Photo doc kegiatan :Agus
BREBES,GarudaXposem,com//— Lebih dari sepuluh tahun masyarakat di barat Brebes menanti. Menanti jalan yang tak lagi memaksa mereka menahan napas setiap musim hujan, menanti akses yang tak lagi menggerus waktu dan hasil panen di tengah lubang. Hari ini, penantian itu telah menjelma beton yang kokoh.
Melalui Program Instruksi Presiden Jalan Daerah Tahun Anggaran 2026, ruas-ruas vital di Kecamatan Losari dan Banjarharjo kini berdiri tegak dengan konstruksi beton. Jalan Losari–Prapag Lor, Prapag Kidul–TPI, Losari–Bojongsari, Bojongsari–Cikakak, hingga Cikakak–Kobokan tak lagi sekadar peta di atas kertas. Ia kini urat nadi yang menghubungkan denyut kehidupan warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jalan yang Memulihkan Waktu
Bagi Hendri, warga Losari, jalan bukan sekadar aspal yang menghitam. Ia adalah waktu yang kembali. “Dulu ke pasar bawa hasil tani harus pelan-pelan, takut jatuh, takut rusak. Sekarang, setengah jam yang biasanya hilang di jalan berlubang, bisa kami pakai untuk hal lain,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).
Ucapan terima kasih ia sampaikan untuk Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma dan Wakil Bupati Wurja. Namun lebih dari itu, yang ia rasakan adalah kembalinya martabat sebuah perjalanan: aman, cepat, dan manusiawi.
Lebih dari Sekadar Beton
Pemerintah Kabupaten Brebes menegaskan, pembangunan ini bukan proyek tunggal. Ia bagian dari ikhtiar pemerataan. Ketika jalan mulus, anak tak lagi terlambat ke sekolah karena becek. Ibu tak lagi waswas melepas suami mengantar dagangan ke kota. Petani tak lagi menghitung susut hasil panen karena guncangan di jalan rusak.
Ruas yang diperbaiki ini adalah jalur strategis. Ia mengikat pusat ekonomi, pendidikan, dan layanan publik yang selama ini terasa jauh bagi warga barat. Sinergi Pemkab Brebes lewat Dinas Pekerjaan Umum dengan Kementerian Pekerjaan Umum menjadi kunci: pembangunan yang tepat sasaran, karena mendengar denyut paling bawah.
Menyemai Produktivitas dari Jalan
Jalan beton ini tak berhenti pada kenyamanan. Ia adalah undangan bagi ekonomi untuk tumbuh. Distribusi hasil pertanian lebih lancar, biaya angkut terpangkas, pedagang kecil berani berekspansi. Truk pengangkut bawang merah dari Cikakak kini tak lagi antre di bengkel kaki-kaki tiap pekan. Ojek pangkalan di Bojongsari mengaku penghasilan harian naik karena lebih banyak tarikan.
Bahkan geliat wisata mulai terasa. Akses menuju Tempat Pelelangan Ikan di Prapag Kidul yang dulu dihindari wisatawan luar kota karena jalan rusak, kini mulai ramai dikunjungi pemburu kuliner laut segar. “Jalan mulus itu bukan akhir, tapi awal,” begitu pesan yang tersirat dari pembangunan ini.
Komitmen yang Berkelanjutan
Kepala DPU Kabupaten Brebes menyebut, konstruksi beton dipilih agar usia jalan lebih panjang dan minim perawatan, cocok untuk jalur dengan beban kendaraan angkutan hasil bumi. Ini bukan pekerjaan sekali jadi. Pemkab memastikan pengawasan dan pemeliharaan rutin tetap berjalan,o agar invest7îasi besar ini tak sia-sia.
Bupati Paramitha Widya Kusuma menegaskan, barat Brebes tak boleh lagi jadi halaman belakang pembangunan. “Konektivitas adalah keadilan. Kalau jalannya baik, anak Losari punya kesempatan yang sama untuk maju seperti anak di kota,” tegasnya dalam keterangan terpisah.
Di Losari dan Banjarharjo, jalan kini punya arti baru: ia mempersingkat jarak, sekaligus memperpanjang harapan. Ia membuka peluang, agar potensi lokal tak lagi tertahan kubangan.
Sebab pada akhirnya, membangun jalan adalah membangun kehidupan. Dan ketika jalan di barat Brebes mulus, yang bergerak bukan hanya kendaraan. Tapi juga mimpi, kerja, dan kesejahteraan yang kian nyata, pungkasnya.***
(Agus)











