MUNDU, BREBES,GarudaXpose.com//– Dentuman bola pertama dari kaki Ketua PSSI Kabupaten Brebes menandai dimulainya hajatan sepak bola terbesar di Pantura Barat tahun ini. Turnamen terbuka Mubangju Cup 2026 resmi bergulir Rabu, 10 Juni 2026 di Gelora Mubangju, Desa Mundu, Kecamatan Tanjung, Brebes.
Laga pembuka babak 32 besar langsung menyuguhkan tensi tinggi: Perseka FC Karangreja kontra Diklat Kuningan. Tuan rumah Perseka tampil garang dan memastikan tiket 16 besar pertama lewat kemenangan meyakinkan 2-0. Sebaliknya, Diklat Kuningan harus mengubur mimpi lebih cepat dan angkat koper di laga perdana.
Ketua PSSI Kabupaten Brebes, Heri Fitriansyah, ST. melakukan tendangan simbolis di tengah lapangan sebagai tanda dimulainya turnamen. Momen itu disaksikan Bendahara PSSI Drs. Bambang Purwanto, Tri Boedy Hermanto, Kapolsek Tanjung Budi Santoso, Danramil Tanjung Ari, serta ratusan warga Mundu yang tumpah ruah di tribun Gelora Mubangju.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Desa Mundu, Wukirno, A.Ma.Pd, dalam sambutannya menekankan Mubangju Cup 2026 adalah pesta rakyat yang wajib dijaga marwahnya. “Ini hiburan kita bersama. Pertandingan sudah diserahkan penuh kepada tim wasit. Apapun keputusan wasit itu mutlak. Penonton dan pemain harus legowo,” tegas Wukirno. Ia memastikan seluruh wasit yang bertugas profesional dan tidak memihak. Turnamen resmi dibuka dengan ucapan basmalah.
Ketua Panitia, F. Rizky Wildan Ardiansyah R, S.Pd, menyebut Mubangju Cup 2026 memakai sistem gugur langsung. Pesertanya adalah kesebelasan pilihan bersertifikat resmi ASKAB dari Brebes, Tegal, Bandung, Cirebon, dan daerah tetangga. “Sudah direncanakan lama, alhamdulillah hari ini bisa terlaksana,” ujarnya.
Di lapangan, kedua tim tampil ngotot sejak peluit pertama. Jual beli serangan terjadi sepanjang 90 menit. Namun Perseka FC lebih klinis di depan gawang. Dua gol tanpa balas cukup mengantar Karangreja melenggang, sekaligus jadi tim pertama yang menjejak 16 besar.
Laga dipimpin wasit utama Bung Sony Ade, dibantu wasit cadangan Bung Azmy dan pengawas pertandingan Bung Eros.di bantu tim medis dari Rumah sakit Dhera Asyifa Banjarharjo Panitia berharap tensi panas di lapangan tidak merembet ke tribun. “Tahan emosi. Ini olahraga, ini hiburan,” pesan Kades Wukirno menutup sambutan.
Usai laga, Heri Fitriansyah menegaskan Mubangju Cup bukan sekadar perebutan trofi. “Ini etalase pembinaan usia muda di Pantura Barat. Talenta dari Brebes, Tegal, Bandung, Cirebon kumpul di sini. Siapa yang siap mental, dia yang bertahan,” katanya. Ia meminta seluruh tim menjunjung fair play hingga partai puncak nanti.
Mubangju Cup 2026 masih panjang. Sistem gugur memastikan tiap laga adalah hidup-mati. Dari Mundu, publik sepak bola Pantura menanti: siapa yang akan bertahan, siapa yang akan jadi bintang baru.
Pungkasnya, bola sudah menggelinding di Mundu. Tugas pemain, wasit, dan penonton kini sama: menjaga marwah turnamen agar tetap jadi hiburan rakyat, bukan ajang permusuhan.***
(Agus)









