Kampus di Persimpangan Zaman: Mencari Ruh Ilmu di Tengah Ambisi Gelar

- Penulis

Senin, 30 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saya datang siang itu, ketika matahari Jember tidak sedang bersahabat. Halaman kampus UIN KHAS Jember tampak lengang, hanya sesekali mahasiswa berlalu dengan langkah tergesa. Di salah satu ruang yang sederhana, M. Yahya, S.Pd., M.Pd. menyambut dengan senyum yang tidak dibuat-buat tenang, tapi menyimpan gagasan yang tampaknya tidak sederhana. Percakapan kami mengalir tanpa basa-basi panjang. Ia bercerita seperti seseorang yang sedang merumuskan kegelisahannya sendiri. “Menjadi dosen di sini bukan keputusan administratif,” katanya pelan, seolah memilih setiap kata. “Ini panggilan. Kalau boleh dibilang, semacam jihad melalui pendidikan.”

Di Jember ini, geliat pendidikan tinggi memang bergerak dalam diam namun pasti. Ia tidak lagi sekadar soal bangunan kampus, ruang kelas, atau toga wisuda. Di balik itu, ada pergulatan panjang tentang makna ilmu, arah pendidikan, dan identitas yang terus dinegosiasikan. Bagi Yahya, mengajar adalah cara mengabdi bukan hanya pada institusi, tetapi pada gagasan besar tentang pendidikan Islam yang relevan dengan zaman. “Saya ingin berkontribusi pada almamater, sekaligus membangun pendidikan Islam yang mampu mengintegrasikan nilai spiritual dan akademik,” ujarnya. Kesadaran itu pula yang membawanya melanjutkan studi doktoral. Namun, lagi-lagi, ini bukan soal gelar. Ia tengah mendalami konsep joyful learning environment berbasis nilai Islami sebuah pendekatan yang berupaya menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan tanpa kehilangan dimensi religius. “Pembelajaran itu tidak harus kaku,” katanya, kali ini sedikit lebih tegas. “Justru ketika mahasiswa merasa nyaman dan bahagia, nilai-nilai itu lebih mudah tertanam.” Ia tidak berhenti pada gagasan. Yahya ingin konsep itu keluar dari ruang disertasi, masuk ke ruang kelas, danjika mungkin menjadi model pembelajaran baru dalam Pendidikan Agama Islam. Targetnya terdengar idealistis: melahirkan generasi religius yang moderat sekaligus unggul secara akademik. Namun di luar idealisme itu, realitas pendidikan tinggi di Jember menunjukkan wajah yang lebih rumit. Kota ini pelan-pelan berubah menjadi arena kompetisi. Kampus negeri dan swasta berlomba membangun sistem digital, memperkuat citra, dan menawarkan program unggulan. Dalam lanskap seperti itu,diferensiasi bukan lagi pilihan melainkan keharusan. “Kalau tidak punya pembeda, kita akan sulit bersaing,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konteks itu, ia melihat UIN KHAS Jember berada di posisi strategis: sebagai rujukan pendidikan Islam di wilayah Tapal Kuda, dengan kekuatan pada integrasi keilmuan dan spiritualitas. Namun ia tidak menutup matapekerjaan rumah masih menumpuk, terutama pada fasilitas dan produktivitas riset. “Identitas sebagai kampus Islam inklusif itu sudah ada,” katanya, “tapi masih dalam proses penguatan.” Sementara itu, mahasiswa datang dengan wajah yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka lebih rasional, lebih selektif, dandalam banyak kasuslebih pragmatis. “Sekitar 60 sampai 70 persen mempertimbangkan prospek kerja,” ungkapnya. Namun, di sela-sela pragmatisme itu, Yahya masih melihat sisa idealisme. Masih ada mahasiswa yang memilih ilmu bukan karena pasar, tetapi karena keyakinan.

Di titik ini, percakapan kami sempat melambat. Yahya menarik napas sejenak, sebelum masuk pada isu yang lebih mendasar: kesenjangan antara dunia kampus dan dunia kerja. “Kita harus jujur,” katanya, “ada gap antara kurikulum teoretis dengan kebutuhan industri yang berubah sangat cepat.” Ia mengakui lulusan UIN KHAS Jember cukup kuat secara moral dan etika. Tetapi itu saja tidak cukup. Dunia kerja menuntut lebih: keterampilan, adaptasi, dan literasi teknologi. Akibatnya, mahasiswa mulai mencari jalan lain sertifikasi non-gelar, pelatihan tambahan, bahkan belajar mandiri di luar kampus. Fenomena ini, menurut Yahya, bukan ancaman. Justru alarm. Responsnya: pembaruan metode belajar. Ia menyebut project-based learning sebagai salah satu jalan keluar. Model ini mampu menjembatani teori dan praktik, sekaligus membuat pembelajaran lebih hidup. “Tidak hanya transfer ilmu,” ujarnya, “tapi juga pengalaman.”

