Photo doc:Agus
BREBES,GarudaXpose.com//-Pemerintah Kabupaten Brebes menyalurkan 2.056 paket Bantuan Sosial Wareg Sedoyo (Wardoyo) Tahap I Tahun 2026. Bantuan berupa sembako untuk pemenuhan kebutuhan dasar keluarga kurang mampu dan kelompok rentan.
Penyaluran dipimpin Bupati Brebes Hj Paramitha Widya Kusuma yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Brebes Subandi. Turut hadir Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Asisten Administrasi Umum, Kepala Dinsos Imam Baehaqi, dan Camat Tanjung. Salah satu penerima manfaat adalah Umairoh, warga Desa Sengon.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penyaluran untuk Kecamatan Tanjung dilakukan Minggu, 24 Mei 2026, di Aula Kecamatan Tanjung. Penyaluran Tahap I ini dilaksanakan serentak di lima kecamatan pada hari yang sama.
Lokasi penyaluran tersebar di 5 kecamatan: Tanjung 412 paket, Losari 412 paket, Bulakamba 412 paket, Brebes 412 paket, dan Wanasari 408 paket. Total 2.056 penerima manfaat.
Program Wardoyo menjadi langkah strategis Pemkab Brebes untuk memperkuat jaring pengaman sosial dan menekan angka kemiskinan. Dalam sambutan yang dibacakan Subandi, Bupati menegaskan bantuan ini bentuk kepedulian agar tidak ada warga yang merasa tertinggal menghadapi kesulitan hidup.
Bantuan disalurkan langsung dan terjadwal oleh Dinsos Brebes bersama pemerintah kecamatan. Kepala Dinsos Imam Baehaqi menyebut penyaluran dilakukan tertib dan tepat sasaran. Bupati Brebes juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang memastikan distribusi berjalan lancar di seluruh wilayah.
Penerima manfaat Umairoh mengaku bersyukur. “Alhamdulillah, bantuan ini sangat membantu kebutuhan keluarga kami. Terima kasih Ibu Bupati atas perhatian kepada masyarakat kecil seperti kami. Semoga Ibu selalu diberi kesehatan dan keberkahan memimpin Brebes,” ujarnya. Baginya, Wardoyo adalah bukti nyata pemerintah hadir di tengah tekanan ekonomi warga.

Wardoyo Tahap I 2026 bukan sekadar bagi-bagi sembako. Di tengah fluktuasi harga pangan dan beban hidup yang makin berat, 2.056 paket ini adalah pesan tegas: pemerintah daerah tidak tinggal diam. Program ini jadi bantalan sosial, sekaligus ujian konsistensi. Tantangannya sekarang bukan hanya menyalurkan, tapi memastikan dampaknya terasa sampai dapur warga. Sebab jaring pengaman sosial yang kuat bukan diukur dari seremoni penyerahan, melainkan dari perut yang tak lagi lapar.
Pungkasnya, Wardoyo harus jadi pengingat: kemiskinan tidak selesai dengan satu paket bantuan, tapi kepedulian yang terus-menerus adalah awal dari harapan yang nyata.***
(Agus)














