GarudaXpose.com | Lumajang – Lumajang ditetapkan sebagai daerah percontohan nasional implementasi program Benteng Bencana Indonesia, sebuah model kolaboratif yang menempatkan ketahanan masyarakat sebagai fondasi utama dalam penanggulangan bencana. Program ini menandai penguatan strategi mitigasi yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kesiapan sosial, ekonomi, dan edukasi masyarakat di wilayah rawan.
Peluncuran program tersebut ditandai dengan pelepasan Unit Mobile Museum di Lobby Kantor Bupati Lumajang, Rabu (13/5/2026). Kegiatan ini dihadiri unsur pemerintah daerah, kepala OPD, camat, kepala desa kawasan terdampak Semeru, serta sejumlah lembaga mitra yang bergerak di bidang edukasi kebencanaan.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menyampaikan bahwa terpilihnya Lumajang sebagai pilot project nasional merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan masyarakat, terutama di kawasan yang selama ini hidup berdampingan dengan risiko erupsi Gunung Semeru dan bencana hidrometeorologi lainnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, Kabupaten Lumajang memiliki tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi. Dari 13 jenis potensi bencana di Indonesia, sebanyak 12 di antaranya terdapat di Lumajang. Kondisi tersebut menjadikan daerah ini sebagai salah satu wilayah dengan tantangan mitigasi paling kompleks di Jawa Timur.
Berdasarkan data tahun 2025, tercatat sebanyak 161 kejadian bencana terjadi di Lumajang. Salah satu yang paling berdampak adalah erupsi Gunung Semeru pada November 2025 yang melanda wilayah Kecamatan Pronojiwo, khususnya Desa Supiturang. Dampaknya tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat dan memengaruhi kondisi sosial warga.
Menurut Bupati, penanganan bencana selama ini kerap dipahami sebatas pembangunan kembali fasilitas umum atau pemulihan infrastruktur. Padahal tantangan paling berat justru muncul pada fase pascabencana, ketika masyarakat harus kembali membangun kehidupan, memulihkan pendapatan, serta menghadapi trauma sosial yang tidak selalu terlihat.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang mendorong penguatan ekonomi masyarakat terdampak sebagai bagian penting dari proses pemulihan. Pelatihan keterampilan, pemberdayaan usaha kecil, hingga penumbuhan sumber ekonomi baru menjadi strategi yang dipandang penting untuk mengurangi kerentanan warga pascabencana.
Banyak penyintas yang kehilangan pekerjaan atau tidak lagi dapat menjalankan mata pencaharian seperti sebelumnya. Dalam kondisi itu, pemulihan tidak cukup hanya dengan bantuan logistik atau rehabilitasi bangunan, tetapi juga harus menyentuh aspek keberlanjutan ekonomi keluarga.
Selain itu, edukasi kebencanaan menjadi pilar penting dalam program Benteng Bencana Indonesia. Kehadiran Mobile Museum diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya pelajar, mengenai karakter bencana, sejarah kejadian, serta langkah mitigasi yang tepat saat kondisi darurat.
Pemerintah menilai literasi kebencanaan merupakan investasi jangka panjang untuk menekan risiko korban jiwa. Masyarakat yang memahami ancaman dan prosedur penyelamatan akan memiliki kesiapsiagaan lebih baik dalam menghadapi situasi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Program ini juga menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana membutuhkan kolaborasi multipihak. Keterlibatan pemerintah, yayasan sosial, komunitas, hingga masyarakat desa menjadi kekuatan bersama dalam membangun sistem ketahanan yang lebih berkelanjutan.
Bagi Lumajang, program ini bukan sekadar proyek percontohan, tetapi bagian dari upaya membangun budaya tangguh di tengah wilayah yang hidup dalam ancaman bencana berulang. Ketahanan sejati, pada akhirnya, tidak hanya diukur dari kokohnya infrastruktur, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk tetap bertahan, bangkit, dan melanjutkan kehidupan dengan lebih siap.