Namun, seperti banyak gagasan lain di kampus, implementasi selalu berhadapan dengan realitas. Modernisasi digital belum sepenuhnya tuntas. Publikasi ilmiah masih tertatih. Tata kelola organisasi belum sepenuhnya lincah. Di titik ini, Yahya menyinggung satu hal yang jarang dibicarakan terang-terangan: dosen muda. “Potensinya besar,” katanya, “tapi sering terbentur sistem dan beban administratif.” Ia juga menyoroti layanan akademik yang, menurutnya, harus berubah. Bukan sekadar cepat, tetapi juga berkarakter. “Birokrasi kampus harus mencerminkan akhlakul karimah ramah, responsif, memudahkan.” Ketika saya menyinggung perannya sebagai dosen muda, Yahya tersenyum tipis. Jawabannya singkat, tapi padat. “Kami ini jembatan,” katanya. “Antara tradisi pesantren dan inovasi modern.” Ia menyebut nama Kiai Haji Achmad Siddiq sebagai rujukan nilai yang tidak boleh hilang, meski kampus terus bergerak ke depan. Menjelang akhir percakapan, saya bertanya tentang masa depan. Yahya tidak terdengar ragu. Ia membayangkan UIN KHAS Jember sebagai pusat kajian Islam integratif yang diakui secara global, bahkan di Asia Tenggara. Tapi ia sadar, mimpi itu membutuhkan fondasi: budaya riset yang kuat dan layanan akademik yang berkualitas. Wawancara itu berakhir di siang yang masih menyengat dengan satu kalimat sederhana yang tertinggal: “jangan hanya mengejar gelar, carilah keberkahan ilmu.” Dari ruang yang perlahan kembali sunyi itu, sebagai pewawancara, saya menyimpulkan: mencari ilmu bukan perjalanan tenang, melainkan arena pertarungan antara idealisme dan realitas, antara nilai dan tuntutan zaman.

Penulis : andi suprapto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

“Board of Peace dan Ilusi Perdamaian: Pemantik Indonesia Menuju Ambang Negara Gagal”
Polisi datang kesekolah waspadai narkoba dan kenakalan remaja
Meresmikan kantor baru bupati Padang lawas ajak sinergi untuk pelayanan lebih baik
Mako Laporkan Dugaan Pungli Oknum Sekolah SMPN 02 Tungkal Jaya Muba, Dugaan KKN Dana BOS dan Dana PSG SMPN 2 Tungkal Jaya Muba Tahun 2021 – 2025 Ke Kejati Sumsel
Khatam Al-Qur’an dan Doa Bersama Pemkab Padang Lawas Sambut Kantor Bupati Baru dengan Spiritualitas
Pergerakan Arus Balik Lebaran Masih Tinggi, Polres Jember Gelar KRYD
Keindahan Alam Objek Wisata Sejuk dan Asri Pegunungan Lembah Daun
Balita yang di temukan di spbu hutalombang Padang lawas berhasil reuni dengan orang tuanya

Berita Terkait

Senin, 30 Maret 2026 - 18:07 WIB

Kampus di Persimpangan Zaman: Mencari Ruh Ilmu di Tengah Ambisi Gelar

Senin, 30 Maret 2026 - 15:11 WIB

“Board of Peace dan Ilusi Perdamaian: Pemantik Indonesia Menuju Ambang Negara Gagal”

Senin, 30 Maret 2026 - 12:41 WIB

Polisi datang kesekolah waspadai narkoba dan kenakalan remaja

Senin, 30 Maret 2026 - 11:53 WIB

Meresmikan kantor baru bupati Padang lawas ajak sinergi untuk pelayanan lebih baik

Senin, 30 Maret 2026 - 08:35 WIB

Mako Laporkan Dugaan Pungli Oknum Sekolah SMPN 02 Tungkal Jaya Muba, Dugaan KKN Dana BOS dan Dana PSG SMPN 2 Tungkal Jaya Muba Tahun 2021 – 2025 Ke Kejati Sumsel

Berita Terbaru

Uncategorized

Kampus di Persimpangan Zaman: Mencari Ruh Ilmu di Tengah Ambisi Gelar

Senin, 30 Mar 2026 - 18:07 WIB

Uncategorized

Polisi datang kesekolah waspadai narkoba dan kenakalan remaja

Senin, 30 Mar 2026 - 12:41 WIB