan tersebut, Aminuddin bertemu dengan keluarga yang masih berduka, termasuk kedua orang tua dan kakak almarhum, Indra Saefullah. Ia hadir bersama lurah setempat serta perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
“Atas nama Pemerintah Kota Probolinggo, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum Sefriel Ardiansyah. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” kata Aminuddin.
Bagi keluarga dan rekan-rekannya, Sefriel bukan sekadar atlet yang memiliki sejumlah penghargaan. Ia merupakan pemuda yang telah menekuni panjat tebing sejak sekolah dasar dan terus mengembangkan kemampuannya hingga bersekolah di SMK Negeri 2 Kota Probolinggo.
Aktivitasnya sebagai atlet masih berlanjut melalui latihan di GOR A. Yani. Ia juga tercatat pernah meraih medali perunggu pada Porprov serta medali emas dan perak dalam kejuaraan tingkat Provinsi Jawa Timur.
Sekretaris Umum FPTI Kota Probolinggo, Coach Agniz, menyebut Sefriel sebagai atlet berprestasi yang masih diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi daerah.
Pada Porprov 2027 mendatang, Sefriel direncanakan kembali masuk dalam proyeksi atlet panjat tebing Kota Probolinggo. Targetnya saat itu adalah meningkatkan pencapaian dengan meraih medali emas.
“Ananda Sefriel ini termasuk atlet berprestasi. Terakhir Porprov mendapat medali perunggu. Lalu kejuaraan di Provinsi Jawa Timur pernah dapat emas dan perak. Diproyeksikan ananda Sefriel akan mengikuti Porprov 2027, harapannya bisa mendapatkan medali emas. Namun, takdir berkata lain,” ujar Agniz saat berada di rumah duka.
Rekam jejak Sefriel pada kejuaraan tingkat provinsi periode 2022–2025 tercatat mencapai 13 medali, terdiri atas tiga emas, lima perak, dan lima perunggu. Capaian itu diperoleh melalui berbagai nomor, di antaranya lead beregu, boulder beregu, speed relay Youth A, boulder Youth A, lead Youth A, lead tim, boulder tim, speed, speed klasik, dan lead Youth B.
Di tengah duka yang menyelimuti rumah keluarga, Indra Saefullah masih mengingat komunikasi terakhir sang adik dengan keluarga. Ia mengatakan pertemuan terakhirnya dengan Sefriel terjadi pada Rabu (14/10), sehari sebelum peristiwa kebakaran.
Pada Kamis (15/10), ibu mereka masih sempat bertukar kabar dengan Sefriel. Dalam komunikasi tersebut, Sefriel menyampaikan bahwa dirinya ikut membantu mengantarkan air untuk mendukung penanganan kebakaran.
Saat itu, Sefriel bekerja di sebuah hotel di kawasan Gunung Bromo. Lokasi kebakaran disebut berjarak sekitar tiga kilometer dari tempatnya bekerja.
Indra mengatakan, keluarga tidak menyangka kabar mengenai aktivitas adiknya pada hari itu akan menjadi kenangan yang begitu membekas.
“Terakhir saya bertemu dengan Sefriel hari Rabu, sehari sebelum kejadian. Pada hari Kamis, ibu juga masih sempat bertukar kabar dengannya. Saat itu, Sefriel menyampaikan bahwa dirinya ikut mengantarkan air untuk membantu penanganan kebakaran. Kami benar-benar tidak menyangka akan kehilangan dia secepat ini,” tuturnya.
Indra mengenang Sefriel sebagai sosok yang cenderung pendiam. Namun, kedatangan banyak pelayat membuat keluarga menyadari bahwa sang adik memiliki banyak teman dan hubungan pertemanan yang luas.
“Kami mengenal Sefriel sebagai anak yang pendiam. Kami bahkan tidak menyangka ternyata dia punya banyak teman. Kehilangan ini tentu sangat berat bagi kami,” imbuhnya.
Kepergian Sefriel menyisakan dua hal yang akan terus dikenang oleh orang-orang terdekatnya: perjalanan seorang atlet muda yang telah membukukan prestasi dan harapan untuk melanjutkan perjuangan di arena panjat tebing yang tidak sempat terwujud.
Bagi Kota Probolinggo, Sefriel menjadi bagian dari perjalanan pembinaan atlet daerah. Sementara bagi keluarganya, ia tetaplah seorang anak dan adik yang kepergiannya meninggalkan duka mendalam.
Penulis : Septyan Dwi Cahyo















