Nyadran Karo 1948 Caka Desa Ngadirejo Alunan Ketipung Pelestarian Budaya Lokal Tengger

- Penulis

Senin, 3 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garudaxpose.com | Probolinggo – Rangkaian adat hari raya karo 1948 caka, suku Tengger desa Ngadirejo kecamatan Sukapura kabupaten Probolinggo.

Prosesi awal dengan penyambutan pintu awal hari raya karo dengan ritual takaning pitu, tumpeng gede, sesanti, penutupan sesanding, ngeroan, dan hari ini nyadran. Senin (03/08/2026)

Terus Berkelanjutan dengan pelaksanaan ujung ujungan, hiburan tayub, hingga acara penutupan deng ritual mulie ping Pitu, semua wajib dilaksanakan karena semua itu adalah acara satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam ritual hari raya karo.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yadran sendiri merupakan wujud kebersamaan masyarakat suku Tengger yang kental dengan budaya kearifan lokal untuk menghormati para leluhur, dengan serentak satu desa adat datang ke makam atau kuburan di wilayah masing masing.

Sedangkan di desa Ngadirejo sendiri masyarakat melaksanakan ritual nyadran di dua pemakaman adat yaitu di makam jenggiri dan makam Nglegong.

” Yadran merupakan penghormatan kepada para leluhur yang intinya kita lahir dan ada didunia ini karena adanya para leluhur yang hidup lebih dulu sebelum kita, prosesi yadran dengan berjalan bersama ke area makam desa dengan di iringi gamelan khusus ketipung Tengger, sedangkan masyarakat adat membawa sesajen berbagai macam suguhan Karo, dan beraneka macam bunga, untuk di persembahkan di makam para leluhur mereka dengan doa dipandu oleh dukun adat suku Tengger,” terang kepala desa Ngadirejo Anang Budiono.

Gamelan ketipung yang digunakan untuk mengiringi nyadran saat hari raya karo adalah bentuk pelestarian adat budaya asli suku Tengger yang sudah terjaga turun temurun.

“Kami setiap tahun pada perayaan Karo melaksanakan nyadran dengan sanak keluarga berjalan dengan berpakaian adat khas suku Tengger dengan diringi ketipung, serta memberikan persembahan kepada leluhur, utamanya untuk memberikan penghormatan pada leluhur terdahulu, selain itu nyadran mempererat rasa persaudaraan bagi masyarakat suku Tengger sendiri, karena setiap tahun bisa bertemu dalam ritual nyadran di makam adat suku Tengger,” pungkas Anik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Puluhan Karangan Bunga Penuhi Rumah Duka Martua Nainggolan, Bukti Jejak Baik Jurnalis Media Center Jayanti
Cerita Perwira AL Asal Banyuwangi, Berkali-kali Gugur Tes Kini Jadi Lulusan Terbaik Peraih Adhi Makayasa dari Presiden
InJourney dan Angkasa Pura Siapkan Roadmap Pariwisata Banyuwangi Mulai Event hingga Konektivitas
Bertemu Sopir Logistik, Wabup Banyuwangi: Pengemudi Urat Nadi Ekonomi Indonesia
Sembunyikan Ratusan Obat Keras dalam Tong Sampah, Seorang Pria Diamankan Polsek Cisoka Polresta Tangerang
Mau Lanjut S2? Simak Perbandingan Biaya Tiga Perguruan Tinggi di Probolinggo
Bupati Ipuk Dorong HIPMI Banyuwangi Jadi Lokomotif Perekonomian Daerah
Hadiri Akad Massal 62.000 KPR Rumah Subsidi, Menteri Nusron: Legalitas Tanah Beri Kepastian bagi Masyarakat

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 06:06 WIB

Nyadran Karo 1948 Caka Desa Ngadirejo Alunan Ketipung Pelestarian Budaya Lokal Tengger

Senin, 3 Agustus 2026 - 05:13 WIB

Puluhan Karangan Bunga Penuhi Rumah Duka Martua Nainggolan, Bukti Jejak Baik Jurnalis Media Center Jayanti

Senin, 3 Agustus 2026 - 03:15 WIB

InJourney dan Angkasa Pura Siapkan Roadmap Pariwisata Banyuwangi Mulai Event hingga Konektivitas

Senin, 3 Agustus 2026 - 03:14 WIB

Bertemu Sopir Logistik, Wabup Banyuwangi: Pengemudi Urat Nadi Ekonomi Indonesia

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Sembunyikan Ratusan Obat Keras dalam Tong Sampah, Seorang Pria Diamankan Polsek Cisoka Polresta Tangerang

Berita Terbaru

Olahraga

Senin, 3 Agu 2026 - 05:54 WIB