Garudaxpose.com | Probolinggo – Pergantian tahun Hijriah disambut Aliansi Wartawan Probolinggo Raya (AWPR) dengan cara sederhana tapi penuh makna. Tasyakuran 1 Muharram 1448 H digelar malam ini di kantor sekretariat AWPR.
Acara intinya doa bersama dan pemotongan tumpeng. Dua simbol itu dipilih karena merepresentasikan syukur dan harapan baru bagi organisasi.
Ketua AWPR Fahrul Mozza hadir memimpin rangkaian. Anggota dari berbagai media anggota AWPR ikut duduk bersama, tanpa sekat senior-junior.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pembuka acara adalah munajat bersama. Doa dipanjatkan untuk keselamatan seluruh wartawan, kelancaran liputan, serta keberkahan organisasi setahun ke depan.
Fahrul Mozza menyebut 1 Muharram sebagai momen reset. “Hijrah itu pindah dari yang kurang baik ke yang lebih baik. AWPR juga harus begitu, terus berbenah,” katanya.
Usai doa, tumpeng setinggi satu meter dipotong. Pisau pertama dipegang Fahrul, lalu potongan diserahkan ke Penasehat AWPR Hariadi sebagai bentuk penghormatan.
Pemilihan tumpeng bukan tanpa alasan. Bentuk kerucut dimaknai sebagai semangat naik, dari bawah menuju kualitas yang lebih tinggi.
Dalam sambutannya, Fahrul menekankan tiga hal untuk 1448 H: kompak, profesional, dan bermanfaat. “Semoga di tahun baru Islam ini seluruh anggota AWPR dapat semakin meningkatkan kebersamaan, profesionalisme, serta terus berkontribusi dalam menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia mengingatkan, kepercayaan publik adalah aset utama wartawan. Satu berita melenceng bisa merusak nama baik seluruh profesi.
Penasehat AWPR Hariadi menimpali. Ia meminta anggota menjaga kekompakan di tengah derasnya arus informasi digital.
“Saya berharap kepada seluruh anggota AWPR agar semakin kompak, saling mendukung, dan menjaga kebersamaan. Dengan kekompakan, organisasi akan semakin kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan ke depan,” tutur Hariadi.
Menurut Hariadi, organisasi kuat bukan karena gedungnya megah. Tapi karena anggotanya saling backup saat ada masalah di lapangan.
Suasana kekeluargaan makin terasa saat tumpeng dibagikan. Anggota ngobrol sambil makan, membahas rencana pelatihan jurnalistik dan kerja sama media.
Beberapa jurnalis muda memanfaatkan momen untuk bertanya ke senior. Diskusi mengalir ringan, dari teknik wawancara sampai etika pemberitaan.
Tidak ada orasi panjang malam itu. Pengurus memilih dialog santai agar pesan tahun baru Islam lebih meresap.
Tasyakuran ditutup tanpa seremoni berlebih. Harapannya satu: AWPR melangkah di 1448 H dengan hati yang lebih bersih dan kerja yang lebih solid. (dar)









